A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 23 November 2017
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME EDITORIAL HEADLINE DEPARTMENT REGULAR SUBSCRIPTION ARCHIVE    
   
 
  • Cyb3r001

    uploads/slide/sd.jpg

    Hacked By Cyb3r001 was here

 
 
Book Insight

BERPELESIR DI JALAN JAKSA

 

Judul:  
Sustainable urban tourism in an Asian mega-city  
Studi Kasus Kawasan Jalan Jaksa Jakarta
Pengarang: Hendra Siry, Ph.D.

Meski bukan utama, Ibukota satu negara jadi tujuan penting dalam pariwisata berkat tersedianya fasilitas memadai bagi pelancong, mulai dari akomodasi, makanan, dan jaringan transportasi. Selain itu suguhan seni budaya yang beragam serta sejarah yang kental dipastikan
menjadi informasi menarik untuk ditelusuri.

Termasuk Jakarta, yang menjadi pusat kegiatan wisata di Indonesia. Pelancong bisa memilih
liburan sesuai kantong, mulai dari backpacker sampai layanan bintang lima, lengkap tersedia!
Bagi wisatawan asing yang mau ke Indonesia, nama Jalan Jaksa sudah lebih dikenal lebih
baik ketimbang lokasi lain di  Ibukota, terutama bagi pecinta backpacker. Bagi pelancong
yang butuh wisata murah, lokasi mendukung karena menyediakan akomodasi terjangkau.

Lokasinya strategis, terletak di pusat kota, tepatnya di selatan Monumen Nasional, Jakarta Pusat. Banyak hotel, pedagang kaki lima, kafe dan restoran yang relatif murah disekitar Jalan Jaksa.
Jalan Jaksa awalnya tumbuh dari pemukiman perkampungan dalam kota. Dalam perjalanannya,
dikembangkan menjadi kawasan pemukiman padat dan banyak wisatawan berdatangan.

Berkat pemasukan signifkan dari wisatawan yang datang, akhirnya,banyak pemukiman warga yang diubah menjadi fasilitas pendukung,  seperti losmen, ruang kantor untuk agen perjalanan, ruko,
sampai kafe kecil (warung). Pengembangan Jalan Jaksa menjadi sentra pariwisata dikembangkan swadaya oleh masyarakat. Pada 1997, Jalan Jaksa dinyatakan sebagai contoh yang baik bagi kegiatan masyarakat terpadu di Ibukota, apalagi Jakarta digolongkan sebagai pintu gerbang
kedua dalam pariwisata perkotaan di wilayah Asia. 

Distrik Wisata

Industri pariwisata di kawasan Asia telah menyaksikan fenomena banyaknya jumlah wisatawan
independen atau backpacker. Setiap kota Asia, terutama di kota besar memiliki sebuah distrik
wisatawan. Hongkong misalnya, punya Jalan Nathan berpusat di Chungking Mansions dan Mirador,
Jakarta ada Jalan Jaksa, atau Bangkok di Khao San Road.

Keberhasilan Khao San Road dikenal sebagai pintu gerbang utama backpacker untuk Negara Asia bisa jadi pelajaran bagaimana cara menarik wisatawan. Lokasi ini menawarkan semua layanan
pada pelancong, mulai dari aplikasi pembayaran visa, menyediakan layanan 24 jam tukar mata uang, dan tiket pesawat murah. Strategi pemasaran untuk Khao San untuk promosi ke seluruh dunia menggunakan beberapa metode multi media, seperti adanya situs khusus Khao San Road yang sangat informatif dan sekaligus memposisikan diri sebagai “Gateway to Southeast Asia” (Pintu
gerbang ke Asia Tenggara).

Kembali ke Jalan Jaksa, diperlukan prinsip berkesi-nambungan sebagai upaya menjamin keberlanjutan pengembangan pariwisata di tempat ini. Urban Environmental Management Programme (2000) membuat pedoman dan prinsip dasar untuk menciptakan pariwisata yang berkesinambungan, yakni partisipasi, keterlibatan pemangku kepentingan, kepemilikan lokal, sumber daya yang berkesinambungan, tujuan masyarakat, dukungan, pengawasan dan evaluasi, akuntabilitas,pelatihan dan promosi.

Juga ada 18 prinsip dasar pariwisata dari internasional The Economic and Social Commission for Asia and the Pacifc (UNESCAP, 2000). Defnisi pariwisata yang berkesinambungan dibuat oleh beberapa peneliti dan organisasi pariwisata sejak akhir 1980-an, ketika sustainable tourism (pariwisata yang berkesinambungan) menjadi populer dibidang penelitian.

Organisasi pariwisata dunia, World Trade Organization (WTO) dalam bukunya “What tourism managers need to know” mengusulkan 13 (tiga belas) indikator untuk pengetahuan yang lebih baik dalam mengelola sektor pariwisata yang berhubungan dengan lingkungan.

Analisis Situasional

Dalam perjalanannya, Jalan Jaksa sudah melewati berbagai kondisi karena lokasinya yang di Ibukota sekaligus pusat pemerintahan. Ada perbedaan aktivitas wisata masa lalu dan saat ini di Jakarta dan dijelaskan dengan analisis situasional.

Menggambarkan bagaimana situasi sebelum dan sesudah masakrisis ekonomi dan politik yang
sempat bergejolak di Indonesia. Efektivitas kota besar Jakarta dalam mengelola daerahnya akan
mempengaruhi pariwisata di JalanJaksa. Sebelum krisis ekonomi tahun1997, pertumbuhan ekonomi Jakarta cukup tinggi. Mencapai 9,16 persen pada 1996 dan menurun menjadi 5,01 persen padpertengahan 1997. Pendapatan domestik bruto dan pertumbuhan pendapatan per kapita menurun masing-masing 4,7 persen dan 3,1 persen. Menurut data BPS, pariwisata merupakan sektor kedua terkena dampak krisis ekonomi 1998 di bawah industri keuangan.

Pariwisata masih menjadi sektor terbesar kedua untuk berkontribuspada PDB Indonesia setelah ekspominyak dan gas alam (DepartemenKebudayaan dan Pariwisata, 2001)Latar belakang sejarah dan pola pertumbuhan kawasan Jalan Jaksa juga menarik untuk diperhatikan. Berbagai profl dan tipologi wisatawan, analisis pemangku kepentingan, perencananaan pariwisata dan manajemen kualitas layanan di Jalan Jaksa menjadi perhatian utama.

Pola pertumbuhan Jalan Jaksa mirip dengan pertumbuhan daerah di kota-kota lain di Indonesia yang menjadi tujuan wisata, seperti Sosrowijayan dan Prawirotaman di Yogyakarta atau Kuta di Bali yang tumbuh dan dikembangkan oleh masyarakat setempat.

Jalan Jaksa dapat digambarkan menjadi magnet bagi para backpacker, dengan menawarkan kesempatan untuk para backpacker berinteraksi satu sama lain dan tempat dimana wisatawan dapat mengekspresikan diri mereka. Backpacker merupakan potensi sumber pendapatan , namun
Pemerintah Indonesia belum menaruh perhatian lebih untuk segmen pasar ini. Saat ini, internet adalah salah satu saluran komunikasi penting yang membuat Jalan Jaksa terkenal sebagai pusat
akomodasi murah dan strategis di Jakarta.

Ada kelebihan tentu masih ada kekurangan. Setidaknya ada dua kecenderungan minor aktivitas
pariwisata di Jalan Jaksa, yaitu sebagai tempat penyalahgunaan narkoba dan tempat prostitusi.
Namun, Pemerintah Daerah selaku pemegang keputusan berusaha mendongkrak kembali citra Jalan Jaksa dan mewakili Jakarta tempo dulu, dengan menyelenggarakan Festival Jalan Jaksa setiap tahun.

Festival ini juga bertujuan untuk meningkatkan promosi pariwisata dan meningkatkan popularitas Jalan Jaksa serta pelestarian budaya Betawi. Festival ini menampilkan tari betawi, teater dan music, pertunjukan modern yang popular, pameran seni dan fotograf, festival jajanan dan suvenir.

Rekomendasi

Ada beberapa strategi dan rekomendasi untuk membuat pariwisata perkotaan terus berkesinambungan, untuk Jalan Jaksa diusulkan beberapa masukan, yakni meningkatkan infrastruktur, pemasaran pariwisata, dan acara khusus yang berkesinambungan.Dengan menggunakan analisis SWOT, menghasilkan kerangka kerja untuk mengidentifkasi masalah-masalah kritis terhadap situasi yang ada di Jalan Jaksa.

Dalam studi ini, SWOT dilakukan untuk menentukan kekuatan internal dan kelemahan situasi
pariwisata saat ini di Jalan Jaksa, aspek sosial ekonomi, aspek organisasi dan kebijakan dan
strategi pariwisata. Selain itu juga menganalisa peluang dan ancaman yang signifkan yang
mempengaruhi pariwisata di Jalan Jaksa.

Secara keseluruhan, terdapat referensi yang komprehensif dan ringkas tentang manajemen pariwisata dengan prinsip pariwisata yang berkesinambungan. Menjadi sumber bernilai bagi pebisnis
dan pemilik modal, pengajar, mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat dan lembaga pemerintah.

Tentang Pengarang: Penulis Indonesia yang karyanya di publikasikan internasional. Buku ini merupakan sebuah hasil penelitian tentang pariwisata di Jakarta, dengan menggunakan Jalan Jaksa sebagai daerah penelitiannya.

Ringkasan: Penelitian ini membatasi permasalahan tentang bagaimana membuat pariwisata di Jalan Jaksa berkesinambungan, yang berkaitan dengan pendekatan partisipatif dari masyarakat
setempat dan bisnis pariwisata di Jalan Jaksa dan sekitarnya. Studi ini tidak mengeksplorasi secara mendalam semua faktor eksternal yang mempengaruhi kegiatan wisata di Jalan Jaksa, seperti aspek politik, tetapi lebih menekankan pada manajemen, aspek organisasi dan regulasi.

 

Oleh: Yayan Mardianah

 

KONSULTASI
Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
[selengkapnya]


 











HEADLINE :


  

 

 

heading

K O B I S

Wani Piro

Point of View

MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
BUKAN SUPERMAN!

Closer With

PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

Finance

Disiplin Administratif:
Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

Talent Behavior

Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

EXPLORE

Merek-Merek Penanda Zaman Baru

Operations 

SEGITIGA EMAS

Marketing

BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

 
KONFLIK KEKUASAAN
 
SEDERHANA ITU...
SEMPURNA!

 
 
TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

BIZPEDIA

KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

BOOK INSIGHT

David and Goliath Malcolm Gladwell
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
Agustus - November 2012
 
Vol. 5 No. 2
 
 
 
 
 
 
April - Juli 2012
 
Vol. 5 No. 1
 
 
 
 
 
 
Desember 2011 - Maret 2012
 
Vol. 4 No. 3
 
 
 
 
 
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
 
Vol.4 No.2
 
 
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
April s/d Juli 2011
 
Vol. 4 No. 1
 
 
 
 
 
 

 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Desember 2010 s/d Maret 2011

VOL. III NO. III
 
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Agustus s/d November 2010
 
VOL. III NO. II
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
April s/d Juli  2010
 
VOL. III NO. I
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
 
VOL. II NO. III
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
 
VOL. II NO. II 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
APRIL S/D JULI 2009
 
VOL.II NO.I 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
 
VOL.I NO.III
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
 
VOL.I NO.II

Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

JURNAL INTEGRITAS

MAI 2008

VOL.I NO.I 

Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
 
 
 
 

buku 



Untuk melihat preview klik Cover ini!

Untuk berlangganan klik Di Sini!
 
//

Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
      Sangat Sesuai
      Cukup Sesuai
      Kurang Sesuai




Unique Visits Today: 14
Hits Today: 108
Total Unique Visits: 362586
Total Hits: 24361562
Guests Online: 1


   
   

  MENU HOME:




  MENU JOURNAL:




  MENU FORUM:


PMBS Publishing   
www.management-update.org | copyright © 2017