A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 24 August 2017
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME EDITORIAL HEADLINE DEPARTMENT REGULAR SUBSCRIPTION ARCHIVE    
   
 
  • Cyb3r001

    uploads/slide/sd.jpg

    Hacked By Cyb3r001 was here

 
 
Oleh : Ade Febransyah

SEDERHANA ITU...

SEMPURNA!

 

 Inovasi sebenarnya bukanlah tentang hal yang berlebihan.
Inovasi sejatinya tentang kesederhanaan.

Awalnya adalah Genesis!
Awalnya adalah pengibar rock progresif asal Inggris raya di tahun 70-an.
Awalnya adalah idealisme tinggi anak-anak muda dalam bermusik.
Awalnya adalah sintesis kejelimetan dan keindahan yang sengaja
membatasi jumlah penggemar.

Namun, halaman-halaman buku dari sosok-sosok utama mereka menjadi begitu berwarna. Musik mereka tidak lagi mengawang tinggi, tapi menukik menghujam bumi. Yang tadinya eksklusif,
bermetamorfosis menjadi ketulusan merangkul keberagaman. Peter Gabriel, Phil Collins. Terima kasih untuk semuanya.

Menjadi lebih sederhana.   Kesederhanaan yang tidak sembarangan. Kesederhanaan yang tinggi derajad nilainya. Kesederhanaan, sejatinya, yang tidak membosankan. Perjalanan panjang para jedi musik tersebut sungguh menginspirasi siapapun, termasuk penginovasi. Jebakan Out of the BoxInovasi tiada henti dibicarakan.

Hampir tidak ada perusahaan yang tidak mengakui pentingnya inovasi. Mantra  innovate or die  pun diamini. Namun kenyataannya, hanya segelintir saja yang pantas disebut penginovasi sejati. Silahkan saja lihat keseharian yang dijalani siapapun di perusahaan. Hampir seluruh waktu mereka tersita untuk urusan eksekusi. Mendapatkan pelanggan, menjaga kualitas layanan, mengeliminasi segala pemborosan, dstnya menjadi rutinitas. Rutinitas yang relevan hanya dan hanya jika lanskap persaingan bisnis tidak berubah.

Tapi perubahan adalah suatu keniscayaan. Lalu mulai diliriklah inovasi sebagai strategi untuk menjamin keberlangsungan perusahaan di masa depan. Inovasi dilihat sebagai kunci pembuka pintu-pintu pertumbuhan perusahaan. Sayangnya, ketika inisiatif inovasi bermunculan, dengan cepatnya manajemen membunuh inisiatif tersebut.  Show me the money adalah mentalitas miopik yang timbul dari ketidaksabaran menikmati proses berinovasi.

Akhirnya yang terjadi adalah mempertahankan kenyamanan. Inovasi menjadi begitu mahal untuk sebuah kewajaran. Bagi yang percaya dengan inovasi ternyata harus melewati perjalanan panjang yang bisa menyesatkan. Di awal perjalanan, kelembaman untuk melihat what’s next  begitu membutakan pelakunya. R&D yang tidak murah dijalankan untuk menjemput oportunitas inovasi.

Disini, kemampuan melihat menjadi keharusan. Di tengah ketidakjelasan yang menyelimuti tahapan awal inovasi, tuntutan  untuk  berfkir  dan melihat  out of the box justeru semakin membutakan. Bagaimana tidak? Dalam rutinitas keseharian yang menyita waktu adalah suatu yang hampir mustahil untuk lompat dari pagar kenormalan siapapun di perusahaan. Materi yang disampaikan dalam pelatihan manajemen inovasi tentang  out of the box hanya segar di dalam kelas.

Kembali ke perusahaan masing-masing, peserta kembali pada kebuntuan menemukan ide inovasi.
Sebenarnya inovasi bukan tentang hal yang berlebihan. Inovasi sejatinya tentang kesederhanaan. Silahkan lihat evolusi yang terjadi pada bingkai kacamata. Versi kunonya berbentuk bulat tanpa  nose pads. Kacamata langsung hinggap di batang hidung penggunanya; tidak mudah bergeser atau naik turun. Sesederhana itu. Namun dalam perjalanannya, bentuk kacamatapun berubah sesuai dengan jamannya.

Bulat dengan bingkai tipis menjadi masa lalu. Sekarang, dominasi bentuk kotak dengan keragaman bingkai menjadi pilihan. Memilih kacamata tidak lagi sederhana. Seringkali, demi mengejar kekinian jaman, bingkai terbaru langsung dipilih tanpa menyadari kesesuaian
dengan kontur wajah. Ketika ini yang terjadi, fungsionalitas bingkai yang seharusnya memberikan kenyamanan kepada penggunanya tidak terpenuhi. Secara emosional, identitas dan pesan yang ingin disampaikan penggunanya kepada orang lain juga tidak kesampaian.

Contoh produk bingkai kaca mata di atas memperlihatkan pembuat kacamata yang seringkali tidak memahami siapa penggunanya. Membanjiri pasar Asia dengan produk yang didesain untuk pasar Eropa merupakan ketidakempatian pembuat produk kepada penggunanya. Berbagai bentuk
out of the box   dikampanyekan sebagai bentuk modernitas.

Materi yang disampaikan dalam pelatihan manajemen
inovasi tentang "out of the box" hanya segar
di dalam kelas.

Yang tidak mengikuti  berarti ketinggalan jaman. Pengguna yang terjebak dengan kampanye tersebut kadang bangga dengan kejanggalan yang diperoleh. Padahal inovasi seharusnya
menawarkan keunikan bukan kejanggalan. Pemikiran out of the box juga sempat memerangkap perusahaan sekelas GE. Peralatan ultrasound berteknologi canggih dari GE Healthcare tidak memberikan hasil memuaskan di pasar Tiongkok.

Dengan harga mulai dari $100,000, peralatan dengan kekayaan spesifkasinya di luar jangkauan rumah sakit sederhana yang melayani masyarakat kebanyakan. Hal ini memaksa GE untuk mendesain ulang konsep produk mereka. Lewat pendekatan inovasi terbalik (reverse innovation), GE berhasil menawarkan peralatan yang jauh lebih sederhana, portabel, tetap fungsional dan yang
terpenting terjangkau harganya menjadi $15,000 saja (Govindarajan dan Trimble, 2012). Pelajaran sederhana buat para penginovasi. Jangan berikan sesuatu yang tidak dihargai masyarakat penggunanya.

Cukup ‘good enough”

Seperti ilustrasi pembuka yang menjelaskan banyak musisi mengejar kemampuan teknik semata,
penginovasi-pun melakukan hal yang sama.  Menawarkan  banyak  ftur-ftur kemanfaatan menjadi suatu keharusan. Selain kelengkapan, kehebatan performa semua  ftur  juga  menjadi  obsesi.  Di
industri otomotif misalnya, apakah benar ada kendaraan yang murah, nyaman, irit bahan bakar, mudah perawatan, membanggakan dan juga hijau? Kalaupun ada, itu sebatas kampanye kreatif
para pabrikan memoles produk yang sebenarnya hanya murah saja.

Kenyataannya, penginovasi bukanlah pemaksimisasi nilai, yang mampu menghasilkan produk superior dengan segala dimensi keunggulannya. Dalam berinovasi, pelakunya hanya perlu
menyiapkan kriteria desain yang ‘cukup baik’ saja. Kriteria cukup baik ini tentunya didasari value opportunity dari masyarakat yang ingin dilayani (Vogel dkk, 2005). Buat penginovasi, tantangannya
adalah memahami nilai yang lebih dihargai masyarakatnya, apakah pada nilai emosional atau fungsionalnya. Di era ekonomi inovasi yang semakin emosional sekarang ini, dimensi emosional menjadi lebih dominan ketimbang fungsionalnya.

Yang paling mudah untuk menjelaskan hal tersebut  adalah fenomena gelang karet berwarna-warni beberapa tahun silam. Penggunanya memakai gelang tersebut bukan karena adanya kebutuhan
fungsional, tapi lebih karena kebutuhan emosional. Warna tertentu diasosiasikan dengan  bentuk dukungan atau solidaritas terhadap gerakan tertentu. Menjadi kebanggaan untuk mendukung
perjuangan menghapuskan kemiskinan, membantu riset penanganan kanker dll.

Bahkan stiker universitas yang ditempel di kendaraan menjelaskan pemenuhan kebutuhan emosional pengendaranya. Mereka ingin memperlihatkan identitas sekaligus pesan ke orang lain tentang kehebatan almamaternya. Menyadari itu semua, jelas bagi penginovasi untuk tidak perlu menjadi ‘superman’ dengan  menghadirkan semua dimensi keunggulan ke dalam produknya.
Yang diperlukan hanyalah kriteria desain yang ‘good enough’ sesuai kebutuhan fungsional dan emosional penggunanya. Kesederhanaan dalam membatasi pemenuhan segala nilai kepada pengguna akan menentukan kesuksesan inovasi. Dalam berinovasi ada baiknya mengingat
pesan orang tua dulu. Berhentilah ketika cukup!

 

 

 

 

 

ADE FEBRANSYAH
Pemimpin Umum FMPM,
Ketua Center for Innovation
Opportunities & Development
(Cinodev)

 

KONSULTASI
Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
[selengkapnya]


 











HEADLINE :


  

 

 

heading

K O B I S

Wani Piro

Point of View

MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
BUKAN SUPERMAN!

Closer With

PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

Finance

Disiplin Administratif:
Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

Talent Behavior

Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

EXPLORE

Merek-Merek Penanda Zaman Baru

Operations 

SEGITIGA EMAS

Marketing

BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

 
KONFLIK KEKUASAAN
 
SEDERHANA ITU...
SEMPURNA!

 
 
TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

BIZPEDIA

KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

BOOK INSIGHT

David and Goliath Malcolm Gladwell
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
Agustus - November 2012
 
Vol. 5 No. 2
 
 
 
 
 
 
April - Juli 2012
 
Vol. 5 No. 1
 
 
 
 
 
 
Desember 2011 - Maret 2012
 
Vol. 4 No. 3
 
 
 
 
 
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
 
Vol.4 No.2
 
 
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
April s/d Juli 2011
 
Vol. 4 No. 1
 
 
 
 
 
 

 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Desember 2010 s/d Maret 2011

VOL. III NO. III
 
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Agustus s/d November 2010
 
VOL. III NO. II
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
April s/d Juli  2010
 
VOL. III NO. I
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
 
VOL. II NO. III
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
 
VOL. II NO. II 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
APRIL S/D JULI 2009
 
VOL.II NO.I 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
 
VOL.I NO.III
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
 
VOL.I NO.II

Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

JURNAL INTEGRITAS

MAI 2008

VOL.I NO.I 

Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
 
 
 
 

buku 



Untuk melihat preview klik Cover ini!

Untuk berlangganan klik Di Sini!
 
//

Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
      Sangat Sesuai
      Cukup Sesuai
      Kurang Sesuai




Unique Visits Today: 402
Hits Today: 16404
Total Unique Visits: 328182
Total Hits: 21633486
Guests Online: 26


   
   

  MENU HOME:




  MENU JOURNAL:




  MENU FORUM:


PMBS Publishing   
www.management-update.org | copyright © 2017