A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 23 November 2017
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME EDITORIAL HEADLINE DEPARTMENT REGULAR SUBSCRIPTION ARCHIVE    
   
 
  • Cyb3r001

    uploads/slide/sd.jpg

    Hacked By Cyb3r001 was here

 
 
Oleh: Fitra Kusumo

Dari Nihil Jadi Hasil

 

Bicara soal pariwisata dan segala hal yang berhubungan dengan pengelolaannya, ada tiga hal
yang setidaknya bisa membuat Indonesia iri pada Meksiko, yakni jalan tol, kontrol sehat
pemerintah pada opini publik, dan nasionalisme tinggi pada setiap individu di sana.

Hal pertama adalah jalan tol. Ruas-ruas tol di Meksiko hampir semua merata, tertata apik dan berkualitas dari sisi  kekuatan  fsik.  Mampu  menyatukan daerah-daerah yang terpencil di gurun
gersang, lembah maupun kotanya yang klasik dan terpelihara dengan baik. Jalan yang membelah gurun kaktus dan daerah tak bertuan namun menghubungkan dua daerah tertentu, punya kualitas yang sama dengan yang ada di kota besar.

Meski terbilang mahal, tarif tol yang dikenakan pengguna jalan sebagai akses penghubung antar provinsi realtif sesuai dengan pengelolaan yang diberikan. Jalan tol, bahkan menghubungkan Meksiko dengan Amerika Serikat. Hasilnya, pariwisata tumbuh dengan jaminan infrastruktur yang memadai dan membua semua biaya perjalanan murah. Memang, tidak seperti di Indonesia, di Meksiko biaya tiket pesawat terbang tetap jauh lebih mahal dibandingkan perjalanan darat via bus atau Metro, kereta bawah tanah semacam  commuter line di Indonesia.

Kedua, Meksiko begitu ketat dan awas dalam mengendalikan opini publik nasional terkait isu negara dan potensinya. Pembatasan dilakukan sedemikian rupa sehingga yang muncul dalam media terkait dengan nama baik, pariwisata, dan kepentingan nasional di hadapan dunia selalu positif.

hay poco de todo en Mexico“Semua ada di Meksiko meski sedikit”

Tak heran kalau di dalam negeri bisa jadi orang bicara soal ketidakadilan, pemerasan, kriminalitas dan sebagainya, namun di depan seorang turis semua itu bisa menjadi sebuah “hay poco de todo
en Mexico”, yang artinya “Semua ada di Meksiko meski sedikit”.

Ketiga, nasionalisme. Kecintaan terhadap negeri sendiri ini yang bisa membuat warga Indonesia iri pada Meksiko. Apalagi kalau sudah berbicara soal kreativitas dan perjuangan diplomat-diplomat Meksiko memperkenalkan bangsanya di hadapan orang asing. Tak heran kalau konsep pariwisata memang sepaket dari sistem budaya nasionalis yang sangat menguntungkan.Nasionalisme yang kuat itu tertanam terus-menerus lewat doktrin dan pemanfaatan media nasional yang secara
konsisten memasukkan selalu unsur Meksiko di dalam hati rakyat.

Terlepas dari segala busuknya sejumlah politikus, korupsi serta permasalahan permasalahan
lainnya, nasionalisme mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, baik langsung maupun tidak langsung.

Sumber Devisa

Bicara soal pariwisata pun tidak berbeda. Meksiko menerima sekitar 23 juta turis mancanegara dan mengantongi devisa negara sampai 12 miliar dollar AS per tahun. Kapal-kapal pesiar dari berbagai negara Eropa atau Amerika kerap lalu-lalang di pelabuhan dan kota-kota pantai Meksiko, memanjakan wisatawan dengan keindahan pantai dan kebudayaan unik, khas yang dimiliki negara ini.

Dari wisatawan domestik, Meksiko memiliki hari-hari high season tersendiri yang berbeda dengan yang ada di Asia. Musim liburan diatur pemerintah sehingga terus berlangsung sepanjang tahun. Misalnya, liburan musim panas berlangsung selama lebih dari 1 bulan, Natal selama 3 minggu, Paskah atau Semana Santa 2 pekan. Belum termasuk liburan nasional lain yang terkadang digeser mendekati hari akhir pekan untuk mendorong masyarakatnya beriwisata dan menghidupkan sektor ini di seluruh negeri.

 

Kebijakan pemerintah ini didukung oleh diskon tiket bus antar kota selama temporada de vacacion  (musim liburan) berlangsung. Di musim liburan ini (natal, paskah dan musim panas) pelajar dan
mahasiswa mendapat diskon sampai 50 persen, guru dan pengajar 25 persen, kaum lansia dan warga berkebutuhan khusus (penderita cacat) mendapat keringanan biaya perjalanan sampai 10 persen.

Integrasi

Meski pemerintah sudah mendukung dengan menyediakan infrastruktur dan pasar domestik maupun internasional berkat pencitraan positif, tetap saja pariwisata tidak bisa berdiri sendiri.
Integrasi antar sektor ekonomi begitu krusial untuk mengembangkan sektor ini. Pemerintah daerah misalnya, kalau cuma memegang teguh prinsip modal panorama alam indah saja tanpa pengembangan tentu belum cukup. Pariwista merupakan industri yang membutuhkan pendukung
sektor lain untuk bisa maju dan bertahan hidup.

Infrastruktur merupakan hal yang penting bagi pariwisata dan perkembangan industria. Akses ke situs-situs pariwisata juga sangat tergantung dari jalan dan ketersediaan jasa pendukung lain, seperti penginapan, restoran, serta kedai makan tradisional.

Sejak pemerintahan Presiden Felipe Calderon, Pemerintah Meksiko mencanangkan visi 2015. Salah satunya bicara soal titik berat sektor pariwisata. Dalam visi itu dicanangkan pembangunan infrastruktur terutama sektor perhubungan dan jalan. Selain untuk pemantapan Industri dan sektor
distribusi negara, juga agar meningkatkan daya tarik warga Meksiko untuk berwisata dan mengenal negerinya sendiri.Promosi yang efektif dan tanpa henti kepada masyarakat di sekitar tempat pariwisata gencar dilaksanakan.

Pencanangan gagasan kalau pemandangan alam terasa biasa bagi warga lokal, tapi bisa jadi spesial bagi pelancong asing. Otomatis menghasilkan nilai jual yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar. Slogan pariwisata yang terus didorong pelaksanaannya adalah
“potensikan wisata demi meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar”

Jantung

Denyut jantung kemajuan pariwisata di  negeri  Sombrero  ditopang  FONATUR (Fondo Nacional de Fomento al Turismo), lembaga khusus bernaung di bawah kementerian Pariwista, beroperasi
sejak 1977. Fungsinya, sebagai lembaga penggalangan dana investasi dan pembinaan pengembangan kawasan potensi pariwisata. Tugasnya mengembangkan kawasan-kawasan potensi wisata di seluruh negeri.

Dalam  perjalanannya  FONATUR  sudah berhasil menciptakan beberapa kawasan pariwisata terkemuka di dunia, seperti Cancun, Ixtapa, Nayarit, Los Cabos, Huatulco yang terletak di bagian utara, barat dan timur Meksiko. Seluruh daerah ini merupakan hasil pengembangan  wisata  kelas  atas  oleh  FORNATUR.

Setiap wilayah dikembangkan potensinya dengan mengadaptasi kebudayaan dan adat istiadat masing-masing daerah.Dalam perjalanannya, lembaga ini kemudian dibagi dalam tiga divisi utama, yaitu Divisi Pembangunan dan Investasi, Divisi Pemeliharaan, dan Divisi Pengelolaan.

Dana Investasi yang  masuk  ke  FONATUR  bukan  Cuma dari investor kelas kakap, tapi juga
berkucuran dari warga biasa yang diberi kesempatan  ikut menanamkan modalnya bersama pemerintah. Ini dilakukan agar masyarakat merasa memiliki situs-situs maupun kawasan pariwisata yang ada di tanah air mereka.

Cancun misalnya, sebelumnya hanya sebidang tanah di tanjung negara bagian Quintana Roo. Dengan sentuhan FONATUR  kemudian  dikembangkan sedemikian rupa dengan pembangunan
hotel-hotel berbintang, pemberian ke-mudahan izin untuk berinvestasi, dan menjadikan kawasan itu permata di kawasan Karibia. Kini, Cancun jadi salah satu tujuan wisata terpadat di Meksiko,
jutaan turis mancanegara, terutama Amerika Serikat, berkunjung ke sana.

Mulai sekedar liburan sekolah (springbreak), bersama keluarga pada musim panas, Natal, atau jelang tahun baru.Lokasi wisata ini berhasil menjadi daya tarik tersendiri bagi turis kelas
bintang lima, sehingga bukan hanya menguntungkan warga Quintana Roo, tetapi juga menjadi permata bagi seluruh warga  Meksiko. 

Untuk  mengembangkan potensi  lain,  FONATUR  dalam  beberapa tahun terakhir tengah membangun kawasan pariwisata lain di Huatulo, negara bagian Oaxaca bekerjasama dengan pemerintah setempat.

Melibatkan Lokal

FONATUR  mulai  membuka  lahan dengan memaksimalkan potensi yang ada dan melibatkan masyarakat lokal untuk berpartisipasi. Promosi yang tepat dan penyuluhan yang terus menerus pada masyarakat dapat mempercepat dan menyukseskan program-progam peningkatan potensi menjadi kawasan pariwisata. Penyuluhan tentang pentingnya koral dan penjagaan kelestariannya, dan penangkaran penyu misalnya, merupakan kampanye yang dapat menarik turis.

Dengan dengan adanya turis, otomatis kemampuan ekonomi kawasan itu akan ikut terkerek. Menstimulasi munculkan sarana penunjang lain seperti restoran, penginapan, warung-warung singgah, tempat hiburan malam, dan seterusnya.

 

Tentu  perencanaan  FONATUR  itu bukan merupakan program semalam kelar, namun berkesinambungan dalam jangka menengah, 25-50 tahun ke depan. Melihat Cancun 30 tahun lalu, tentu berbeda jauh dengan kondisi yang ada hari ini. Sebelumnya, cuma kedatangan sekitar 200.00 turis, kini menjadi lebih 3 juta orang dari seluruh penjuru dunia ikut memadati lokasi ini per tahun.

Jika menelisik semua program dan  yang  telah  dilakukan  FONATUR membangun industria pariwisata di Meksiko cukup menginspirasi. Apalagi bila membandingkan itu dengan Indonesia dalam mengelola pariwisatanya. FONATUR  melihat  Meksiko  sebagai Industri pariwisata yang punya potensi besar dan luas terutama melalui keindahan alam berupa pantai yang eksotik. Selain
menjual keindahan alamnya, Meksiko juga menawarkan keindahahan arsitektur kolonial yang hampir tersebar merata di setiap sudut kota.

Situs

Belum lagi ada peninggalan situs-situs bersejarah Suku Indian yang masih terpelihara apik, mulai dari Suku Maya Azteca sampai peninggalan Suku Totonaca, Raramuri, dan Tarahumara di sebelah utara Meksiko. Juga ada situs lain, seperti Tzichen Itza, komplek piramida Teotihuacan, sampai candi maupun piramida lain yang berukuran lebih kecil tersebar di seluruh pelosok negeri.

Bertanggung jawab pada masalah konservasi dan pengelolaan kawasan atau situs wisata, Meksiko mendirikan lembaga khusus,  Instituto Nacional de Antropologia e Historia  (INAH), sejak 1939. Tujuan utama INAH adalah melindungi, merenovasi, melestarikan, serta mempromosikan seluruh peninggalan bersejarah di Meksiko, baik dari sisi arkeologi, antropologi maupun sejarah.

Lembaga ini berperan penting dalam pelestarian budaya Meksiko baik di tingkat nasional maupun internasional. Sampai kini, INAH bertanggung jawab terhadap 110.000 monumen bersejarah
peninggalan abad 16-19. Sedangkan untuk peninggalan sejarah periode setelahnya (abad 20 ke depan) otoritas pengelolaan ditangani oleh  Instituto Nacional de Bellas Artes  (INBA).

INAH juga bertangung jawab pada pelestarian dan pemeliharaan lebih dari 29.000 situs bersejarah peninggalan suku Indian sebelum abad 16 (http://www.inah.gob.mx/). Tentu saja selain melakukan konservasi dan pelestarinan budaya, lembaga ini wajib mendorong warga Meksiko untuk mengunjungi situs arkeologi itu. Selain untuk menggiatkan industri pariwisata, warga juga bisa belajar sejarah jati diri dan leluhur mereka.

Kedatangan mereka juga sama saja memberikan penghasilan bagi perekonomian penduduk lokal, dengan pembangunan tempat penginapan, tempat makan, serta tempat peristirahatan lain.Selain,  FONATUR,  INAH,  dan institusi lain yang fokus pada pariwisata, Meksiko masih punya lembaga lain untuk mendukung industri ini. Misalnya, INBA (garda utama pelestari peninggalan sejarah
dan  seni  abad  ke-20),  CONACULTA (lembaga pengembang dan pelestari segala cakupan bidang seni Meksiko), FONART (yang bergerak di bidang seni kerajinan rakyat) kesemuanya di bawah
pemerintah federal yang bekerja secara kolaboratif dengan institusi-institusi lain yang terkait.

Sebaliknya, pemerintah juga menunjang pembangunan sarana transportasi, baik transportasi umum yang memadai, mendorong diskon-diskon perjalanan untuk pelajar/mahasiswa, guru dan kaum lansia, yang tiketnya disubsidi oleh pemerintah di masa liburan (musim panas, Natal dan Paskah).

 

KONSULTASI
Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
[selengkapnya]


 











HEADLINE :


  

 

 

heading

K O B I S

Wani Piro

Point of View

MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
BUKAN SUPERMAN!

Closer With

PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

Finance

Disiplin Administratif:
Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

Talent Behavior

Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

EXPLORE

Merek-Merek Penanda Zaman Baru

Operations 

SEGITIGA EMAS

Marketing

BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

 
KONFLIK KEKUASAAN
 
SEDERHANA ITU...
SEMPURNA!

 
 
TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

BIZPEDIA

KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

BOOK INSIGHT

David and Goliath Malcolm Gladwell
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
Agustus - November 2012
 
Vol. 5 No. 2
 
 
 
 
 
 
April - Juli 2012
 
Vol. 5 No. 1
 
 
 
 
 
 
Desember 2011 - Maret 2012
 
Vol. 4 No. 3
 
 
 
 
 
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
 
Vol.4 No.2
 
 
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
April s/d Juli 2011
 
Vol. 4 No. 1
 
 
 
 
 
 

 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Desember 2010 s/d Maret 2011

VOL. III NO. III
 
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Agustus s/d November 2010
 
VOL. III NO. II
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
April s/d Juli  2010
 
VOL. III NO. I
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
 
VOL. II NO. III
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
 
VOL. II NO. II 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
APRIL S/D JULI 2009
 
VOL.II NO.I 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
 
VOL.I NO.III
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
 
VOL.I NO.II

Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

JURNAL INTEGRITAS

MAI 2008

VOL.I NO.I 

Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
 
 
 
 

buku 



Untuk melihat preview klik Cover ini!

Untuk berlangganan klik Di Sini!
 
//

Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
      Sangat Sesuai
      Cukup Sesuai
      Kurang Sesuai




Unique Visits Today: 14
Hits Today: 106
Total Unique Visits: 362586
Total Hits: 24361560
Guests Online: 1


   
   

  MENU HOME:




  MENU JOURNAL:




  MENU FORUM:


PMBS Publishing   
www.management-update.org | copyright © 2017