A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 23 November 2017
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME EDITORIAL HEADLINE DEPARTMENT REGULAR SUBSCRIPTION ARCHIVE    
   
 
  • Cyb3r001

    uploads/slide/sd.jpg

    Hacked By Cyb3r001 was here

 
 
2010-03-07 12:20:44
PEMILU 2014: MASA BULAN MADU POLITIK DAN BISNIS?

Oleh : Sammy Kristamuljana

Masuknya pebisnis ke dalam partai menimbulkan harapan bahwa akan ada “dana murah” yang berasal dari dalam partai sendiri dan bukan “dana mahal” yang bersumber dari luar partai. Tetapi, seperti pepatah mengatakan: “Tidak ada makan siang gratis”.

Telah sejak lama masyarakat merasakan adanya hubungan saling membutuhkan antara politik dan bisnis. Tetapi, di Pemilu 2014 inilah semua orang bisa menyaksikan perilaku tanpa tedeng aling-aling tentang keberadaan hubungan tersebut. Karena selain dielu-elukan, pebisnis kondang yang bergabung ke dalam partai juga dianugerahi jabatan terhormat dalam hirarkhi organisasi
partai tersebut, misalnya Ketua Dewan Pakar, Ketua Dewan Pertimbangan dan Wakil Ketua Umum partai. 

Perilaku tanpa tedeng aling-aling tersebut terlihat seperti kebalikan dari perilaku pada masa Orde Baru. Ketika itu pebisnis penyumbang besar dana  partai  diperlakukan  bak  “isteri gelap”, dibutuhkan tetapi tidak pernah ditampilkan. Dalam era reformasi setelah kepemimpinan Gus Dur, pebisnis penyumbang besar dana mulai diakui secara resmi sebagai “kader partai”.

Bahkan di salah satu partai besar para kader partai ini bertindak lebih jauh lagi. Dengan kekuatan dana dan kemampuan manuvernya di internal partai mereka berhasil menduduki jabatan pimpinan
tertinggi partai. Dan pada tahun 2013, setahun sebelum Pemilu 2014, pebisnis yang merasa harapannya kurang terpenuhi dengan beraninya melakukan aksi  “bedol desa” pindah dari partai sebelumnya ke partai berikutnya.

Saling Memanfaatkan

Berbagai “kejutan”  yang  bersumber dari aksi pebisnis menjelang Pemilu 2014 menghapus sama sekali bayangan sedang  terjadinya  “bulan  madu  politik dan bisnis” dalam Pemilu 2014. Alih-
alih  hubungan  “serasi-selaras-seimbang” yang ditunjukkan adalah hubungan “dipaksakan-berbeda aras-berat sebelah”. Dipaksakan karena yang satu memaksa yang lain harus menerima syarat-syarat yang telah ditetapkan dimuka. Berbeda aras karena pihak yang satu berasumsi; kekuasaan dahulu, dana akan datang kemudian dan pihak yang lain berpandangan memiliki dana dahulu dan kekuasaanpun dapat dibeli. Berat sebelah karena yang satu memiliki sumber-sumber  “instan”  yang  paling  dibutuhkan untuk memenangkan Pemilu yaitu “dana”, sedangkan yang lain langka akan sumber itu.

Ketidakserasian selarasan seimbangan dalam hubungan antara politik dan bisnis yang mengemuka dalam Pemilu 2014 ini bisa ditelusuri akarnya paling tidak ke masa Orde Baru. Ekses dari kekuasaan selama masa itu membentuk pola  hubungan  “memanfaatkan  dan dimanfaatkan” antara politik dan bisnis. Dengan posisi tawarnya yang lebih kuat membuat politikus yang berkuasa ketika itu melihat peluang untuk memanfaatkan kekuasaannya mewujudkan cita-cita politik sekaligus kepentingan golongan dan pribadinya. Pebisnis sebagai pihak yang posisi tawarnya lebih lemah harus menerima kenyataan untuk dimanfaatkan kemampuannya menggali sumber-
sumber dana bagi kepentingan politikus selain untuk bisnis dan pribadinya. 

Selama masa ketika secara de jure dan de facto pola hubungan memanfaatkan dan dimanfaatkan itu tidak dapat diubah, yang tampak di permukaan adalah suatu keadaan keseimbangan semu (pseudo-equilibrium). Tetapi, di bawah permukaan pada masing-masing pihak sedang bekerja
“semacam” prinsip (karena sejatinya tidak tepat untuk diistilahkan demikian) yang saling berlawanan. Pada yang berkuasa bekerja  prinsip:  “Manfaatkan  jika  tidak ingin dimanfaatkan”. Pada yang dikuasai bekerja  prinsip:  “Dimanfaatkan  selama belum bisa memanfaatkan”.

Dengan bekerjanya kedua macam prinsip ini, maka hanya soal waktu bahwa bila terjadi perubahan perimbangan posisi tawar dari yang tadinya memanfaatkan akan dimanfaatkan, dan sebaliknya
yang tadinya dimanfaatkan akan memanfaatkan.  Sekilas, penggabungan kekuatan antara politikus dan pebisnis berdasarkan prinsip memanfaatkan dan dimanfaatkan menawarkan biaya pemenangan pemilu yang lebih murah. Masuknya pebisnis ke dalam partai menimbulkan harapan
bahwa  akan  ada  “dana  murah”  yang berasal dari dalam partai sendiri dan bukan “dana mahal” yang bersumber dari luar partai.

Tetapi, seperti pepatah mengatakan: “Tidak  ada  makan  siang  gratis”. Dana semurah apapun tetap harus dibayar. Bayarannya bisa tidak cukup dengan mendapatkan proyek-proyek
pembangunan tertentu karena tujuan akhirnya adalah mendapatkan kekuasaan itu sendiri untuk lebih berkuasa lagi atas semakin banyak hal. Pengalaman Italia dengan politikus pebisnis Silvio Berluscony adalah salah satu contohnya. Meskipun berhasil menduduki jabatan Perdana Menteri
hingga tiga kali tetapi kemakmuran rakyat tetap tidak berhasil ditingkatkan.

Matriks Prinsip

Agar terhindar dari dampak negatif bekerjanya prinsip memanfaatkan atau dimanfaatkan, orang perlu mengenali pilihan-pilihan prinsip yang lain, memilih satu yang terbaik dan membuatnya
bekerja.  Pada  gambar  “matriks  prinsip 

Kombinasi dari 2x2 posisi sebagai subjek dan
objek tersebut menghasilkan empat macam
prinsip seperti dijelaskan berikut ini:

  1. Prinsip pertama, “memanfaatkan dan dimanfaatkan” telah dibahas di atas.
  2. Prinsip kedua, “tidak memanfaatkan dan dimanfaatkan” tercermin melalui politikus atau pebisnis yang secara sadar bersedia dieksploitasi oleh pihak lain tanpa pernah berpikir untuk memanfaatkan.
  3. Prinsip ketiga, “memanfaatkan dan tidak dimanfaatkan” tercermin melalui politikus atau pebisnis yang hanya bersedia mengeksploitasi pihak lain tanpa kesediaan samasekali untuk dimanfaatkan.
  4. Prinsip keempat, “tidak memanfaatkan dan tidak dimanfaatkan” tercermin melalui politikus atau pebisnis yang tidak berkeinginan mengeksploitasi dan juga tidak bersedia dieksploitasi oleh pihak lain.

(sebagai) subjek dan (sebagai) objek” di bawah ini ditunjukkan tiga prinsip lain selain prinsip memanfaatkan atau dimanfaatkan.Dari gambar itu menjadi jelas bahwa baik prinsip memanfaatkan atau dimanfaatkan maupun ketiga prinsip yang lain bersumber dari kombinasi dua bentuk prinsip bila politikus sebagai subjek dan sebagai objek, dan bila pebisnis sebagai subjek dan sebagai objek. Sebagai “subjek” berarti memiliki posisi tawar yang lebih kuat atau lebih berkuasa dari yang lain.

Sebagai  “objek”  berarti  posisi  tawarnya lebih lemah atau di bawah kekuasaan yang lain. Kombinasi dari 2x2 posisi sebagai subjek dan objek tersebut menghasilkan empat macam prinsip seperti dijelaskan berikut ini:Prinsip pertama, “memanfaatkan dan dimanfaatkan” telah dibahas di atas. Prinsip kedua,  “tidak memanfaatkan dan dimanfaatkan” tercermin melalui politikus atau pebisnis yang secara sadar bersedia dieksploitasi oleh pihak lain tanpa pernah berpikir untuk memanfaatkan.

Prinsip ketiga,  “memanfaatkan dan tidak dimanfaatkan” tercermin melalui politikus atau pebisnis yang hanya bersedia mengeksploitasi pihak lain tanpa kesediaan samasekali untuk dimanfaatkan. Prinsip keempat,  “tidak  memanfaatkan dan tidak dimanfaatkan” tercermin melalui politikus atau pebisnis yang tidak berkeinginan mengeksploitasi dan juga tidak bersedia dieksploitasi oleh
pihak lain. Dari gambaran di atas dapat dikatakan bahwa prinsip keempat adalah pilihan yang lebih baik dari prinsip pertama.

Bisnis Keluarga Rothschild

Salah satu contoh yang paling ekstrim yang bisa memperlihatkan bekerjanya prinsip tidak memanfaatkan dan tidak dimanfaatkan tercermin dalam perjalanan panjang bisnis keluarga Rothschild. Bisnis keluarga ini mulai berkembang pesat pada tahun 1744 ketika Mayer Amschel
Rothschild menempatkan kelima anaknya di lima kota pusat keuangan Eropa ketika itu: Frankfurt, Vienna, London, Naples, dan Paris, untuk mengembangkan institusi keuangan miliknya.

Kekayaan bisnis keluarga ini mencapai puncaknya sepanjang abad ke-19. Ketika itu gabungan institusi keuangan Rothschild memberi pinjaman bagi pembiayaan perang Inggris dan sekutunya
melawan Napoleon (1803-1815); subsidi Inggris kepada negara-negara sekutunya untuk pemulihan akibat perang itu; mengatur penggalangan dana pinjaman bagi negara Kekaisaran Prusia (1818); menerbitkan obligasi bagi berbagai pemerintah; membiayai industrialisasi Eropa dan pembangunan infrastruktur seperti jalan kereta api (di Eropa, Mexico dan Brazil) dan Terusan Suez; membiayai kemerdekaan Brazil dari Portugal dengan menerbitkan obligasi negara Brazil sebagai sarana untuk mendapatkan dana guna membayar ganti rugi sebesar dua juta pounds sterling kepada Portugal (1824-1825);dan menerbitkan obligasi perang Jepang melawan Rusia (1907).

Karena dianggap berjasa dari segi pembiayaan, Kaisar Austria menganugerahkan gelar kebangsawanan

BILL & MELINDA GATES FOUNDATIONPER 30 JUNI 2013 DANA
ABADI YAYASAN BERKISAR US$38,3 MILYAR. SEOLAH
INGIN MENGATAKAN BAHWA MENJADI PEBISNIS
YANG BERHASIL ADALAH HARUS DAN ITU SAMA
PENTINGNYA DENGAN MEMBERI PERHATIAN KEPADA
SESAMA YANG MEMERLUKAN PERTOLONGAN.

Baron pada keempat anak Mayer (1816) dan kemudian juga anak yang kelima (1818). Dua keturunan dari anak yang memegang cabang London kemudian juga memperoleh gelar Baron dari Kerajaan Inggris (1847, 1885). Meskipun dewasa ini kekayaan keluarga itu tidak lagi semenakjubkan seperti pada abad ke-19 karena telah terbagi-bagi pada demikian banyak jumlah keturunan tetapi kekayaan itu terdiversifkasi mulai dari  jasa keuangan, pertambangan (Rio Tinto, De Beers), energi, pertanian, kebun anggur, dan lembaga-lembaga amal. Dengan segala yang dimilikinya tidak mengherankan bila dalam salah satu terbitan dikatakan: “They are the brokers and counselors of the kings of Europe and of the republican chiefs of America. What more can they
desire?”

PASSION OVER PERFECTION

KETIKA DITANYAKAN KOMENTARNYA BILA DITAWARKAN
MENJADI PEJABAT NEGARA DI GEDUNG PUTIH, JAMIE DIMON,
ORANG YANG MENJADIKAN JP MORGAN CHASE SALAH SATU
INSTITUSI KEUANGAN TERBESAR DAN TERSEHAT DI AS SAAT INI
MENJAWAB: “SAYA BAHAGIA MENJADI CEO JP MORGAN. FOKUS
SAYA SANGAT JANGKA PENDEK, HARI-HARI INI”.

Saling (Tidak) Memanfaatkan

Pertanyaannya sekarang tentu bukanlah:  “Apa  salahnya  bila  politikus mengundang pebisnis masuk ke partai?” atau “Memang salah kalau pebisnis masuk partai untuk memajukan partai itu dan memajukan Indonesia?” Sudah barang tentu tidak ada yang salah dengan kedua hal itu. Persoalannya adalah apakah masuknya pebisnis kedalam partai atau keberadaan pebisnis didalam partai bisa dihadirkan ke hadapan khalayak dengan perilaku yang menunjukkan tidak sedang
bekerjanya prinsip memanfaatkan dan dimanfaatkan.

Ketika tingkat kepercayaan masyarakat kepada partai politik dan wakil-wakilnya di DPR dan juga para pejabat negara di lembaga-lembaga negara baik eksekutif maupun yudikatif sedang
berada di titik nadir hari-hari ini akibat terungkapnya berbagai kasus korupsi di segala bidang dan tingkatan, sikap mawas diri yang menunjukkan sedang bekerjanya prinsip tidak memanfaatkan dan tidak dimanfaatkan sangat diharapkan dari setiap politikus dan pebisnis yang bergabung dengan partai politik.Keputusan para pebisnis bergabung ke salah satu partai dengan dilandasi motif untuk berbuat sesuatu bagi peningkatan kemakmuran rakyat layak dihargai.

Tetapi, bukankah sejarah negara-negara maju menunjukkan bahwa kemakmuran terjadi bukan saja karena adanya politikus yang berprinsip tidak memanfaatkan dan tidak dimanfaatkan dan juga pebisnis-pebisnisnya, seperti dicontohkan oleh keluarga Rothschild di atas. Memang merupakan sebuah perjalanan panjang untuk membangun suatu sistem perpolitikan dan perbisnisan yang pada akhirnya lebih banyak dihuni oleh pribadi-pribadi yang menjalankan
prinsip tidak memanfaatkan dan tidak dimanfaatkan. Dan perjalanan panjang itu harus dimulai hari ini bila tidak ingin lebih terlambat lagi.

Reference:

Jamie Dimon: The Wall Street Journal, July 7, 2011, “J.P. Morgan Chief’s global growth pains” (p.23); July 15-17, 2011, “J.P. Morgan boasts 13% gain in proft” (p.1)


Share/Bookmark

ARTIKEL TERKAIT :




     

    KONSULTASI
    Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

    Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
    [selengkapnya]


     











    HEADLINE :


      

     

     

    heading

    K O B I S

    Wani Piro

    Point of View

    MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
    BUKAN SUPERMAN!

    Closer With

    PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

    Finance

    Disiplin Administratif:
    Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

    Talent Behavior

    Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

    EXPLORE

    Merek-Merek Penanda Zaman Baru

    Operations 

    SEGITIGA EMAS

    Marketing

    BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

     
    KONFLIK KEKUASAAN
     
    SEDERHANA ITU...
    SEMPURNA!

     
     
    TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

    BIZPEDIA

    KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

    BOOK INSIGHT

    David and Goliath Malcolm Gladwell
     
     
     
     
    JURNAL IRJBS
     
    Agustus - November 2012
     
    Vol. 5 No. 2
     
     
     
     
     
     
    April - Juli 2012
     
    Vol. 5 No. 1
     
     
     
     
     
     
    Desember 2011 - Maret 2012
     
    Vol. 4 No. 3
     
     
     
     
     
     
    AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
     
    Vol.4 No.2
     
     
     
     
     
     
    JURNAL IRJBS
     
    April s/d Juli 2011
     
    Vol. 4 No. 1
     
     
     
     
     
     

     
     JURNAL INTEGRITAS
     
    Desember 2010 s/d Maret 2011

    VOL. III NO. III
     
     
     
     
     
     
     
     JURNAL INTEGRITAS
     
    Agustus s/d November 2010
     
    VOL. III NO. II
     
     
     
     
     
     
     JURNAL INTEGRITAS
     
    April s/d Juli  2010
     
    VOL. III NO. I
     
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
     
    VOL. II NO. III
     
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
     
    VOL. II NO. II 
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    APRIL S/D JULI 2009
     
    VOL.II NO.I 
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
     
    VOL.I NO.III
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
     
    VOL.I NO.II

    Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

    Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

    Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

    Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

    Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

    Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

    The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

    JURNAL INTEGRITAS

    MAI 2008

    VOL.I NO.I 

    Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

    Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

    Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

    Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

    Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

    Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
     
     
     
     

    buku 



    Untuk melihat preview klik Cover ini!

    Untuk berlangganan klik Di Sini!
     
    //

    Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
          Sangat Sesuai
          Cukup Sesuai
          Kurang Sesuai




    Unique Visits Today: 14
    Hits Today: 129
    Total Unique Visits: 362586
    Total Hits: 24361583
    Guests Online: 2


       
       

      MENU HOME:




      MENU JOURNAL:




      MENU FORUM:


    PMBS Publishing   
    www.management-update.org | copyright © 2017