A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 23 November 2017
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME EDITORIAL HEADLINE DEPARTMENT REGULAR SUBSCRIPTION ARCHIVE    
   
 
  • Cyb3r001

    uploads/slide/sd.jpg

    Hacked By Cyb3r001 was here

 
 
2010-04-01 16:43:57
KREASI KARISMA ALA JOKOWI DAN OBAMA

Oleh : Agus Soehadi & Dono Murdiyanto

de Vries (2005) menyatakan bahwa tidak ada pemimpin tanpa pengikut, dan tidak ada pemimpin tanpa konteks dalam kepemimpinannya.

Fenomena kemenangan Joko Widodo di  Pemilihan  Gubernur  DKI  2012  atas incumbent Fauzi Bowo merupakan sesuatu yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Kualitas kepemimpinannya terasah ketika menjadi walikota Solo. Diawali dengan keberhasilannya mengatasi permasalahan
PKL, yang dilanjutkan dengan berbagai aktivitas pemecahan masalah di Solo, membuat sosok yang akrab disapa Jokowi ini pada akhirnya mendapatkan penghargaan internasional sebagai salah satu walikota terbaik. Rekam jejak inilah yang menjadi modal Jokowi untuk bisa menjadi orang nomor satu di DKI, dan berhasil.

Kepemimpinan Jokowi semakin terasah seiring dengan aksi-aksinya membereskan keruwetan Jakarta, mulai dari waduk pluit, penertiban PKL Tanah Abang, dan banyak lagi.  Aura kepemimpinan Jokowi yang kian bersinar membuat sebagian elemen masyarakat mengusulkan Jokowi untuk
ikut mencalonkan diri menjadi RI 1. Hasil dari beberapa lembaga survei menunjukkan bahwa Jokowi merupakan capres terkuat untuk pemilu presiden 2014. Hasil survey tersebut sekaligus
mencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap prilaku pimpinan daerah atau pusat yang tidak peka terhadap permasalahan yang dihadapi mereka.

Kebanyakan pemimpin berbicara pada tataran ideal dan tidak menyentuh permasalahan yang ada. Sementara Jokowi muncul dengan solusi pada tataran konkret dan berkomitmen penuh untuk menjalankan solusi yang menurutnya terbaik bagi masyarakat. Aura kepemimpinan yang sederhana, lugas, konsisten dan menyatu dengan masyarakat  membuatnya  disukai.  Gaya
kepemimpinannya mulai banyak diikuti oleh beberapa tokoh politik maupun pimpinan lembaga pemerintahan.

Kasus ini menunjukkan bahwa kemunculan seorang pemimpin tidak dapat lepas dari situasi yang terjadi serta preferensi masyarakat pada saat itu. Tulisan ini mencoba untuk menjelaskan

bagaimana cara mengembangkan serta memperkuat aura kepemimpinan.

Apa itu Aura?

Pancaran sinar yang sangat lembut dan berasal dari dalam diri seseorang. Yup, itulah aura. Para pemimpin besar cenderung memiliki pancaran yang kuat sehingga mampu mempengaruhi para pengikutnya. Mereka terlihat lebih bijaksana, berwibawa, berpengaruh, dibandingkan dengan kebanyakan orang. Pendekatan aura menekankan pada kedekatan “perasaan” pimpinan dengan
pengikutnya. Seperti proses pertemanan yang mempunyai tahapan proses pendekatan dari teman biasa menjadi teman sejati.

Kedekatan “perasaan” sangat ter-gantung pada seberapa jauh aura yang dimiliki oleh para pimpinan dapat merepresentasikan aura mereka. Aura tersebut harus hidup dan dirasakan. Untuk
itu aura harus memiliki  soul agar disukai oleh publik. Carl Jung telah mempelopori pengkajian tentang ’archetype’ yang disukai publik yang didalam tulisan ini disebut sebagai  aura seperti  innocent, hero, regular guy, inspiring, sage, dan caregiver. Sedangkan karisma, berasal dari bahasa
Yunani yang berarti “anugrah”. Aura karismatik dianggap sebagai kombinasi dari pesona dan daya tarik pribadi yang berkontribusi terhadap kemampuan luar biasa untuk membuat orang lain tunduk dan patuh (Truskie, 2002).

Dia mampu memainkan peran penting dalam menciptakan perubahan. Lebih lanjut de Vries (2005)
menyatakan bahwa aura karismatik akan semakin kuat jika aura yang dimiliki oleh pemimpin sesuai dengan mayoritas aura yang dimiliki oleh publik serta situasi masyarakat pada periode tersebut (lingkungan sosial, politik, ekonomi dan kultur).

Terlihat bahwa pemilihan aura menjadi penting untuk memenangkan hati pemilih. Pilihan aura saja tidak cukup untuk disukai oleh pemilih tetapi juga harus ada situasi yang membuat aura tersebut menonjol dan memiliki karisma yang kuat. Dengan kata lain aura tersebut perlu divibrasi atau
diperkuat secara terus menerus. Sebagai contoh, aura  inspiring akan dapat tervibrasi dengan baik pada kondisi lingkungan masyarakat yang frustasi terhadap kekusutan permasalahan yang tidak pernah ada solusinya.

 

Masyarakat membutuhkan tidak hanya lilin penerang, tetapi juga pemberi solusi yang dapat
mengurai kekusutan itu.  Pemimpin yang menggunakan aura ini tidak hanya tergantung pada situasi yang ada tetapi juga mampu memvibrasi melalui perbaikan-perbaikan masalah yang ada.
Barack Obama dan Jokowi merupakan beberapa fgur yang mampu menggunakan dan memvibrasi aura ini dengan baik.

Cukup disayangkan, ketika kondisi politik di Indonesia pra 2014 terasa kian  memanas, di saat persaingan antar partai politik, calon anggota legislatif dan calon presiden juga semakin kuat, sebagian besar partai politik peserta Pemilu anggotanya justru terlibat dalam kasus korupsi dan
menjadi pasien KPK. Selain itu, diantara calon-calon yang diajukan partai juga belum ada yang cukup menonjol di pentas nasional. Kekusutan politik dan hukum inilah yang kemudian
memperbesar peluang pimpinan yang memiliki aura  inspiring untuk dipilih.

Jokowi, walaupun belum dicalonkan, ratingnya selalu jauh diatas para calon presiden yang resmi dicalonkan oleh partai.  Ciptakan PondasiTerdapat beberapa tahapan dalam upaya membangun aura karismatik. Pertama, merumuskan esensi aura (aura essence).  Kedua, aura tersebut menjadi
pilihan dan dikonsumsi oleh aura sejenis (aura consumption).  Ketiga, aura yang dikembangkan menjadi semakin kuat, walaupun aura dikonsumsi dan berinteraksi dengan berbagai tipe aura,
esensi auranya tetap akan bersinar dan tidak berubah (aura stability).  Keempat,  tahapan yang paling tinggi dimana aura tersebut mampu menarik para pencintanya untuk bergabung dalam komunitas dan mempromosikan serta membela pemimpinnya (aura ambassador).

Aura Essence

Aktiftas yang perlu diperhatikan dalam membangun esensi aura adalah pemilihan tipe  aura  yang akan ditampilkan. Lebih dari 20 tipe aura yang dapat diidentifkasi, tetapi hanya beberapa yang disukai (Mark dan Pearson, 2001). Sebagai contoh adalah lover, caregiver, sage, hero, innocent,
regular guy, magician, outlow, ruler, explorer dan innovator.    Untuk memilih aura yang tepat, ada empat langkah yang harus dilakukan:

  1. Tentukan target audience/voters
  2. Identifkasi  kebutuhan,  keinginan  dan kesukaan dari mereka
  3. Susun profl aura dari target audience/voters
  4. Rumuskan  esensi aura yang cocok dengn profl tersebut

Aura essence yang menjadi pilihan Obama dan Jokowi adalah kombinasi aura  inspiring dan  caregiver. Pilihan aura tersebut tidak terlepas dari rekam jejak perjalanan hidup dan politiknya, dan
situasi yang mendukung dalam memvibrasi aura mereka.

Aura Consumption

Aura consumption merupakan tahapan ketika publik merasakan aura yang tervibrasikan oleh para pemimpinnya. Obama, sebagian besar waktu bekerjanya digunakan untuk komunitas–komunitas yang memerlukan perlindungan hukum dan bantuan dari negara. Pemimpin Paman Sam ini mempunyai kemampuan natural untuk memberikan pelayanan atau disebut sebagai aura caregiver.

Ia mempunyai rasa sayang dan peduli terhadap  orang lain. Sehingga pada saat mengajukan diri sebagai senator mewakili negara bagian Illinois,  Obama dengan mudah memenangkan kepercayaan dari berbagai pihak. Bahkan pernah menduduki posisi sebagai co-chairman tim bipartisan di 2001 dalam rangka menggolkan regulasi  ”payday loan” dan  ”predatory mortgage lending”. Pada saat itu dia membantu  Gubernur Ryan yang berasal dari  Partai Republik. Beberapa tindakan yang dilakukan banyak menginspirasi para pengikutnya.

Sebagai senator, Obama lebih banyak terlibat sebagai oposisi pemerintah. Begitu  Presiden  George  Walker  Bush mengumumkan perintah perang terhadap Saddam Hussein, Obama
merupakan orang yang menyuarakan jangan berperang. Konsistensi Obama menyuarakan anti perang, juga masuk dalam program kampanyenya untuk menarik  mundur  pasukan  USA  di  Irak.
Publik sudah merasakan akibat perang Irak yang berkepanjangan berdampak terhadap ekonomi  domestik.

Untuk  itu  dibutuhkan solusi untuk keluar dari perang Irak. Aura caregiver dan inspiring semakin terpancar dalam perjalanan politiknya.Jokowi juga menggunakan pendekatan yang mirip dengan Obama, yaitu dengan gaya blusukan untuk mendapatkan informasi permasalahan yang masyarakat hadapi secara langsung. Setiap permasalahan yang ada dicoba untuk dicari solusinya tanpa melalui birokrasi yang ada.

Pola komunikasinya sederhana dan berusaha untuk berbaur dengan masyarakat.  Topiknya pun sederhana, baik mengenai masalah yang belum diselesaikan ataupun pemberian solusi, yang kesemuanya disampaikan dengan bahasa awam. Bagi Jokowi akan lebih mudah menunjukkan hasil karyanya sejak dari program hingga  implementasi.

Jokowi telah dua periode menjabat sebagai Walikota Solo dengan hasil yang memuaskan bagi publik Solo. Indikator tersebut dapat dilihat pada pemilihan walikota periode keduanya. Jokowi
berhasil meningkatkan suaranya dari 60% pada pemilihan pertama, menjadi 96% pada pemilihan ke dua.  Indikasi ini memperlihatkan bahwa aura karismatik Jokowi disukai dan dapat
merepresentasikan aura yang diidamkan oleh warga Solo. Lebih lanjut, auranya semakin terasah semenjak terpilih menjadi gubernur DKI. Dia menawarkan program Kartu Pintar dan Kartu Sehat yang memberikan jaminan untuk bersekolah
dan kesehatan bagi warga DKI Jakarta.

Aura Stability

Merupakan tahapan pengujian, dalam arti seberapa jauh aura yang dimiliki tetap dapat menonjol walaupun berinteraksi dengan aura yang berbeda. Salah satu yang menjadi tantangan adalah para pemilih tidak semuanya memiliki aura yang sama. Ketika mereka berinteraksi dengan aura yang berbeda, seberapa jauh daya tarik aura mereka semakin terlihat sehingga pemilih dengan aura yang berbeda tertarik untuk memilih pemimpin tersebut. Salah satu hal yang menarik untuk
dicermati ketika Fauzi Bowo atau biasa disapa Foke dan Jokowi melakukan debat calon gubernur di salah satu media televisi.

 

Sebagai gubernur  incumbent dengan pengalaman yang panjang sebagai birokrat, Foke memiliki informasi yang akurat terkait dengan permasalahan yang terjadi di DKI. Aura yang terpancar dari dirinya adalah kombinasi aura  sage (berpengetahuan) dan ruler (penguasa).

OBAMA DAN JOKOWI MEMILIKI BANYAK RELAWAN YANG TIDAK
HANYA BERPROMOSI ATAU MEREKRUT RELAWAN BARU, TETAPI JUGA
SEBAGAI GARDA TERDEPAN DALAM AKSI ‘PEMBELAAN

Pada saat Foke berinteraksi dengan Jokowi, terlihat bahwa aura  ruler-nya begitu dominan. Terlihat seperti seorang penguasa yang menghardik warga biasa yang mencari penjelasan terhadap
permasalahan ruwet di DKI. Atau penguasa yang selalu menganggap remeh usulan solusi yang diberikan warganya. Kesan ini tertangkap oleh publik yang masih didominasi oleh aura  innocent (lugu, polos dan idealis). Pemilih dengan aura innocent juga menganggap bahwa Jokowi merupakan representasi mereka.

Jokowi secara konsisten dan berulang – ulang menyatakan, bahwa rencana sebagus apapun bila tidak ada komitmen dan kerja keras pejabat bersangkutan tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna. Ajakan – ajakan untuk melakukan kerjasama dalam mencari solusi ditambah dengan argumentasi yang masuk akal serta komitmen yang kuat membuat sosok Jokowi menarik bagi para pemilih dari aura yang berbeda. Kombinasi dari aura  inspiring dan  caregiver kemudian
mendapatkan simpati yang kuat dari aura innocent membuat Jokowi menang dalam 1 putaran.

Demikian juga Obama dengan slogan  hope dan  change, secara berulang – ulang mengajak aura “yang lain” untuk mengikutinya. Jokowi harus memimpin masyarakat yang memiliki berbagai aura dengan masalah-masalah yang ada. Yang menarik adalah bagaimana cara Jokowi mengendalikan birokrasi  yang sudah terbiasa dengan pola gubernur lama. Jokowi sangat mendukung  mass transportation, sehingga konsorsium monorel yang tidak jalan diminta untuk diteruskan. Kopaja-
pun boleh masuk ke jalur  busway, untuk meningkatkan layanan transportasi publik.

Lebih lanjut Jokowi merencanakan 1000 bus transjakarta untuk melancarkan aktivitas mass transportation. Langkah-langkah inspiratif itu mempunyai satu tujuan yaitu mengurai kemacetan. Bahkan dalam banjir di awal tahun 2013, dengan sigap Jokowi tampil di baris terdepan, terutama ketika menyelesaikan tanggul di Latu Harhari.  Di sisi lain, Obama segera setelah terpilih, melakukan perintah penarikan pasukan di Iraq. Musuh utama Amerika bukannya Irak tetapi Osama bin Laden.

Pemerintahan George Bush  tidak  berhasil menangkap Osama. Tentara elit angkatan laut  USA  dibawah  komando  Obama berhasil menemukan persembunyian Osama di Pakistan dan tertembak mati dalam proses penangkapan. Ini merupakan salah satu contoh bagaimana aura yang dipunyai Obama dapat berinteraksi baik dengan aura lainnya (hero) untuk menggolkan satu tujuan.

Aura Ambassador

Strategi yang umum digunakan oleh para tim sukses pemenangan calon pimpinan daerah dan pusat biasanya melalui tiga aktiftas utama yaitu: Pada beberapa kasus, dua faktor terakhir merupakan penentu keberhasilan untuk dipilih. Jokowi memiliki cara yang menarik
untuk membangun tim relawannya yaitu  melalui  flosof  baju  kotak-kotak yang menggambarkan kesederhanaan, ketegasan dan komitmen yang kuat dalam menjalankan keputusan. Sebagai
contoh, pada saat pendaftaran, Jokowi dan wakilnya, Ahok naik Metromini dengan menggunakan baju kotak – kotak tersebut.

Setelah itu terjadi fenomena penjualan baju bermotif kotak yang meningkat secara nyata. Disamping menjadi sumber dana kampanye, rupanya banyak relawan menjadikan baju ini untuk mengajak temannya memilih Jokowi. Di lain pihak, Obama membangun panggungnya melalui engagement dengan media sosial. Vibrasinya berdampak sangat besar sehingga dapat merangkul pemilih muda di tahun 2008. Panggung media sosial dan terbentuknya Obama Fans Club beserta relawannya, membuat vibrasi aura Obama semakin kuat.

 

Efek domino yang terjadi sangat signifkan, mengantarkan Obama  berhasil menjadi Presiden berkulit hitam pertama di Amerika Serikat. Internet sudah merupakan keseharian rakyat Amerika
yang lebih sadar teknologi, dapat lebih ekspresif dibanding bila dilakukan di Indonesia.

Pendekatan aura dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena kemenangan dari beberapa pimpinan daerah dan presiden. Aura yang dimiliki pemimpin merupakan representasi dari aura yang dimiliki oleh para pemilihnya. Aura tersebut semakin kuat jika tervibrasi dengan baik melalui rekam jejak maupun aktiftas  yang  dilakukan  oleh  pemimpin yang konsisten dengan karakter dari aura tersebut. Bagaimana dengan aura Anda?


Share/Bookmark

ARTIKEL TERKAIT :




     

    KONSULTASI
    Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

    Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
    [selengkapnya]


     











    HEADLINE :


      

     

     

    heading

    K O B I S

    Wani Piro

    Point of View

    MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
    BUKAN SUPERMAN!

    Closer With

    PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

    Finance

    Disiplin Administratif:
    Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

    Talent Behavior

    Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

    EXPLORE

    Merek-Merek Penanda Zaman Baru

    Operations 

    SEGITIGA EMAS

    Marketing

    BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

     
    KONFLIK KEKUASAAN
     
    SEDERHANA ITU...
    SEMPURNA!

     
     
    TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

    BIZPEDIA

    KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

    BOOK INSIGHT

    David and Goliath Malcolm Gladwell
     
     
     
     
    JURNAL IRJBS
     
    Agustus - November 2012
     
    Vol. 5 No. 2
     
     
     
     
     
     
    April - Juli 2012
     
    Vol. 5 No. 1
     
     
     
     
     
     
    Desember 2011 - Maret 2012
     
    Vol. 4 No. 3
     
     
     
     
     
     
    AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
     
    Vol.4 No.2
     
     
     
     
     
     
    JURNAL IRJBS
     
    April s/d Juli 2011
     
    Vol. 4 No. 1
     
     
     
     
     
     

     
     JURNAL INTEGRITAS
     
    Desember 2010 s/d Maret 2011

    VOL. III NO. III
     
     
     
     
     
     
     
     JURNAL INTEGRITAS
     
    Agustus s/d November 2010
     
    VOL. III NO. II
     
     
     
     
     
     
     JURNAL INTEGRITAS
     
    April s/d Juli  2010
     
    VOL. III NO. I
     
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
     
    VOL. II NO. III
     
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
     
    VOL. II NO. II 
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    APRIL S/D JULI 2009
     
    VOL.II NO.I 
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
     
    VOL.I NO.III
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
     
    VOL.I NO.II

    Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

    Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

    Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

    Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

    Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

    Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

    The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

    JURNAL INTEGRITAS

    MAI 2008

    VOL.I NO.I 

    Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

    Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

    Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

    Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

    Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

    Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
     
     
     
     

    buku 



    Untuk melihat preview klik Cover ini!

    Untuk berlangganan klik Di Sini!
     
    //

    Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
          Sangat Sesuai
          Cukup Sesuai
          Kurang Sesuai




    Unique Visits Today: 15
    Hits Today: 135
    Total Unique Visits: 362587
    Total Hits: 24361589
    Guests Online: 3


       
       

      MENU HOME:




      MENU JOURNAL:




      MENU FORUM:


    PMBS Publishing   
    www.management-update.org | copyright © 2017