A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 23 November 2017
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME EDITORIAL HEADLINE DEPARTMENT REGULAR SUBSCRIPTION ARCHIVE    
   
 
  • Cyb3r001

    uploads/slide/sd.jpg

    Hacked By Cyb3r001 was here

 
 
2010-04-15 16:46:03
SUKSESI KEPEMIMPINAN: MENGGAPAI TAHTA RI 1

Oleh : Sammy Kristamuljana

Dengan harap-harap cemas,khalayakpun bertanya-tanya: “Siapakah capres dan pasangannya yang akan memenangkan Pemilu 2014?

Hingar-bingar Pemilu telah di depan mata. Begitupun semua pihak yang dijagokan maupun yang menjagokan terus mempersiapkan diri untuk merebut sebanyak mungkin suara demi memenangkan tahta tertinggi di Bumi Pertiwi. Bila melihat dari kacamata manajemen stratejik, jawaban dari pertanyaan di atas ternyata juga kembali menjadi sebuah bentuk pertanyaan berikutnya: “Karakter capres dan cawapres seperti apa yang akan paling banyak diminati oleh para calon pemilih?”. Teorinya, masyarakat luas akan sangat berminat pada kandidat yang paling menjawab kebutuhan mereka dari segi ide dan perilaku politik, setidaknya untuk jangka waktu lima tahun ke depan.

Contoh di masa lalu, pada Pemilu 1999 capres dan cawapres dengan peminatan tertinggi adalah fgur  reformis, arif,  serta mampu mengayomi semua unsur baik reformasi, orde baru dan berbagai aliran (partai) politik yang ada. Sementara di Pemilu 2004 dan 2009, minat masyarakat jatuh pada sosok pemimpin dengan image yang cerdas, gagah serta berwibawa.

Melihat fenomena ini, apa sebenarnya yang perlu menjadi pertimbangan seorang pemilih, sebelum bersedia untuk melumuri sedikit dari bagian jari mereka dengan tinta yang lazimnya berwarna
ungu kebiruan tersebut?

Beda Zaman, Beda Kebutuhan

Pengalaman historis menunjukkan, bahwa pada masa yang berbeda calon pemilih memiliki kebutuhan akan sosok capres dan cawapres yang juga berbeda. Sekitar 2500 tahun yang lalu,
seorang ahli strategi perang Cina kuno menuliskan lima faktor mendasar yang akan mengantarkan seseorang menjadi pemimpin bala tentara khususnya sesuai kebutuhan  fgur  ideal  panglima  perang.

 

Mengadopsi pemikiran Sun-Tzu, dalam konteks tulisan ini yaitu capres dan cawapres. Calon pemilih sangat membutuhkan capres dan cawapres yang memiliki derajat kemanunggalan yang tinggi,
menunjukkan pemahamannya terhadap suasana zaman, mampu menggambarkan dengan jelas lanskap yang harus dijalani, memiliki mutu kepribadian di atas capres dan cawapres yang lain, serta memiliki rencana tindakan yang paling masuk akal dalam meningkatkan nilai berbangsa dan bernegara -selama periode pemerintahannya.

Setiap pasangan harus dapat menciptakan “situasi” yang paling menguntungkan dirinya, demi memenuhi kelima faktor tersebut. Tepatnya, lebih meningkatkan kelebihan-kelebihan diri yang sejalan dengan tuntutan orang banyak, dan menjadikannya penyeimbang bagi kekurangan-kekurangan yang ada. Kreasi terhadap situasi memang dapat saja diciptakan. Namun, capres dan cawapres dengan kelebihan-kelebihan yang bersifat “bawaan” tetap akan lebih diuntungkan.

Selama berlangsungnya Pemilu, derajat kemanunggalan untuk masing-masing pasangan capres dan cawapres bisa dilihat dari hasil survei elektabilitas yang dilakukan secara periodik oleh
lembaga-lembaga pemerhati pemilu yang independen. Puncaknya adalah jumlah perolehan suara pada akhir pelaksanaan pesta politik berkala tersebut. Tetapi, faktor pemahaman terhadap suasana zaman, kemampuan menggambarkan lanskap yang harus dijalani dan memiliki rencana tindakan meningkatkan nilai berbangsa dan bernegara, lebih ditentukan oleh mutu kepribadian masing-masing pasangan, terutama ketika berhadapan dengan calon pemilihnya.  

Bersinergi dengan Waktu

Kelima kriteria mendasar di atas lebih bersifat umum. Artinya, dapat digunakan pada era Pemilu kapan saja dan untuk siapapun pasangan capres dan cawapresnya. Tetapi untuk suatu masa tertentu, dua faktor yang perlu mendapat perhatian khusus yakni pemahaman terhadap suasana zaman, dan gambaran lanskap yang harus dijalani. Capres dan cawapres idealnya bisa lebih mematutkan dirinya, sehingga dapat lebih efektif dalam menyampaikan pemahaman dan visualisasi -terkait kedua faktor tersebut, beserta perencanaan tindakannya kepada
calon pemilih. Sebaliknya, dengan memahami kedua poin ini calon pemilih bisa lebih mudah mempertimbangkan pasangan mana yang tepat bagi mereka.

Pengertian suasana zaman di sini utamanya adalah kecenderungan pandangan pemangku kepentingan di lingkup internasional terhadap Indonesia. Seperti halnya kondisi musim yang
bersifat alami dan hanya bisa diterima oleh mereka yang sanggup menghadapi, demikian pula sifat suasana zaman. The Economist Explains, pada kuartal akhir 2013 lalu memberi gambaran
yang cukup baik tentang fenomena zaman di Indonesia. Menurut mereka telah terjadi pergeseran pandangan di area internasional, dari pertanyaannya sebelumnya yaitu: “Tahukah Anda bahwa
Indonesia sedang berada di persimpangan jalan?” menjadi: “Apakah Indonesia sedang berada di persimpangan jalan?”.

Pertanyaan sebelumnya ditujukan kepada salah satu golongan pemangku kepentingan yang diwakili oleh bank investasi  kelas  dunia,  Goldman  Sachs, yang tidak memperhitungkan Indonesia dalam kelompok negara-negara BRICs (Brazil, Rusia, India, dan China). Sebagai
negara terbesar di ASEAN dengan jumlah penduduk 240 juta jiwa dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang konsisten rata-rata di atas 6 persen, Indonesia diharapkan dapat segera melewati
persimpangan jalan dan masuk ke jalan yang sama dengan yang sedang dilewati
oleh negara-negara BRICs.

 

Tetapi, pertanyaan yang kedua justru merupakan kebalikan dari yang pertama. Di sini Indonesia dipandang sedang mengalami ketersendatan di persimpangan jalan, dan dikhawatirkan justru akan terpaksa masuk ke pilihan jalan yang kurang menguntungkan. Tanda-tandanya adalah Bank
Indonesia telah merevisi target pertumbuhan ekonomi tahun ini dari angka tertinggi 6,2 menjadi kisaran 5,5%-5,9%. Selain itu nilai rupiah terhadap dolar AS juga terdepresiasi sebesar 16%.
IHSG  juga mengalami penurunan hingga seperlimanya, dari tingkat tertinggi pada bulan Mei lalu. Dari sisi eksternal, penurunan tersebut terjadi karena kekhawatiran bahwa Bank Sentral AS akan segera mengakhiri kebijakan suku bunga super murahnya.  

KEADAAN MENJADI SANGAT BERBAHAYA BILA KRISIS KEMBALI MELANDA
EKONOMI AMERIKA SERIKAT. INDONESIA AKAN KESULITAN MEMPEROLEH
KUCURAN DANA INTERNASIONAL, KARENA PRIORITAS TENTU ADALAH UNTUK
NEGERI PAMAN SAM

Sementara dari dalam negeri, jatuhnya harga komoditas sumber daya alam unggulan seperti batubara, minyak sawit, migas dan lainnya turut menyumbang krusialitas keadaan yang bisa menjadi lebih parah bila pertumbuhan ekonomi negara-negara maju terus berlangsung lambat, seperti yang terjadi selama ini. Imbasnya, investor asing semakin ragu untuk menanamkan modal di Indonesia.

Membuka Realitas

Yang dimaksud dengan lanskap yang harus dijalani, yaitu gambaran seputar tantangan riil di depan mata yang harus segera direspon setelah pasangan capres dan cawapres terpilih nanti. Gambaran  realitas  tantangan  ini dengan baik disampaikan oleh tim ekonom  UGM,  seperti  diberitakan  oleh
sejumlah situs elektronik media massa pada Desember kemarin. Dikatakan bahwa perekonomian Indonesia di tahun ini bakal terus memburuk, mengingat kinerja perekonomian terus menunjukkan
penurunan hingga akhir tahun 2013 dan potensi ketidakstabilan perekonomian akan bertambah besar sepanjang tahun politik 2014.

Neraca perdagangan diprediksi akan terus  defcit,  karena  baik  pemerintah maupun swasta “dipaksa” untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Dengan tingkat  infasi di angka 6,5% dan
kurs rupiah tetap di atas harga Rp 11.000 per  US$1,00  perusahaan-perusahaan besar hampir tidak punya peluang untuk menyisihkan sebagian dari sisa labanya untuk membiayai investasi baru. Pertumbuhan ekonomi negara-negara maju yang terus berlangsung lambat akan membuat baik permintaan maupun harga-harga komoditas ekspor Indonesia tetap rendah.

CAPRES DAN CAWAPRES TERPILIH HARUSLAH MERUPAKAN PASANGAN YANG KOMPAK,SALING MENGISI, MENYADARI PENTINGNYA BERBAGI TUGAS, CAKAP BEKERJA DALAM TIM, DAN TIDAK MENGANDALKAN PADA INSTRUKSI SEMATA MELAINKAN BERSEDIA
MENGECEK LANGSUNG PELAKSANAANNYA DI LAPANGAN

Akibatnya, cadangan devisa akan semakin menyusut, rupiah semakin tertekan, pengeluaran untuk konsumsi produk manufaktur non makanan akan semakin dikurangi, kinerja sektor manufaktur turut melemah, sehingga sekalipun tingkat konsumsi menjelang dan selama Pemilu tumbuh, tetapi hajatan nasional ini tidak banyak membantu karena hanya berlangsung untuk jangka waktu yang sangat pendek.

Selain komoditas barang tambang, sektor industri berbasis impor akan mengalami dampak pelemahan yang paling besar. Industri otomotif dan properti juga akan mengalami penurunan,
sebab selain kandungan impornya yang tinggi, juga harga jualnya semakin jauh dari jangkauan banyak orang.Sektor keuangan perbankan juga tidak bisa banyak membantu, mengingat laba
bunga bersihnya (net interest margin) menjadi semakin tipis karena biaya dana pihak ketiga (penabung) menjadi semakin tinggi dan kredit semakin sulit disalurkan.

Kondisi perekonomian Indonesia yang dari segi strukturnya terlalu mengandalkan konsumsi dan besaran impor lebih tinggi dari ekspor, baru sebagian saja dari gambaran keseluruhan lanskap yang ada. Sisi yang lainnya adalah masih “pekerjaan rumah” yang belum diselesaikan oleh pemerintahan SBY.Infrastuktur yang sangat tertinggal dibandingkan hampir semua negara pendiri ASEAN, maraknya korupsi di segala bidang dan lapisan, serta birokrasi yang menghambat, hanya beberapa saja di antara banyak masalah lainnya yang juga penting. Semua ini membuat pertanyaan yang diajukan oleh  The Economist: “Apakah Indonesia sedang berada di persimpangan jalan?” menjadi bisa dimengerti. 

Persimpangan Jalan

Untuk  menghadapi  tantangan  riil tersebut, tim ekonom UGM berpandangan: “Harapannya, kalau pemilu memunculkan figur yang bisa dipercaya pelaku ekonomi, optimisme pasar naik dan situasi kembali membaik lagi. Dengan “nada dasar” yang sama, The Economist menyarankan lebih jauh lagi yaitu Indonesia membutuhkan capres dan cawapres yang benar-benar baru. Mereka sebaiknya orang-orang baru, muda dari segi usia, terbuka untuk diajak berdialog dan dari perilakunya terlihat memiliki komitmen yang tinggi untuk menjaga kebersihan diri maupun lingkungannya, tidak dibesarkan dalam sistem politik era kepemimpinan Presiden Suharto, dan tidak perlu berasal dari pusat-pusat kekuasaan politik tradisional Indonesia seperti ABRI.

Mengingat beratnya tugas untuk merebut simpati pemangku kepentingan di lingkup internasional dan meyakinkan seluruh elemen bangsa agar bersedia menempuh lanskap baru dengan pendekatan yang baru dan segar, maka diperlukan persyaratan tambahan dari segi kemampuan manajemen organisasi. Capres dan cawapres terpilih haruslah merupakan pasangan yang kompak, saling mengisi, menyadari pentingnya berbagi tugas, cakap bekerja dalam tim, dan tidak
mengandalkan pada instruksi semata melainkan bersedia mengecek langsung pelaksanaannya di lapangan.

Para pemain lama tentu memiliki keunggulan pengalamanan di kancah politik. Sementara, pasangan capres dan cawapres yang relatif muda memang belum teruji kemampuannya dari segi
“jam terbang”. Tetapi, mengingat bahwa Indonesia sedang berada di persimpangan jalan, nampaknya tetap berharga untuk memberi mereka kesempatan.


Share/Bookmark

ARTIKEL TERKAIT :




     

    KONSULTASI
    Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

    Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
    [selengkapnya]


     











    HEADLINE :


      

     

     

    heading

    K O B I S

    Wani Piro

    Point of View

    MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
    BUKAN SUPERMAN!

    Closer With

    PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

    Finance

    Disiplin Administratif:
    Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

    Talent Behavior

    Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

    EXPLORE

    Merek-Merek Penanda Zaman Baru

    Operations 

    SEGITIGA EMAS

    Marketing

    BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

     
    KONFLIK KEKUASAAN
     
    SEDERHANA ITU...
    SEMPURNA!

     
     
    TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

    BIZPEDIA

    KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

    BOOK INSIGHT

    David and Goliath Malcolm Gladwell
     
     
     
     
    JURNAL IRJBS
     
    Agustus - November 2012
     
    Vol. 5 No. 2
     
     
     
     
     
     
    April - Juli 2012
     
    Vol. 5 No. 1
     
     
     
     
     
     
    Desember 2011 - Maret 2012
     
    Vol. 4 No. 3
     
     
     
     
     
     
    AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
     
    Vol.4 No.2
     
     
     
     
     
     
    JURNAL IRJBS
     
    April s/d Juli 2011
     
    Vol. 4 No. 1
     
     
     
     
     
     

     
     JURNAL INTEGRITAS
     
    Desember 2010 s/d Maret 2011

    VOL. III NO. III
     
     
     
     
     
     
     
     JURNAL INTEGRITAS
     
    Agustus s/d November 2010
     
    VOL. III NO. II
     
     
     
     
     
     
     JURNAL INTEGRITAS
     
    April s/d Juli  2010
     
    VOL. III NO. I
     
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
     
    VOL. II NO. III
     
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
     
    VOL. II NO. II 
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    APRIL S/D JULI 2009
     
    VOL.II NO.I 
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
     
    VOL.I NO.III
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
     
    VOL.I NO.II

    Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

    Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

    Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

    Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

    Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

    Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

    The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

    JURNAL INTEGRITAS

    MAI 2008

    VOL.I NO.I 

    Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

    Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

    Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

    Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

    Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

    Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
     
     
     
     

    buku 



    Untuk melihat preview klik Cover ini!

    Untuk berlangganan klik Di Sini!
     
    //

    Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
          Sangat Sesuai
          Cukup Sesuai
          Kurang Sesuai




    Unique Visits Today: 14
    Hits Today: 130
    Total Unique Visits: 362586
    Total Hits: 24361584
    Guests Online: 2


       
       

      MENU HOME:




      MENU JOURNAL:




      MENU FORUM:


    PMBS Publishing   
    www.management-update.org | copyright © 2017