A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 26 September 2018
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME EDITORIAL HEADLINE DEPARTMENT REGULAR SUBSCRIPTION ARCHIVE    
   
 
  • Cyb3r001

    uploads/slide/sd.jpg

    Hacked By Cyb3r001 was here

 
 
2010-04-15 16:49:47
MENANTI KESEIMBANGAN BARU 2013-2014

Oleh : Liputan khusus: Lucia Priandarini

Hempasan badai ekonomi2013 memang tidak sekeras 2008. Namun, kondisi fundamental
Indonesia dan dunia tidak sebaik pada masa itu. Artinya, tantangan yang dihadapi Indonesia pun
tidak kalah berat dengan situasi mencekam lima tahun silam.

Dalam  keterangan  persnya,  Wakil Ketua Dewan Promosi untuk Perdagangan Internasional  China  (CCPIT),  Yu Ping, menyatakan pemerintahnya tidak serta merta merasa diuntungkan karena
Presiden  Amerika  Serikat  (AS),  Barack Obama, tidak hadir dalam Konferensi Tingkat  Tinggi  Asia-Pacifc  Economic Cooperation  (KTT  APEC)  2013  awal Oktober lalu. Menurut Yu, sebagai
sebuah kesatuan kekuatan, jika ada satu pemimpin negara yang berhalangan hadir, jusrtu menjadi kerugian bagi negara lain.

Pernyataan  Yu  Ping  mencerminkan kondisi ekonomi dunia saat ini. Krisis membuat semua negara berada dalam posisi setara dan saling bergantung. Semua negara, baik yang maju maupun
berkembang, sama-sama lemah, tapi sekaligus masih berpeluang maju. Demikian  ungkap  Pakar  Manajemen Stratejik,  Profesor Sammy Kristamuljana,  Ph.D. Menurutnya, secara umum tidak ada yang benar-benar baru dalam KTT APEC 2013  lalu.

Namun setidaknya, ke-21 pemimpin negara menegaskan kembali komitmen mereka akan pertumbuhan berkelanjutan yang adil dan pengembangan  konektivitas. Meski demikian, selain membawa manfaat, konektivitas serta tautan antara faktor domestik dan global tentu
memunculkan tantangan tersendiri bagi perekonomian Indonesia. Saat artikel ini dibuat,kebijakkan “government shutdown” masih berlangsung di AS. Jika dalam dua pecan pekan kondisi ini masih
berlangsung, pertumbuhan ekonomi AS diprediksi menurun hingga setengah persen, yang lambat laun akan berdampak pada investasi perusahaan Amerika di Indonesia. Mencari titik tengah antara
integrasi dan isolasi dari gonjang-ganjing perekonomian dunia dipercaya menjadi inti dari seni pengelolaan perekonomian nasional. 

Stabilitas Semu

Pasca  krisis  2008,  bank  sentral Amerika, The Fed, memberikan stimulus moneter dengan menggelontorkan dana dalam jumlah besar ke Brasil, Rusia, India,  China  (BRIC),  dan  negara-negara berkembang  Asia  Pasifk,  termasuk Indonesia. Tingginya likuiditas di negara-negara tersebut selama empat tahun terakhir membuat pendanaan sektor riil menjadi lebih mudah dan mampu menjaga indeks harga saham gabungan (IHSG) tetap stabil. Sehingga, wacana The
Fed untuk mengurangi program stimulus ekonomi direspon berlebihan oleh pasar, dan sempat mengguncang nilai tukar mata uang negara berkembang terhadap dollar AS.

Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI),  Agus Martowardojo, program yang disebut quantitative easing tersebut membuat negara-negara berkembang seolah berada dalam kondisi ekonomi
normal dan stabil. Padahal kenyataannya, sama sekali tidak. Ketika pertengahan September 2013 kebijakan tersebut urung dicabut, bukan berarti negara-negara berkembang, termasuk Indonesia bisa bernapas lega.

Menurut Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., A. Prasetyantoko, jika tahun depan perekonomian AS tumbuh pada kisaran 3 persen dan suku bunga naik, hanya soal waktu, arus modal di negara-negara berkembang akan ditarik kembali ke AS. Pembalikan arus modal secara drastis maupun bertahap tersebut akan berujung pada rendahnya tingkat likuiditas. Ini akan menjadi tantangan cukup berat bagi pelaku usaha di Indonesia, terutama di bidang pendanaan.

Infasi

Apalagi,  Prasetyantoko  menam-bahkan, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini tidak begitu baik. Berdasarkan Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi  Badan  Pusat  Statistik  (BPS) Edisi 40, September 2013,  tingkat  infasi  di Indonesia periode Agustus - September 2013  mencapai  9  persen,  paling  tinggi dibanding delapan negara lain. Tingkat infasi  di  Malaysia,  misalnya, hanya  2 persen.

Defsit neraca pedagangan dan neraca transaksi berjalan yang ditandai dengan rendahnya nilai ekspor dibanding impor, membuat Indonesia menjadi negara setelah India yang nilai tukarnya paling terdepresiasi terhadap dolar. Negara-negara yang perekonomiannya tumbuh cukup tinggi tapi amat bergantung pada dana asing untuk mengelola perekonomiannya akan lebih rentan jatuh
jika terjadi pembalikan arus modal. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)  yang  memicu  tingginya  infasi pada  Juni dan  kenaikan Upah Minimum Provinsi  (UMP)  Jakarta  di  awal  tahun
ini ikut menambah beban tersendiri bagi  pelaku  usaha.  Usaha-usaha  yang tergolong  foot loose industry dengan cepat merelokasi pabrik mereka ke Jawa Tengah atau Jawa Timur. Beberapa
perusahaan multinasional diam-diam memindahkan pabrik mereka ke luar negeri.   

Padahal,  dibanding  negara  lain, Indonesia sebenarnya lebih unggul, jika saja kebijakan pemerintahnya lebih bersahabat. “Investor  mulai  meninggalkan  China karena biaya upah di China terlalu besar. India tidak lagi dilirik karena rupee terus melemah, defsitnya neraca perdagangan, banyak  konfik,  dan  tidak  punya  energi. Bangladesh tidak bisa menjamin situasi
kerja yang layak bagi pekerjanya. Sekarang Vietnam sedang menjadi anak emas. Konon, kebijakan investasinya lebih feksibel  dibanding  Indonesia,”  ungkap Profesor Sammy.

Namun,  Profesor  Sammy  yakin  jika relokasi masih berlangsung sampai tahun depan, kenaikan upah hanya akan sebesar infasi riil, dan akan berhenti di satu titik. Masyarakat perlahan akan mulai belajar bahwa kenaikan upah terus menerus akan membuat lebih banyak perusahaan, terutama  Usaha  Kecil Menengah  (UKM) gulung tikar dan angka pengangguran meninggi. Selain itu, pemerintah dinilai masih belum berkomitmen menciptakan situasi dan kebijakan investasi Indonesia menjadi  sefeksibel,  seaman,  dan  sepasti negara maju.

Investasi Melambat

Harapan akan peningkatan kese-jahteraan masyarakat, terutama pekerja, muncul dari rencana penerapan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang sedianya akan diterapkan mulai Januari
2014. Di bawah pengelolaan Badan Penyelenggara  Jaminan  Sosial  (BPJS), Jamsosnas akan menggantikan program-program jaminan sosial sebelumnya (Askes, Jamsostek, Taspen, Asabri) yang dinilai kurang memberikan manfaat bagi penggunanya. Meski demikian, A. Prasetyantoko  mengingatkan  bahwa manfaat Jamsosnas belum akan berdampak langsung hingga sistem dan
implementasinya berjalan jelas.

Faktor implementasi, lagi-lagi menjadi pokok persoalan yang membuat program pemerintah lain, yaitu empat paket kebijakan penyelamatan ekonomi yang sudah diluncurkan pada akhir Agustus lalu, menjadi tidak bergigi.Sejalan,  Profesor  Sammy  juga  sama-sama meyakini bahwa kebijakan ini tidak akan efektif. “Apalagi pada tahun pemilu 2014 nanti, semua menteri sebagai pelaksana kebijakan tersebut, sibuk mengamankan kepentingan masing-masing,” katanya.

Lima jurus BI yaitu; empat kali menaikkan tingkat suku bunga dalam setahun, memperpanjang  tenor Sertifkat Bank Indonesia, memperluas instrumen simpanan valas berjangka, menyesuaikan aturan giro wajib minimum, dan menerbitkan aturan nilai pinjaman kredit properti, dinilai sudah tepat, namun masih perlu kerjasama semua pihak. Kolaborasi faktor-faktor domestik dan global di atas membuat Bank Dunia memprediksi ekonomi dan investasi Indonesia akan melemah di tahun 2014. Dalam paparan  Indonesia Economic Quarterly-nya, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2014 mendatang hanya mencapai 5,3 persen. 

Soal  ini, A.  Prasetyantoko  punya pendapat  sendiri,  “Perkembangan ekonomi Indonesia memang masih melambat pada 2014. Tapi prediksi saya tidak sepesimis prediksi Bank Dunia. PDB kita masih ditopang belanja domestik atau konsumsi masyarakat.”

Kelas Menengah

Awal 2013, seperti tahun-tahun sebelumnya, pemerintah menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tahun ini diharapkan kembali bersumber dari konsumsi masyarakat. April 2013, data Asian Development Bank (ADB) menyebut bahwa konsumsi swasta tumbuh 5,3 persen dan berkontribusi hampir setengah dari total pertumbuhan produk domestik bruto  (PDB)  dari  segi  pembelanjaan.  Ini merupakan angka tertinggi dalam empat tahun terakhir. Angka ini didukung beberapa kondisi
seperti  penyesuaian  gaji  Pegawai  Negeri Sipil (PNS) dan TNI Polri, kenaikan UMR, serta peningkatan pendapatan tidak kena pajak  (PTKP). Selain  itu, kontribusi peningkatan konsumsi berasal dari pembelanjaan menjelang Pemilu 2014.

Meski demikian, menurut pakar perencana keuangan dari QM Financial, Ligwina Hananto,  kenaikan
penghasilan hanyalah kenaikan pendapatan rumah tangga yang belum tentu diikuti daya beli. Jika pendapatan meningkat,  namun  disusul  infasi  tinggi, tentu sulit mempertahankan daya beli.
Maka, penting agar pemerintah dapat mewujudkan kebijakan pengendalian infasi,  menciptakan  insentif  menabung, mendorong  UKM  agar  produksi  lokal bisa terlibat dalam pemenuhan konsumsi masyarakat, mengatur tata niaga bahan pokok agar tidak terjadi lonjakan harga.

Di tengah ketidakpastian situasi ekonomi, dukungan pemerintah terhadap peningkatan daya beli masyarakat, khususnya golongan menengah, memang adalah salah satu peluang yang harus
ditangkap pelaku usaha. Menyikapi kenaikan suku bunga acuan BI, menurut Profesor  Sammy,  usaha  seperti  properti, misalnya, sebaiknya diarahkan pada pasar niche, mengarah pada kelas menengah ke atas yang masih punya uang lebih untuk investasi.

Kelas Penopang

Maret 2013 lalu, lembaga konsultan manajemen  bisnis,  Boston  Consulting Group, merilis hasil risetnya tentang pertumbuhan kelas menengah atas Indonesia yang diprediksi mencapai 141
juta  orang  pada  2020.  Populasi  kelas menengah dengan asumsi pengeluaran di atas Rp 3 juta per bulan akan melonjak dari 23,2 juta jiwa menjadi 49,3 juta jiwa. Sementara kaum elite yang
pengeluarannya  di  atas  Rp  7,5  juta per bulan juga akan naik dari 2,5 juta jiwa  menjadi  6,9  juta  jiwa.  Angka  ini didasarkan pada tren konsumsi kebutuhan rumah tangga yang makin berorientasi pada fungsionalitas dan kenyamanan.

Prediksi  ini  tentu  dapat  dibaca  sebagai sinyal positif bagi pelaku usaha domestik maupun multinasional. Di bidang politik, yang nyata bertatutan erat dengan kondisi ekonomi, golongan
menengah tersebut diprediksi juga akan menentukan nasib bangsa ini pada Pemilu 2014 mendatang. Dalam kumpulan esainya, “Ekonomi Indonesia, Mau ke Mana?” yang diterbitkan Kepustakaan Populer  Gramedia  (KPG)  pada  2011, Wakil  Presiden  Boediono  menyebut
masyarakat kelas menengah Indonesia sebagai kelas pembaharu. Mereka adalah golongan yang berpotensi berkontribusi langsung kepada demokrasi.

Ketika masyarakat berpenghasilan rendah lebih memusatkan upaya pada bagaimana memenuhi kebutuhan dari hari ke hari, dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, golongan menengah diharapkan berkomitmen mengawal demokrasi. Namun, menurut Boediono, pertumbuhan kelas menengah hanya dapat bermanfaat bagi Indonesia bila didukung pelayanan publik yang baik,
keteraturan tata kelola pemerintahan, akses pendidikan yang merata, dan pertumbuhan ekonomi yang tersebar sehingga tercipta iklim kompetisi yang sehat.

Era Baru

2008, saat krisis menyapu perekonomian Amerika Serikat dan sebagian Eropa, Indonesia termasuk
negara yang tetap memiliki pertumbuhan ekonomi positif. Menurut Ligwina Hananto, ini terutama karena ekonomi lebih banyak dipengaruhi faktor konsumsi. Kita tidak bergantung terlalu banyak pada ekspor impor. Bedanya dengan saat ini, rupiah melemah karena disinyalir lambatnya keputusan menaikkan harga BBM  diangkat,  sehingga  timbul  defsit.

Selain penyebab lain yaitu penarikan dana dari negara berkembang ke negara Barat. Dalam hal perencanaan keuangan, sebetulnya untuk keluarga-keluarga Indonesia, efek perubahan kurs dolar rupiah ini tidak terlalu banyak. Namun karena kita adalah negara yg banyak sekali mengimpor bahan baku, maka keluarga-keluarga Indonesia tetap terkena dampaknya walaupun belum tentu secara langsung. Di 2014, harga bahan pokok, akibat perubahan kurs, harga bahan pokok diprediksi akan kembali meningkat.

Hal yang perlu dilakukan oleh keluarga adalah memonitor perubahan harga bahan pokok di pasaran dan melakukan substitusi dengan bahan yang lebih murah, atau substitusi pos pengeluaran dan mengalokasikan pos lain yang tersier untuk keperluan pokok. Dalam beberapa kasus, bahkan perlu direkomendasikan meningkatkan penghasilan.“Saya optimis karena kita punya bonus demograf  yang  ke depannya  akan menjadi tenaga kerja potensial, kekayaan alam, dan pasar golongan menengah yang berdaya beli.

Tugasnya sekarang adalah meningkatkan kapasitas,” ujar Prasetyantoko.  Apalagi,  The  Global
Competitiveness  Index  2013–2014 yang  dirilis  World  Economic  Fourm menempatkan Indonesia pada posisi 38 dari 148 negara. Setingkat di bawah Thailand, dengan Swis pada posisi pertama, dan Singapura pada ranking kedua. Hingga muncul pemimpin baru yang berkomitmen pada terciptanya kondisi pendukung perekonomian nasional, semua pihak nampaknya harus sabar dengan sekadar mengamati dan menunggu.

“Business as usual tanpa ada yang berani mengambil keputusan besar, sampai muncul presiden baru dengan prediksi kebijakan yang akan dikeluarkan,”  demikian  analisa  Profesor Sammy tentang kuartal pertama perekonomian 2014. Dengan demikian, pesan  Prasetyantoko  untuk  para  pelaku usaha dalam menutup penghujung 2013 dan membuka 2014 adalah, “Lebih baik tidak melakukan banyak ekspansi.


Share/Bookmark

ARTIKEL TERKAIT :




     

    KONSULTASI
    Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

    Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
    [selengkapnya]


     











    HEADLINE :


      

     

     

    heading

    K O B I S

    Wani Piro

    Point of View

    MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
    BUKAN SUPERMAN!

    Closer With

    PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

    Finance

    Disiplin Administratif:
    Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

    Talent Behavior

    Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

    EXPLORE

    Merek-Merek Penanda Zaman Baru

    Operations 

    SEGITIGA EMAS

    Marketing

    BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

     
    KONFLIK KEKUASAAN
     
    SEDERHANA ITU...
    SEMPURNA!

     
     
    TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

    BIZPEDIA

    KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

    BOOK INSIGHT

    David and Goliath Malcolm Gladwell
     
     
     
     
    JURNAL IRJBS
     
    Agustus - November 2012
     
    Vol. 5 No. 2
     
     
     
     
     
     
    April - Juli 2012
     
    Vol. 5 No. 1
     
     
     
     
     
     
    Desember 2011 - Maret 2012
     
    Vol. 4 No. 3
     
     
     
     
     
     
    AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
     
    Vol.4 No.2
     
     
     
     
     
     
    JURNAL IRJBS
     
    April s/d Juli 2011
     
    Vol. 4 No. 1
     
     
     
     
     
     

     
     JURNAL INTEGRITAS
     
    Desember 2010 s/d Maret 2011

    VOL. III NO. III
     
     
     
     
     
     
     
     JURNAL INTEGRITAS
     
    Agustus s/d November 2010
     
    VOL. III NO. II
     
     
     
     
     
     
     JURNAL INTEGRITAS
     
    April s/d Juli  2010
     
    VOL. III NO. I
     
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
     
    VOL. II NO. III
     
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
     
    VOL. II NO. II 
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    APRIL S/D JULI 2009
     
    VOL.II NO.I 
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
     
    VOL.I NO.III
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
     
    VOL.I NO.II

    Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

    Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

    Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

    Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

    Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

    Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

    The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

    JURNAL INTEGRITAS

    MAI 2008

    VOL.I NO.I 

    Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

    Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

    Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

    Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

    Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

    Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
     
     
     
     

    buku 



    Untuk melihat preview klik Cover ini!

    Untuk berlangganan klik Di Sini!
     
    //

    Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
          Sangat Sesuai
          Cukup Sesuai
          Kurang Sesuai




    Unique Visits Today: 356
    Hits Today: 951
    Total Unique Visits: 478691
    Total Hits: 31045366
    Guests Online: 8


       
       

      MENU HOME:




      MENU JOURNAL:




      MENU FORUM:


    PMBS Publishing   
    www.management-update.org | copyright © 2018