A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 22 July 2018
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME EDITORIAL HEADLINE DEPARTMENT REGULAR SUBSCRIPTION ARCHIVE    
   
 
  • Cyb3r001

    uploads/slide/sd.jpg

    Hacked By Cyb3r001 was here

 
 
2010-04-15 16:52:40
THE PRICEELES ASSET CALLED HUMAN

Oleh : Andreas Budihardjo

Bukan sekadar pengembangan produk, sistem, atau layanan inovatif yang jadi perhatian perusahaan untuk bisa berdaya saing. Tapi, lihatlah sumber daya manusia sebagai modal penting, terutama mereka yang punya kompeten dan motivasi tinggi.

Perkembangan  dunia  bisnis  semakin lama makin kompetitif bahkan dalam konteks global. Konteks perdagangan bebas yang diusung Organisasi Perdagangan  Dunia  (WTO)  “memaksa”
perusahaan lokal harus tahan banting terhadap tekanan yang masuk dari negara lain. “Lingkungan bisnis regional seperti Indonesia juga dipengaruhi lingkungan bisnis global, sehingga perusahaan lokal perlu melakukan perubahan pengelolaan secara  efektif.  Untuk  menghadapi kompetisi ketat, manajemen puncak perlu  meredefnisikan  aplikasi  strategi perusahaan,” jelas Hamel dan Prahalad (1994).

Keberhasilan ini sangat tergantung pada berbagai faktor, antara lain strategi, struktur,  human capital  (SDM),   dan budayanya. Mencari peluang usaha dalam situasi kompetitif sekaligus krisis memang bukan hal yang mudah dilakukan, meskipun  tetap  ada.  Penelitian  dan sejarah membuktikan bahwa peran modal manusia dalam meraih keberhasilan perusahaan sangat besar.
Perusahaan  yang  tidak  memiliki keunggulan modal manusia, bila meski disokong modal keuangan besar akan tetap akan bersaing, dan berkembang.

Lingkungan bisnis yang kompetitif dan krisis global menuntut modal manusia berkualitas tinggi serta pengelolaan yang  tepat.  Pengelolaan  modal  manusia dilakukan mengacu pada beberapa
langkah perencanaan strategis, mulai dari rekrutmen dan seleksi, pemeliharaan, serta pelatihan dan pengembangan secara profesional.

Peran Basis Modal

Istilah  Human capital atau modal manusia banyak digunakan sebagai jargon baru dari istilah sumber daya manusia (SDM).  Jika ditelusuri secara semantik istilah “modal manusia” seolah terkesan mendudukkan manusia sebagai “sesuatu yang pasif” dan sejajar dengan mesin yang
“menghasilkan” keluaran. Meski masih terjadi perdebatan istilah, modal manusia atau SDM dalam hal ini tetap diposisikan sebagai aset perusahaan.

Tapi, jika disimak lebih obyektif, istilah modal sulit digantikan dengan kata lain karena pada dasarnya sudah mencerminkan “asset” dalam manusia, seperti kompetensi dan ketrampilan kerja.
Rumusan human capital pada Economic Cooperation  and  Development  (OECD) 1998,  merujuk  pada  pengetahuan, kompetensi dan atribut karyawan yang memberi nilai ekonomis pada organisasi.

OECD  kemudian  menyempurnakan rumusan “human capital” menjadi pengetahuan, keterampilan, kompetensi dan atribut lain (nilai-nilai, norma, motivasi, dll) yang ada dalam manusia.
Memfasilitasi mereka dalam menciptakan “well-being”, dalam diri, sosial dan ekonomi. 

Paparan  tersebut menunjukkan kalau modal manusia merupakan kompetensi, nilai-nilai, potensi dan kebebasan yang dimiliki setiap manusia dalam menentukan pilihan hidup bermakna secara bebas. Meski makna “kebebasan” masih dapat diperdebatan secara flosofs, namun terlihat lebih mengacu pada bahasan konteks, “kompetensi”, “atribut”, “kebebasan”, “kebermaknaan”, serta pengelolaannya.

Asah Manusia

Manusia memegang peran penting dalam memenangkan persaingan, sehingga wajib terus diasah dan ditingkatkan dalam skala nasional. Secara makro, modal manusia diukur berdasarkan Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh insitusi internasional, seperti  United Nations
Development Programme (UNDP). Negara maju seperti Norwegia, Australia, Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman memiliki HDI sangat tinggi (di  atas  0,920).  Terbukti  dari  tingkat
kesejahteraan dan kompetensi warga negaranya secara umum. Sementara Indonesia, masih butuh bekerja keras untuk meningkatkan kualitas SDM dengan berbagai upaya, mulai dari peningkatan
kesehatan masyarakat, pendidikan, dan ekonomi.

Data  UNDP,  HDI  Indonesia  tahun lalu hanya masuk dalam peringkat 121 dunia dengan 0,629 dari total 186 negara yang ada. Memang HDI Indonesia menunjukkan peningkatan cukup baik ketimbang  posisi  1980  yang  baru  0,422 dan 2011 mencapai 0,617. Tapi, indeks ini masih relatif rendah jika dibandingkan negara-negara tetangga. Singapura misalnya,  indeksnya  mencapai  0,895, disusul  Malaysia  (0,769),  dan  Filipina (0,654). Data 2010 menunjukkan, negara yang memiliki indeks  subjective well-being tinggi antara lain Denmark, Kanada, Norwegia,  Cekoslowakia,  Swedia  dan Belanda.

Skala Mikro

Dalam lingkup lebih kecil, modal manusia lebih mengacu pada kompetensi, komitmen, motivasi, nilai-nilai, kecerdasan moral, kesejahteraan (well-being) serta keterlibatan karyawan (employee engagement) pada suatu perusahaan. Semua faktor itu langsung tercermin pada kinerja mereka.  Keterikatan atau keterlibatan karyawan seyogianya mengacu pada pilihan bebas yang bermakna dan bukan karena  satu hasil manipulasi.

Produktivitas  yang  tinggi  yang direfeksikan  dari  kinerja  setiap  individu akan berdampak positif pada kinerja perusahaan.  MacClleland mengatakan, “Kompetensi SDM merupakan  human capital yang perlu dikelola secara efektif karena ikut menentukan keberhasilan organisasi.”

Kompetensi mencerminkan kecakapan karyawan sesuai dengan bidang kerja yang ditekuninnya. Misalnya, seorang manajer harus memiliki kemampuan analitikal dan  manajerial tinggi seperti dalam mengelola sekaligus mengembangkan anak buah. Dalam dunia usaha yang semakin terbuka, tuntutan kompetensi global jadi menjadi standar baru yang wajib dipenuhi. Kompetensi global pada dasarnya mengacu pada pengetahuan, kemampuan, serta kepribadian yang “mumpuni” dalam konteks dunia (global).

Seorang pemimpin berkompetensi global atau berkompetensi “intercultural” memiliki kepribadian terbuka (open) terhadap lingkungan bisnis dan tuntutan para pemangku kepentingannya. Ia juga memiliki pengetahuan bisnis internasional, mampu bekerja sama, dan berdagang dengan perusahaan  dari negara lain. Dengan demikian, ia mampu menghadapi lingkungan bisnis yang kompetitif  secara  arif.  Perusahaan  wajib menempatkan manusia sebagai modal yang berharga sekaligus menekankan kehendak bebas mereka untuk memilih sesuatu yang bernilai bagi mereka.

Untuk memutuskan bergabung atau tidak dengan suatu  perusahaan, kemudian bersama para karyawan  berkomitmen mencapai suatu tujuan.Perusahaan  elektronik  Samsung  asal Korea Selatan, menjadi bukti keberhasilan pengembangan modal manusia dengan memposisikan karyawan dan perusahaan mereka sebagai yang terkemuka dekade ini. Strateginya, selain melihat kompetensi dan potensi, perusahaan berupaya merekrut dan menyeleksi karyawan yang menganut nilai-nilai tersebut.

Selain Samsung, Zappo merekrut calon karyawan dengan tidak hanya mengindahkan kompetensi tetapi juga keselarasan nilai mereka dengan budaya yang berlaku (cultural ft). Secara singkat
dapat dikatakan bahwa nilai-nilai diri merupakan bagian dari modal manusia yang berharga dan jika selaras dengan nilai-nilai perusahaan maka akan menjadi modal organisasi yang bernilai dalam upaya mencapai visi, misi dan sasaran perusahaan.

Timbang dan Selaraskan

Demi tercapainya tujuan perusahaan, keselarasan nilai diri dengan organisasi merupakan salah satu modal dasar yang kuat. Selain itu, kesamaan perspektif akan turut membangun komitmen afektif karyawan -karena kesamaan visi, misi, dan nilai dengan perusahaan. Hasilnya, mereka  mempunyai kepuasan kerja yang tinggi serta berdampak positif pada  kinerja.  Ujung  akhirnya  adalah terdongkraknya performa korporasi.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa komitmen afektif berkorelasi dengan kepuasaan kerja dan kinerja perusahaan. Termasuk korelasi dengan gaya kepemimpinan yang  mengantar perusahaan mencapai tujuannya.  

Perusahaan perlu mempertimbangkan kecerdasan moral. Menurut  Lennick dan   Kiel dalam  Moral Intelligence (2005), “Kecerdasan moral merupakan satu kapasitas mental untuk menentukan
penerapan prinsip universal. Kecerdasan moral menjadi bagian dari modal manusia yang mengantar perusahaan pada keberlanjutan usahanya (sustainability).

Pemimpin  dengan  kecerdasan  moral sangat dibutuhkan oleh perusahaan masa kini dan masa depan, karena kemampuannya membangun citra positif yang  dibutuhkan.  Para  pemimpin  ini memiliki integritas tinggi, menawarkan janji apa yang dapat ia penuhi dan tidak membohongi para pemangku kepentingan.Pencitraan  diri  penting  tetapi  jika hanya sebatas wacana tentu akan berdampak  negatif.  Pembangunan  citra harus dibarengi dengan kenyataan. Paling  mudah,  contoh  kalau  janji yang tawarkan pada pelanggan harus dipenuhi.

Budihardjo dalam salah satu penelitiannya (2005) mengemukakan bahwa kecerdasan moral para  manajer menengah Indonesia relatif baik kendati demikian masih perlu ditingkatkan karena
masih belum optimal.

 

 

 

 

 

Andreas Budihardjo

 

 

 

 

 

 


Share/Bookmark

ARTIKEL TERKAIT :




     

    KONSULTASI
    Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

    Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
    [selengkapnya]


     











    HEADLINE :


      

     

     

    heading

    K O B I S

    Wani Piro

    Point of View

    MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
    BUKAN SUPERMAN!

    Closer With

    PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

    Finance

    Disiplin Administratif:
    Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

    Talent Behavior

    Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

    EXPLORE

    Merek-Merek Penanda Zaman Baru

    Operations 

    SEGITIGA EMAS

    Marketing

    BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

     
    KONFLIK KEKUASAAN
     
    SEDERHANA ITU...
    SEMPURNA!

     
     
    TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

    BIZPEDIA

    KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

    BOOK INSIGHT

    David and Goliath Malcolm Gladwell
     
     
     
     
    JURNAL IRJBS
     
    Agustus - November 2012
     
    Vol. 5 No. 2
     
     
     
     
     
     
    April - Juli 2012
     
    Vol. 5 No. 1
     
     
     
     
     
     
    Desember 2011 - Maret 2012
     
    Vol. 4 No. 3
     
     
     
     
     
     
    AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
     
    Vol.4 No.2
     
     
     
     
     
     
    JURNAL IRJBS
     
    April s/d Juli 2011
     
    Vol. 4 No. 1
     
     
     
     
     
     

     
     JURNAL INTEGRITAS
     
    Desember 2010 s/d Maret 2011

    VOL. III NO. III
     
     
     
     
     
     
     
     JURNAL INTEGRITAS
     
    Agustus s/d November 2010
     
    VOL. III NO. II
     
     
     
     
     
     
     JURNAL INTEGRITAS
     
    April s/d Juli  2010
     
    VOL. III NO. I
     
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
     
    VOL. II NO. III
     
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
     
    VOL. II NO. II 
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    APRIL S/D JULI 2009
     
    VOL.II NO.I 
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
     
    VOL.I NO.III
     
     
     
     
     
     
    JURNAL INTEGRITAS
     
    AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
     
    VOL.I NO.II

    Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

    Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

    Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

    Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

    Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

    Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

    The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

    JURNAL INTEGRITAS

    MAI 2008

    VOL.I NO.I 

    Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

    Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

    Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

    Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

    Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

    Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
     
     
     
     

    buku 



    Untuk melihat preview klik Cover ini!

    Untuk berlangganan klik Di Sini!
     
    //

    Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
          Sangat Sesuai
          Cukup Sesuai
          Kurang Sesuai




    Unique Visits Today: 92
    Hits Today: 2760
    Total Unique Visits: 454088
    Total Hits: 30498005
    Guests Online: 25


       
       

      MENU HOME:




      MENU JOURNAL:




      MENU FORUM:


    PMBS Publishing   
    www.management-update.org | copyright © 2018