A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 28 May 2018
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME EDITORIAL HEADLINE DEPARTMENT REGULAR SUBSCRIPTION ARCHIVE    
   
 
  • Cyb3r001

    uploads/slide/sd.jpg

    Hacked By Cyb3r001 was here

 
 
Oleh : Bely Utarja

TSUNAMI DI JEJARING SOSIAL

Mengapa Pasar Lebih Berisiko dan Lebih Berpeluang?

 

 

Tsunami Menerjang

Pagi-pagi itu, seperti biasa Anton sedang mempersiapkan aktivitas harian. Tiba-tiba, tanpa peringatan, terjadi gempa dahsyat mengguncang hingga membuatnya terjatuh. Ia berusaha untuk bangkit dan dengan terhuyung-huyung akhirnya berhasil berlari keluar dari rumahnya. Ia melihat para tetangganya berhamburan ke jalan dan tampak beberapa bangunan retak bahkan rubuh. Perlu beberapa saat untuk gempa tersebut akhirnya mereda.

Setelah agak tenang, Anton teringat peristiwa gempa di laut yang menyebabkan tsunami di Aceh sekitar satu setengah tahun sebelumnya. “Bakal ada tsunami atau tidak ya?”, tanyanya kepada para tetangga di sekitar. “Tsunami? Wah betul, tsunami!”, beberapa tetangga dekatnya bergegas berlari pergi menjauh, ada yang menggunakan kendaraan. Yang lain masih terdiam termasuk Anton yang tertegun, terheran-heran. ”Apa iya ada tsunami ya?” Sebelum berpikir lebih jauh, serombongan lain muncul melewati sambil berteriak “Tsunami! Tsunami!”. Melihat itu Anton tidak berpikir panjang lagi, segera mengajak istri dan anaknya semata wayang yang kebetulan sudah ada di sampingnya. Mereka berlari menuju jalan utama dan di sana turut berebut naik kendaraan umum ke arah luar kota.  Akhirnya mereka dapat menaiki salah satu kendaraan umum. Kecemasan masih melanda pikiran Anton, ”Mudah-mudahan kendaraan ini cukup cepat untuk membawa menjauh dari tsunami.”

Seperti anda telah ketahui, ternyata memang tidak ada tsunami. Kalau pun gempa tersebut menyebabkan tsunami, kota Yogyakarta berada di 110 meter di permukaan laut dan berjarak 25 kilometer dari laut. Lokasi yang aman terhadap terjadinya tsunami. Meskipun fakta ini diketahui oleh Anton sebagai orang Yogya, toh bila semua orang di sekitar berlari dengan wajah ketakutan dan panik sambil berteriak ”Tsunami! Tsunami!”, ia tidak mau mengambil risiko untuk tidak ikut berlari dan menjauh dari kota.  Setelah 15 menit di kendaraan, anaknya bertanya,”Tsunaminya mana pak?”. Anton tidak langsung menjawab, dalam hati ia bertanya,”Apa yang saya lakukan di sini?”   

Saat ini, Anton selalu tertawa bila teringat peristiwa pengambilan keputusan yang tampak konyol tersebut. Ia heran mengapa dirinya mudah dipengaruhi oleh pendapat orang lain. Bahkan ia ragu bila pun sempat berpikir rasional saat itu, tampaknya belum tentu keputusannya berubah dalam keadaan itu.

Aku Tahu Yang Kamu Pikir Aku Pikir...

Beberapa bulan sebelumnya ia memiliki pengalaman yang hampir serupa dengan kejadian di atas. Waktu itu terjadi pencairan reksadana besar-besaran. Anton tahu bahwa bila suku bunga naik, maka nilai pasar obligasi akan turun, sehingga nilai unit penyertaan reksadana yang didominasi obligasi pun akan turun. Meskipun penerapan marked to market baru dilakukan oleh sebagian reksadana pada waktu itu, ia telah mengantisipasi apabila Federal Reserve kembali menaikkan suku bunganya akan berdampak pada jatuhnya nilai obligasi di Indonesia.

Menjelang akhir kuartal 1 2005 itu ia berhitung. Ia melakukan uji  stress terhadap nilai pasar reksadana pendapatan tetap yang ia miliki apabila terjadi kenaikan suku bunga yang ekstrim. Berdasarkan uji tersebut, secara kasar ia mendapatkan gambaran bahwa bila ada shock kenaikan suku bunga sebesar 500 hingga 850 basis poin, nilai aset bersih yang ia miliki dapat turun antara 18% hingga 28%. Berdasarkan informasi tersebut, ia akhirnya memutuskan untuk mencairkan sebagian reksadana pendapatan tetapnya untuk dipindahkan ke reksadana saham. ”Sebagian saja, toh suku bunga belum tentu akan naik terus”.

Setelah waktu berjalan ia mendengar banyak kawan dan investor reksadana lainnya juga berpikir untuk atau bahkan telah mencairkan reksadananya. Apalagi setelah kebijakan marked to market diwajibkan oleh Bapepam pada April 2005. Banyak di antara mereka yang merasa terkejut dengan penurunan nilai unit penyertaan yang mereka miliki. Mereka merasa bahwa reksadana pendapatan tetap seharusnya sama seperti tabungan tapi bunganya lebih tinggi. 

Keterkejutan akan turunnya nilai unit penyertaan ditambah dengan informasi mengenai pencairan yang dilakukan oleh investor lain menyebabkan banyak investor tidak mau ketinggalan.  Gelombang pencairan ini terjadi pada Maret-April dan kemudian Agustus-September. Maraknya pencairan reksadana ini membuat Anton berpikir untuk mencairkan sisa reksadana pendapatan tetapnya, ”Bila saya terlambat mencairkan, sedangkan saya tahu investor lain melakukannya, bisa jadi pengelola reksadana tidak punya dana tersisa untuk mengembalikan nilai investasi saya. Sebaiknya saya segera mencairkan sisanya.” Ia akhirnya memasukkan formulir pencairan reksadana.  Setelah satu bulan ia berdebar-debar, akhirnya didapatkan juga pencairan investasinya. Pengelola reksadana tersebut terpaksa menjual obligasi-obligasi yang dimiliki dengan harga yang tertekan.  

Dari Wisdom ke Madness of the Crowd

Kita sering mendengar istilah Vox populi, vox dei. Demokrasi yang menjunjung suara rakyat, pemilihan pemimpin pemerintahan dilakukan oleh rakyat secara langsung, umum, bebas dan rahasia. Dengan cara ini diharapkan pemimpin yang terbaik dari pilihan yang ada akan terpilih. Suara rakyat banyak merupakan jawaban yang terbaik.

Hal yang serupa juga dapat kita lihat pada suatu acara hiburan kuis TV. Ketika peserta tidak bisa menjawab ia bisa meminta bantuan kepada para penonton. Dan hampir selalu rata-rata jawaban penonton tersebut juga cukup akurat. Perusahaan-perusahaan penghasil produk juga telah memanfaatkan keuntungan dari proses pengambilan keputusan semacam ini untuk pengembangan produk baru. Kembali, suara orang banyak menghasilkan keputusan yang terbaik.

Bila kita tengok lagi dua cerita Anton di atas, hal ini ternyata tidak selalu terjadi. Tetapi kita bisa melihat kondisi apa yang membuatnya berbeda. Pada kedua cerita tersebut, keputusan diambil secara sekuensial. Berbeda dengan pemilihan umum maupun pemberian pendapat secara independen, dalam dua cerita di atas kita bisa mengetahui keputusan orang lain terlebih dahulu sebelum kita mengambil keputusan. Faktor luar ini kemudian mempengaruhi keputusan kita. Ini menunjukkan bahwa pada umumnya keputusan yang diambil oleh seseorang tidak dilakukan dalam keadaan terisolasi.

Yang menarik dari kedua cerita di atas adalah perbedaan di antara keduanya. Pada cerita gempa di atas, apa pun keputusan yang diambil tidak akan mempengaruhi terjadinya tsunami. Apakah orang-orang tersebut memutuskan untuk lari atau tetap diam di tempat, hal tersebut tidak membuat tsunami datang atau tidak. Namun hal ini berbeda pada cerita kedua. Keputusan melakukan pencairan reksadana oleh para investor mempengaruhi harga di pasar. Semakin banyak yang melakukan pencairan, pasar semakin tertekan. Investor yang terlambat mengambil keputusan untuk keluar dari pasar akan mendapati nilai investasinya tergerus parah. Tsunami benar terjadi. Bagi investor yang sedang memerlukan dana dalam waktu dekat, keputusan untuk melakukan pencairan lebih cepat adalah keputusan yang rasional.

Jejaring Risiko dan Jalan Abnormal

Ada beberapa alasan mengenai mengapa faktor eksternal berupa keputusan orang lain dapat mempengaruhi pengambilan keputusan seseorang. Yang pertama adalah ketidakpastian. Dalam ketidakpastian seorang individu cenderung ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh orang lain. Bisa jadi karena merasa tidak memiliki waktu atau kemampuan dalam menganalisis keadaan. Ataupun boleh jadi karena tidak yakin bisa memiliki informasi yang cukup untuk mengambil keputusan. Keputusan orang banyak akhirnya dijadikan pegangan.

Ambil contoh misalkan anda ke luar kota dan hendak memilih di antara dua rumah makan tak dikenal di hadapan anda. Satu di antaranya ramai dikunjungi sedangkan yang lain sangat sepi. Tentunya anda akan lebih memilih rumah makan yang lebih ramai. Anda tidak pernah tahu bahwa gurame goreng favorit di rumah makan tersebut sebenarnya buatan rumah makan yang sepi tadi.

Bayangkan seorang day trader yang sedang memantau pergerakan harga-harga saham di saat pembukaan pasar. Pada saat melihat saham Telkom diperdagangkan naik dengan antrian beli yang lebih besar dibandingkan dengan antrian jual ia memutuskan untuk langsung membeli dengan harga penawaran terbaik. Keyakinan atas keputusannya muncul akibat pada malam hari sebelumnya ia melakukan chatting melalui situs jejaring sosial dengan beberapa rekan investor mengenai isu bakal naiknya saham tersebut. Menariknya, apapun yang terjadi di perusahaan PT Telkom Tbk. saat itu tidaklah begitu penting karena yang lebih penting adalah harga sahamnya naik. Perkiraan sudah didapatkan di malam harinya, keesokan hari perkiraan itu dikonfirmasi dengan pergerakan dan volume pembelian saham itu di pasar. Bila di pagi hari itu ia dapatkan, maka ada peluang besar bahwa pada siang atau sore harinya ia bisa menjual dengan harga yang lebih tinggi.

Hipotesa pasar efisien mengatakan bahwa harga yang terjadi di pasar telah merefleksikan semua informasi yang relevan terkait dengan aset yang diperdagangkan di pasar tersebut. Informasi tersebut meliputi keadaan ekonomi makro, kondisi perusahaan, iklim kompetisi, kebijakan yang diambil oleh perusahaan dan lain-lain. Para investor akan menganalisis semua informasi ini dan secara rasional akan melakukan keputusan investasinya. Namun banyak data empiris yang menunjukkan bahwa ada waktu-waktu ketika pasar tidaklah efisien. Dalam pasar yang tidak efisien terdapat kemungkinan untuk mendapatkan imbal balik investasi yang abnormal.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Bisa jadi pasar tidaklah rasional seperti yang dibayangkan. Perilaku investor juga dipengaruhi oleh bias yang menyebabkan ia mengambil keputusan irasional yang suboptimal. Penjelasan lain adalah faktor jejaring investor. Keputusan investor dipengaruhi keputusan investor lainnya yang ia dapatkan dari jejaring sosial investor. Pada cerita day trader di atas, keputusan investasinya dipengaruhi oleh faktor eksternal dari jejaring tempat ia berada. Ini menyebabkan harga dapat bergerak bukan hanya karena faktor-faktor di luar pasar (eksogen) tapi juga dari dalam pasar (endogen). Jejaring sosial investorlah yang menjadi katalisnya.

Lompatan Keberuntungan dan Kebuntungan

Tsunami di jejaring sosial membukan peluang untuk keberuntungan maupun kebuntungan besar. Dalam investasi, hal ini terefleksi pada kemungkinan imbal hasil abnormal yang bisa didapatkan. Dalam teori keuangan, distribusi imbal hasil tersebut mengikuti distribusi Gaussian atau biasa disebut distribusi normal. Namun kenyataannya lebih sering terlihat bahwa distribusi yang terjadi memiliki kemungkinan negatif dan positif yang lebih banyak daripada yang diramalkan oleh distribusi normal. Dengan kata lain distribusi imbal hasil memiliki fat tail (lihat ”Kenormalan yang Abnormal”). 

Gambar grafik berikut ini menunjukkan imbal hasil harian indeks gabungan Bursa Efek Indonesia. Terlihat ada lompatan-lompatan besar imbal hasil pada waktu-waktu tertentu. Garis merah dengan petunjuk ’99 percentile’ dan ’95 percentile’ adalah batas yang menunjukkan bahwa lompatan di atas garis tersebut memiliki probabilitas sebesar 1 persen dan 5 persen, berturut-turut. Sedangkan di bawah garis ’5 percentile’ dan ’1 percentile’ memiliki probabilitas 5 persen dan 1 persen berturut-turut.

Lompatan positif tertinggi mencapai 7.92% di tanggal 23 Januari 2008 dan lompatan negatif terbesar adalah – 10.38%  yaitu pada tanggal 8 Oktober 2008. Tampak bahwa lompatan-lompatan tersebut cenderung mengumpul pada rentang waktu tertentu. Di saat-saat itulah investor dapat memiliki keberuntungan atau sebaliknya kebuntungan yang besar.

Jejaring sosial investor turut andil dalam pembentukan lompatan-lompatan ini. Dengan adanya globalisasi dan deregulasi sektor finansial, fenomena jejaring ini menjadi suatu fenomena global.

Banyak Jalan Menuju Krisis

Kejatuhan pasar finansial di negara-negara berkembang termasuk Indonesia pada September-Oktober 2008 menunjukkan bahwa wacana ‘decoupling’ atau keterpisahan dengan kejadian resesi di negara-negara maju tidak berlaku. Meskipun institusi finansial di Indonesia relatif terisolasi dari subprime mortgage, namun integrasi dengan pasar keuangan dunia memberikan jalan lain bagi risiko tersebut masuk ke pasar finansial Indonesia.

Deleveraging, proses pengurangan stok hutang, oleh investor dan bank-bank besar dunia menyebabkan aset-aset finansial dari negara berkembang dijual untuk memenuhi kecukupan modal. Hal ini menyebabkan pasar modal di negara-negara berkembang tersebut menjadi tertekan.

Saat ini lautan finansial dunia terlihat lebih tenang. Namun McKinsey Global Institute melaporkan pada awal tahun ini bahwa stok hutang tersebut justru masih meningkat di berbagai sektor di negara-negara maju. Gelombang deleveraging masih akan terjadi di masa mendatang. Apakah akan menyebabkan lompatan negatif di pasar finansial kita? Kapankah lompatan negatif seperti bulan Oktober 2008 akan terjadi?  Apakah dapat lebih besar?

Jejaring transaksi finansial dunia dan jejaring sosial para pelaku pasar finansial akan sangat menentukan propagasi risiko yang akan terjadi. Dalam keadaan normal jejaring tersebut cukup tahan terhadap gangguan-gangguan kecil. Namun apabila yang terganggu adalah simpul transaksi yang memiliki banyak keterkaitan simpul-simpul lain di berbagai sub jaringan, seperti Lehman Brothers, maka transmisi risiko tersebut dapat mendunia. Dunia menjadi sangat kecil.

Pembuat kebijakan publik di berbagai belahan dunia perlu berusaha memetakan jejaring tersebut dan melakukan penilaian seberapa kuat atau rentan jejaring tersebut terhadap suatu serangan atau gangguan. Gangguan pada tempat yang tepat bisa membuat ’tsunami’ menyebar ke banyak tempat.

Banyak Jalan untuk Ber-Blackberry

Jejaring sosial membuka jalan bagi suatu ide, keputusan, maupun tren untuk menyebar kebanyak orang. Bagaimana hal ini bekerja dan bagaimana mengendalikan serta memanfaatkannya telah mulai dipelajari oleh banyak peneliti dari berbagai bidang keilmuan. Selain dapat menyebabkan lompatan negatif, jejaring ini juga bisa membuat lompatan positif. 

Harga emas yang berharga sekitar $400 per ons di akhir 2004 melesat naik di atas $700 di tahun 2007. Investor masih berniat membeli selama masih ada investor lain yang akan membeli dengan harga lebih mahal di masa mendatang. Pada Desember 2009 harga emas sempat menembus $1200, memberikan rata-rata keuntungan sekitar 25% per tahun sejak akhir 2004 kalau menjual pada saat itu.

Bila anda ke pasar atau pun toko telepon selular, saat ini anda hanya menemukan dua jenis; model blackberry dan model lainnya. Model blackberry tersebut tersedia dalam berbagai macam merek dan harga. Kemampuan untuk bisa saling chatting dan terhubung dengan jejaring sosial virtual dengan harga murah atau bahkan gratis menjadi manfaat yang paling dicari dari sebuah telepon selular saat ini. Para penjual telepon selular pun akhirnya lebih suka memiliki inventori blackberry dibandingkan dengan smartphone lainnya. Imbal balik positif yang terjadi di komunitas pembeli maupun penjual ini menyebabkan penggunaan telepon selular model blackberry menjadi tren di banyak kalangan. 
 
Bagaimana kita bisa menghasilkan produk seperti Blackberry, IBM personal computer, Windows operating system, alat cukur Gillete, toyota Kijang, Pepsodent, Rinso, atau menjadi laris manis seperti Mbah Surip, Tukul Arwana, Harry Potter, Yamaha Mio? Seringkali produk dengan konsep terbaik tidak menjadi pemenang di pasar, meskipun untuk memiliki dominasi jangka panjang tentu saja faktor kualitas diperlukan. Popularitas diperlukan untuk keberhasilan produk-produk konsumen. Pada tahap awal, popularitas perlu dibangun melalui jejaring yang ada termasuk jejaring sosial.

Faktor-faktor eksternal akan mempengaruhi keputusan individu. Dalam jejaring sosial, individu yang satu dengan lainnya dapat terhubung secara horisontal maupun vertikal. Secara horisontal terdapat komunikasi dengan ikatan saling percaya dan kerjasama. Sedangkan secara vertikal terdapat hubungan komando atasan dengan bawahan maupun ketentuan berdasarkan norma atau ketentuan komunitas yang harus diikuti. Seseorang akan dapat mudah menerima pendapat dari orang-orang yang ada di dalam komunitasnya. Melalui hubungan-hubungan semacam ini pemasaran ide maupun produk dapat dilakukan secara efektif.

Tapi untuk membuat suatu ide atau produk diadaptasi oleh sebanyak mungkin orang, perlu dicari jalan untuk menembus satu komunitas ke komunitas lainnya. Untuk melakukan hal ini perlu diperhatikan individu-individu yang menjadi simpul penghubung antar komunitas. Melalui simpul-simpul informasi inilah penularan ide dan produk ke masyarakat yang lebih luas dapat dilakukan. Simpul-simpul ini biasa disebut dengan istilah ”Weak Ties”. Dengan memicu sebanyak mungkin weak ties, terutama yang terhubung dengan banyak kalangan, suatu ide atau produk dapat menjadi populer.

Membangun Mesin Pembuat Tsunami

Perkembangan teknologi komunikasi dan transaksi membuat dunia semakin terhubung dan semakin kecil. Kita dapat berhubungan dengan siapa pun di dunia hanya melalui hubungan dengan beberapa orang saja (degree of separation). Kegagalan bayar debitur KPR di AS dapat membuat eksportir di Indonesia gigit jari. Jejaring dapat menjadi wahana aliran peluang maupun risiko. Seiring dengan perjalanan waktu jejaring ini semakin memiliki keterhubungan yang semakin padat dan rumit.

Setelah kejadian, umumnya kita dapat menjelaskan bagaimana jejaring sosial akan beroperasi dalam membuat suatu produk menjadi populer dan sukses atau pun beroperasi menciptakan suatu krisis. Namun berusaha menciptakan hal tersebut tidaklah mudah. Dari setiap kisah sukses produk di pasar, ada jauh lebih banyak cerita tidak sukses. Kita pun tidak akan mudah mencari tahu terlebih dahulu apakah sebuah bank kecil yang sedang kolaps dapat memicu tsunami di jejaring sosial yang menyebabkan risiko sistemik. Dan sebaliknya kita sering terheran-heran dengan suatu produk ’biasa’ dapat meledak di pasaran. Suatu kejadian kegagalan bayar yang terlihat sepele dapat menyebabkan krisis yang besar.

Hal ini menekankan pentingnya memahami struktur, perilaku dan dinamika jejaring. Korporasi dapat memanfaatkan hasilnya untuk mendisain strategi perusahaan dalam pencapaian kesinambungan maupun manajemen risiko.  Pembuat kebijakan pemerintah dapat menggunakannya untuk menunjang kesuksesan program-program yang hendak dijalankan maupun pengambilan keputusan untuk menghindari terjadinya krisis.

Pengetahuan dan pemahaman mengenai jejaring melengkapi kekurangan dari penjelasan rasionalitas dan irasionalitas individu dalam pengambilan keputusan. Yang menarik dari hasil penelitian yang telah dilakukan adalah bahwa perilaku pada level makro banyak yang dapat dijelaskan oleh teori jejaring ini. Hal ini terlepas dari apa yang diputuskan oleh simpul-simpul atau individu-individu di dalamnya secara sendiri-sendiri. Fenomena pareto seperti yang terjadi pada perbandingan antara pangsa pasar produk sukses dengan yang tidak sukses, jumlah kekayaan investor sukses dan tidak sukses, dan lainnya dapat dijelaskan dengan teori jejaring ini.

Apakah pemahaman kita mengenai rasionalitas dan irasionalitas pada level individu dilengkapi dengan pemahaman jejaring dapat lebih meningkatkan kemampuan kita menghasilkan keuntungan di masa mendatang? Yang jelas dengan pemahaman-pemahaman ini kita dapat membuat deskripsi yang jauh lebih lengkap mengenai apa yang akan terjadi.

Masa depan tetap selalu menyisakan ketidakpastian. Sebenarnya ini hal yang cukup melegakan. Apabila kita tahu apa yang pasti akan terjadi di masa depan, yang kita lakukan hari ini jadi tidak menarik.

Referensi

Christakis, N.A., Fowler, J.H.,”Connected, The Surprising Power of Our Social Networks and How They Shape Our Lives”, Little Brown and Company, 2009
Makridakis, S., Hogarth, R. Gaba, A.,”Dance with Chance, Making Luck Work For You”, One,world, 2009“Debt dan Deleveraging : The Global Credit Bubble and Its Economic Consequences”, McKinsey Global Institute, January 2010

Bely Utarja
Pengamat dan Penikmat Risiko
Mengajar Keuangan di Prasetiya Mulya Business School

 

KONSULTASI
Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
[selengkapnya]


 











HEADLINE :


  

 

 

heading

K O B I S

Wani Piro

Point of View

MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
BUKAN SUPERMAN!

Closer With

PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

Finance

Disiplin Administratif:
Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

Talent Behavior

Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

EXPLORE

Merek-Merek Penanda Zaman Baru

Operations 

SEGITIGA EMAS

Marketing

BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

 
KONFLIK KEKUASAAN
 
SEDERHANA ITU...
SEMPURNA!

 
 
TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

BIZPEDIA

KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

BOOK INSIGHT

David and Goliath Malcolm Gladwell
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
Agustus - November 2012
 
Vol. 5 No. 2
 
 
 
 
 
 
April - Juli 2012
 
Vol. 5 No. 1
 
 
 
 
 
 
Desember 2011 - Maret 2012
 
Vol. 4 No. 3
 
 
 
 
 
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
 
Vol.4 No.2
 
 
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
April s/d Juli 2011
 
Vol. 4 No. 1
 
 
 
 
 
 

 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Desember 2010 s/d Maret 2011

VOL. III NO. III
 
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Agustus s/d November 2010
 
VOL. III NO. II
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
April s/d Juli  2010
 
VOL. III NO. I
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
 
VOL. II NO. III
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
 
VOL. II NO. II 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
APRIL S/D JULI 2009
 
VOL.II NO.I 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
 
VOL.I NO.III
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
 
VOL.I NO.II

Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

JURNAL INTEGRITAS

MAI 2008

VOL.I NO.I 

Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
 
 
 
 

buku 



Untuk melihat preview klik Cover ini!

Untuk berlangganan klik Di Sini!
 
//

Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
      Sangat Sesuai
      Cukup Sesuai
      Kurang Sesuai




Unique Visits Today: 445
Hits Today: 34072
Total Unique Visits: 428595
Total Hits: 27070913
Guests Online: 30


   
   

  MENU HOME:




  MENU JOURNAL:




  MENU FORUM:


PMBS Publishing   
www.management-update.org | copyright © 2018