A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 24 August 2017
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME EDITORIAL HEADLINE DEPARTMENT REGULAR SUBSCRIPTION ARCHIVE    
   
 
  • Cyb3r001

    uploads/slide/sd.jpg

    Hacked By Cyb3r001 was here

 
 
BUDI SETIADHARMA (Presiden Komisaris Astra International)

MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
BUKAN SUPERMAN!

 

 BUDI SETIADHARMA

Presiden Komisaris Astra International 

Sebagai dampak dari krisis ekonomi global yang berkepanjangan seperti sekarang ini, sepertinya memang tidak ada satupun sektor bisnis yang benar-benar aman dari goncangannya. Baik perusahaan kecil hingga raksasa sekalipun, mau tidak mau mesti menyalakan alarm status siaga
sambil berjuang keras mencari formula yang paling pas untuk bisa keluar dari wabah krisis tersebut.

Pengetatan  biaya  operasional  adalah kebijakan yang paling umum dilakukan. Demikian juga restrukturisasi karyawan. Bahkah  ada  juga    yang  memilih  ‘tiarap’ dulu atau stop operasi sambil menunggu kondisi membaik, hingga yang paling ekstrim adalah menutup bisnis demi mencegah kerugian yang semakin besar.

Sebagai grup perusahaaan yang telah banyak makan asam garam dalam berbisnis, tentu bukan secara kebetulan PT  Astra  International  terus  beruntung bisa bertahan menjadi nomor satu hingga sekarang. Bagaimanapun, pahitnya mengalami hampir bangkrut pernah juga mereka rasakan. Namun demikian, momen Itulah yang pada akhirnya membuat grup yang berfokus pada enam lini bisnis inti, yaitu otomotif, jasa keuangan, alat berat dan pertambangan, agribisnis, infrastruktur/logistik dan IT ini mengambil pelajaran bahwa dari semua aset yang mereka miliki,  tidak ada yang  lebih penting dari: Sumber Daya Manusia.

Seperti apakah sumber daya tersebut? Bagaimana cara manajemen memperlakukan aset tersebut hingga dapat terus menjadi kekuatan yang solid? Berikut hasil perbincangan Forum Manajemen bersama Budi Setiadharma, Mantan Direktur Utama yang kini menjadi Presiden Komisaris PT Astra International Tbk beberapa waktu lalu.

Jika melihat laporan kinerja keuangan di semester I, nampaknya PT Astra International Tbk, masuk ke dalam kelompok perusahaan besar Nasional yang mengalami kemerosotan. Benarkah demikian?

Penyebabnya  sudah  jelas,  karena dampak krisis ini sangat berhubungan langsung dengan bisnis Astra. Seperti misalnya pertambangan batu bara dan kelapa sawit. Dua industri ini pada tiga atau empat tahun lalu masih menjadi primadona Indonesia dari segi ekspor, sampai pada akhirnya terjadi kemerosotan dengan menurunnya perekonomian Eropa, Jepang, India, dan China. Ini berarti, kegiatan di dunia pertambangan batu-bara pun merosot drastis. Penurunan ini jelas dirasakan oleh United  Tractor  dalam  kemampuannya menjual alat-alat besar. Walau jasa service
dan penjualan  sparepart meningkat, namun bisnis after sales service tersebut tentunya  lebih rendah jika dibanding jual unit.

Astra Agro Lestari pun kinerjanya masih  tidak  stabil.  Walau  penjualan dalam tonnage bisa mengalami kenaikan, kemerosotan harga yang begitu tajam pada akhirnya mengakibatkan penurunan hasil akhir. Dengan kondisi seperti ini, banyak pemodal yang memilih untuk mengurangi, menunda bahkan menghentikan investasi dulu daripada terus merugi. Secara total, kinerja semester 1 Astra dari  bottom line, memang sedikit lebih rendah dari tahun lalu. Tetapi ini bukan karena manajemen yang keliru, tetapi total karena  environment dunia yang sedang lesu.

Bagaimana dengan bisnis otomotif?

Memang, ketatnya persaingan yang di luar perkiraan memegang peran penting dalam menurunnya laba Astra. Namun demikian, ada faktor lain yang juga menjadi penyebab. Seperti kebijakan soal
uang muka yang lebih besar bagi pembeli mobil dan motor secara kredit. For a certain degree, kebijakan ini mungkin masih dikatakan baik. Tetapi kita mesti melihat juga bahwa pada kondisi
jalanan yang sangat sesak tersebut, siapa yang paling bisa disalahkan. Pemerintah? Pembeli/pemilik mobil  dan motor?  Atau produsen?

Saya jadi teringat pada awal tahun 1971,  ketika  saya  dikirim  ke  Jepang. Sesampai di sana, saya terkagum-kagum dengan jalan raya mereka yang sudah dibuat bertumpuk-tumpuk. Begitu pun ketika saya naik subway, saya lebih kagum lagi dengan kecanggihannya. Terutama dengan infrastruktur yang sedemikian sophisticated untuk masanya, sehingga mereka tidak memiliki masalah berarti dengan jumlah kendaraan yang lalu lalang.

Bandingkan dengan di sini, yang jika tidak didesak oleh sebuah event yang luar biasa dan mendunia, saya ragu apakah itu bisa segera diselesaikan atau tidak. Kenapa tidak menambah ruas jalan lagi? Mengapa harus membatasi produksi? Mengapa membatasi kemampuan beli
konsumen? Itu kan sama saja melanggar hak asasi manusia. Jadi balik lagi, semua tergantung
bagaimana pemerintah dalam mengatur tata kotanya.

Infrastruktur jalanan tidak direncanakan dan dikembangkan secara baik. Asal tambal sulam saja, dan ini akan terus membuat kemacetan.  Basic mass transportation pun pengembangannya tidak komprehensif.  Planning totalnya kurang. Jadi, apakah pantas, produsen yang harus dikorbankan?

Kebijakan apa yang sudah dilakukan Astra dalam menghadapi situasi krisis seperti ini?

Efsiensi  biaya  produksi  itu  sudah pasti, ditambah lagi dengan peningkatan produktivitas. 

Jadi selama ini Anda masih menilai kurang perihal produktivitas?

Kita mesti melihat bahwa tenaga kerja  mengalami  peningkatan  UMR yang cukup tinggi. Selama ini, masih ada yang menganggap bahwa upah buruh di Indonesia  sangat murah.  Padahal  belum
tentu. Produktivitas juga harus dihitung. Astra pernah mau masuk ke industri kecil dan menengah, dengan membangun pabrik sepatu yang mampu bersaing dengan luar negeri. Tetapi akhirnya
bangkrut. Setelah mengirim tim ahli ke Korea dan Taiwan untuk meneliti soal produktivitas, nampak jelas bahwa kita sangat kalah dengan yang lain.

Jadi, misalnya untuk mobil dan motor, yang dihitung adalah  man hour per unit, bukan sekian detik menghasilkan berapa produksi motor tanpa menghitung jumlah tenaga kerja. Jadi sistem Depnaker
mengenai penilaian tenaga buruh harus lebih komprehensif.Kalau  UMR  sudah  dinaikkan  tahun
lalu dengan jumlah yang cukup besar, lalu sekarang mau minta naik lagi? Lantas kemana industri ini bisa bersaing? Kalau tidak bisa bersaing, mau kemana para pemodal? Dan kalau hanya sekadar
relokasi, apakah SPSI di  lokasi yang baru tidak akan meminta yang sama?

Sebagian percaya bahwa situasi krisis bisa melahirkan budaya baru dimana setiap orang akan berupaya untuk berbuat yang terbaik demi bisa keluar dari kondisi sulit. Bagaimana Bapak memandang hal tersebut di Astra?

Di Astra, kami sudah mengenal istilah strive for excellent sebagai salah satu values yang harus kami junjung. Jadi, manusia Astra harus selalu berusaha mencapai dan mendapat yang terbaik,
dan ini benar-benar ditanamkan sejak karyawan masuk, kemudian dipertajam melalui program pelatihan secara terus-menerus. Kita akan menilai setiap orang dan pribadi dari apa yang dia kerjakan, apa yang dia hasilkan, dan apa  added value-nya.

 

 

Di samping itu, kami sangat menghargai adanya  personal idea. Misalnya seseorang memiliki ide tentang penghematan, atau meningkatkan produktivitas, mereka bisa dengan bebas
mengemukakannya. Jika ide itu bagus dan bisa diterapkan dengan nilai efektivitas tinggi, maka akan dikonteskan.  Pemenangnya  nanti  bisa mendapatkan hadiah besar, misalnya sepeda motor, jalan-jalan keluar negeri, dan sebagainya. Di pabrik pun demikian, terdapat panitia khusus yang terus memantau dan mengoleksi ide-ide tersebut. Tiap tahun bisa di atas 5000 ide yang ikut dikonteskan dan pemenangnya akan dipamerkan dalam penyelenggaraan konvensi setiap tahun.

Ini jelas akan memacu kreativitas, karena orang merasa dihargai. Kalaupun ternyata idenya tidak bisa diterapkan, kami tetap akan berterima kasih. Setidaknya, mereka merasa bangga dan tidak berhenti memberikan yang terbaik.

Cukup kuat alasan bagi karyawan yang bekerja di perusahaan besar mengalami mati kreativitas akibat sudah merasa berada di comfort zone. Bagaimana dengan karyawan Astra?

Untuk  tingkatan  tertentu  bisa  benar demikian, tetapi bisa juga salah. Karena di Astra, setiap individu dibiasakan untuk terus menaikkan target. Jadi tidak ada cerita bahwa seseorang akan berada di zona nyaman terus. Setiap orang harus membuat rencana kerjanya sendiri, yang nantinya bakal dipresentasikan hingga ke  board level. Jika rencana kerja Anda dinilai terlalu
pesimis, maka akan diminta adanya penyesuaian hingga akhirnya memaksa Anda untuk berpikir dan bertindak melampaui  batas  zona  nyaman.  Ini  yang disebut dengan  continues improvement.

Tidak berhenti, berkesinambungan. Anda  boleh  di  zona  nyaman,  tetapi tetap dikasih “api” terus. Kalaupun Anda ternyata hebat terus menerus di satu tempat itu, Anda akan dipindahkan ke divisi lain dengan terlebih dahulu mengikuti program pendidikan sesuai dengan bidang yang akan Anda kerjakan. Program  pendidikan  dilakukan  baik secara internal maupun eksternal.

Jadi tidak ada istilah specialist di Astra?

Tentu kami menghargai spesialisasi. Tapi jika bicara pada level tertentu, misalnya General Manager, Anda tidak boleh specialist lagi. Bagaimana mungkin seorang GM tidak mengenal HRD, fnance,
marketing, dan sebagainya. Bagaimana nanti jika bertemu dan bernegosiasi dengan  principal? Bisa mati Anda. Itu adalah hal yang paling mendasar. Anda harus memiliki kepercayaan diri yang
kuat, dan itu hanya akan didapat jika Anda diberi kesempatan dan dipacu terus. Intinya dalam hal ini, Astra menghargai individu, tetapi lebih dalam suatu teamwork. Jadi yang kami inginkan bukanlah superman, melainkan superteam.

Berarti, Anda juga mengalami proses yang sama selama bekerja di Astra?

Background saya adalah Hukum. Tetapi dengan kemauan dan ketekunan, saya berhasil mendapatkan posisi teratas di dalam struktur Astra. Saya bisa menentukan sebuah perusahaan sehat atau tidak dalam waktu 10 menit hanya dengan melihat balance sheet mereka. Banyak orang mengatakan saya sebagai  reviewer   yang men-  detail  dan terlalu keras karena terlalu  straight to the point. Tidak jarang ini mendapat perlawanan karena dianggap terlalu mengada-ada. Bahkan ada yang sampai marah-marah dan menantang untuk membuktikan teori saya.

Suatu waktu, saya tatap muka dengan  sekelompok  CEO,  dimana  pada waktu itu, setelah saya meneliti  balance sheet dan  proft  and  lost  statement dari perusahaan-perusahaan tersebut saya
mengatakan bahwa “bila tidak segera dilakukan tindakan-tindakan drastis dan radikal, maka sampai kita mati semua, perusahaan-perusahaan tersebut tidak akan pernah meraih untung. Sampai-sampai satu di antara mereka memberi perlawanan dengan mengatakan, “Saya akan beli perusahaan yang dinyatakan bakal bangkrut oleh Budi.” Setelah orang tersebut benar-benar membelinya, tidak lama kemudian perusahaan tersebut benar-benar bangkrut.

Terakhir, ketika pertanyaan pamungkas mengarah pada bagaimana sosok Budi Setiadharma melihat prospek Astra ke  depan,  pria  69  tahun  ini  menjawab, “Oh, itu sangatlah mudah.  Astra is very strong!” Jawabnya dengan lantang.

Balance Sheet

“Secara umum, dengan mempelajarinya secara teliti Anda
bisa dengan mudah menemukan kunci
dari sehat atau tidaknya suatu bisnis
yang berjalan.”

 

KONSULTASI
Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
[selengkapnya]


 











HEADLINE :


  

 

 

heading

K O B I S

Wani Piro

Point of View

MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
BUKAN SUPERMAN!

Closer With

PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

Finance

Disiplin Administratif:
Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

Talent Behavior

Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

EXPLORE

Merek-Merek Penanda Zaman Baru

Operations 

SEGITIGA EMAS

Marketing

BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

 
KONFLIK KEKUASAAN
 
SEDERHANA ITU...
SEMPURNA!

 
 
TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

BIZPEDIA

KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

BOOK INSIGHT

David and Goliath Malcolm Gladwell
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
Agustus - November 2012
 
Vol. 5 No. 2
 
 
 
 
 
 
April - Juli 2012
 
Vol. 5 No. 1
 
 
 
 
 
 
Desember 2011 - Maret 2012
 
Vol. 4 No. 3
 
 
 
 
 
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
 
Vol.4 No.2
 
 
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
April s/d Juli 2011
 
Vol. 4 No. 1
 
 
 
 
 
 

 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Desember 2010 s/d Maret 2011

VOL. III NO. III
 
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Agustus s/d November 2010
 
VOL. III NO. II
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
April s/d Juli  2010
 
VOL. III NO. I
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
 
VOL. II NO. III
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
 
VOL. II NO. II 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
APRIL S/D JULI 2009
 
VOL.II NO.I 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
 
VOL.I NO.III
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
 
VOL.I NO.II

Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

JURNAL INTEGRITAS

MAI 2008

VOL.I NO.I 

Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
 
 
 
 

buku 



Untuk melihat preview klik Cover ini!

Untuk berlangganan klik Di Sini!
 
//

Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
      Sangat Sesuai
      Cukup Sesuai
      Kurang Sesuai




Unique Visits Today: 402
Hits Today: 16360
Total Unique Visits: 328182
Total Hits: 21633442
Guests Online: 25


   
   

  MENU HOME:




  MENU JOURNAL:




  MENU FORUM:


PMBS Publishing   
www.management-update.org | copyright © 2017