A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 26 September 2018
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME EDITORIAL HEADLINE DEPARTMENT REGULAR SUBSCRIPTION ARCHIVE    
   
 
  • Cyb3r001

    uploads/slide/sd.jpg

    Hacked By Cyb3r001 was here

 
 
Oleh: Agus W. Suhadi

Collaborative Tourism

 

 Pertumbuhan industri pariwisata Indonesia cukup menjanjikan di masa depan. Tapi,
tanpa kesamaan visi dan semangat antar seluruh pemangku kepentingan, tidak
akan menjadi kompetitif dibanding negara lain. Lantas apa saja strategi yang harus
dilakukan untuk menyukseskan potensi pariwisata Indonesia yang sudah dianugerahi
kekayaan alam yang melimpah ini?

Data “Statistik Indonesia: Perkembangan Indutri Parawisata dan Transportasi, Biro Pusat Statistik.”
(2013 menunjukkan, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia selama 2012 mencapai 8.04 juta naik 5,16 persen dibanding 2011.

Perkiraan penerimaan devisa dari turis asing meningkat 5,81 persen menjadi 9,1 milliar dollar AS.
World Travel & Tourism Council (WTTC) 2012 mencatat total kontribusi langsung industri wisata terhadap GDP mencapai Rp 245.939 triliun (3 persen GDP). Adapun pada 2013 diperkirakan
naik 8,5  persen menjadi Rp 266.911 triliun.  Jumlah ini lebih besar dibanding pertumbuhan ekonomi Indonesia maupun pariwisata dunia yaitu 4,5 persen.

WTTC menyatakan industri wisata juga punya pengaruh tidak langsung terhadap GDP. Melalui belanja investasi terkait dengan kegiatan travel dan wisata seperti pembangunan hotel, restoran,
pembelian pesawat, atau infrastruktur penunjang. Kebutuhan barang dan jasa yang terkait dengan industri ini, seperti layanan IT untuk agen perjalanan, layanan catering untuk maskapai penerbangan, cleaning service untuk hotel dan lainnya.

WTTC menghitung total kontribusi industri wisata terhadap GDP termasuk yang tidak langsung menjadi Rp 736.259 triliun (8,9 persen GDP) 2012. Diharapkan tahun ini naik 8,3  persen menjadi Rp 797.331 triliun (9,1 persen GDP). Rata-rata pertumbuhan per tahun sebesar 6,1 persen dengan kontribusi 1.447,9 triliun (9.8 persen GDP) pada 2023. Hal ini menjadi bukti kalau parawisata akan menjadi salah satu kontributor utama perekonomian Indonesia di masa mendatang.

Seberapa Kompetitif

Sekarang pertanyaannya adalah, seberapa jauh destinasi wisata Indonesia lebih kompetitif dibanding negara lain? Menurut Blanke dan Chiese dalam laporan “The Travel and Tourism Competitiveness. World Economic Forum” (2013), menunjukkan ada peningkatan indeks persaingan tavel dan wisata Indonesia pada 2013 dari sebelumnya 2011, meskipun negeri tercinta masih jauh tertinggal di bawah negara tetangga Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Ada 3 faktor utama (dipecah dalam 14 indikator) yang digunakan oleh The Travel & Tourism Competitiveness Index (TTCI) dalam mengukur tingkat kompetitif negara, yaitu terkait dengan kerangka peraturan travel dan wisata (5 indikator), infrastruktur dan lingkungan bisnis (5 indikator), dan kekayaan budaya dan sumberdaya alam (4 indikator). 

Dari total 14 indikator yang diukur, Indonesia memperoleh skor yang tinggi dalam komitmen pemerintah memajukan parawisata (peringkat 9), kekayaan sumberdaya alam (6), kekayaan budaya (38), dan harga yang kompetitif (9). Keempat indikator tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki banyak kesempatan untuk meningkatkan keunggulan bersaing industri parawisatanya.

Kolaborasi Wisata

Dalam industri kerjasamaantara beberapa organisasi untuk mencapai tujuan menjadi hal lumrah. Namun, bicara industri wisata yang punya karakter fragmented, multisektoral, serta tingkat ketergantungan  antar  penyedia layanan wisata yang tinggi membuat pendekatan koordinasi interorganisasi menjadi krusial. Misalnya, dalam merancang produk wisata, walaupun perusahaan mencoba mengendalikan semua tahapan dalam paket wisata yang ditawarkan ke pelanggan, tetapi kinerja perusahaan sangat tergantung pada seberapa efektif mereka mengelola hubungan/kemitraan dengan operator lain.

Mereka harus mampu melakukan kolaborasi dengan maskimal agar produk yang ditawarkan menjadi bernilai bagi pelanggannya. Menurut Palmer & Haryer dalam Journal of Vacation Marketing “Relationship Marketing: A New Paradigm fo the Travel and Tourism Sector?” mengatakan, kolaborasi pada dasarnya merupakan kesepakatan formal atau informal dua atau lebih organisasi untuk meningkatkan kompetensinya melalui kombunasi sumberdaya yang dimilikinya dengan para mitranya.

Lebih lanjut Kotler P, J Bowens dan J Makens dalam bukunya Marketing for Hospitality and Tourism (2004) menyatakan bahwa destinasi wisata akan mendapatkan keunggulan bersaing jika masing-masing organisasi yang terlibat dapat berbagi pengetahuan, ketrampilan, keahlian, dan sumber daya lain. Sedangkan Jamal dan Getz dalam “Collaboration Theory and Community Tourism Planning,”  Annjals of Tourism Research  (1995) membagi ada lima ciri utama dalam proses kolaborasi:

  1. Organisasi yang terlibat  adalah independen
  2. Solusi diperoleh melalui negosiasi  yang konstruktif terhadap  perbedaan yang ada
  3. Keputusan berdasarkan kesepakatan bersama
  4. Para pemangku kepentingan  menganggap bahwa arah dan hasil yang diperoleh dari kerjasama ini merupakan tanggung jawab bersama
  5. Kolaborasi merupakan proses  adaptasi yang berkesinambungan  terutama menghadapi lingkungan  yang semakin kompleks

 

Selanjutnya, Nuipaul dalam jurnal “Regional Destination Marketing: A Collaborative Approach, Journal of Travel & Tourism Marketing” (2013) mengajukan suatu model terkait dengan bagaimana
mengelola kolaborasi. Terdapat empat elemen kunci dalam mengelola kolaborasi, yaitu motivasi kolaborasi, faktor yang memfasilitasi kolaborasi, faktor yang menghambat kolaborasi, dan hasil dari kolaborasi. Langkah pertama adalah meyakinkan semua elemen yang terlibat pada manfaat yang dapat diterima oleh semua anggota yang terlibat.

Misalnya, kolaborasi wisata yang dilakukan akan menghasilkan paket-paket wisata unggulan yang bisa meningkatkan jumlah wisatawan datang. Antara lain dengan cara mengemas keunikan budaya
dan kuliner daerah menjadi suatu atraksi yang menarik wisatawan. Berikut area yang perlu dikelola dalam kolaborasi destinasi wisata, menurut Naipaul, Wang and Okumus.

Langkah selanjutnya, mengidentifkasi faktor-faktor yang memfasilitasi dan menghambat kolaborasi. Informasi sangat berguna untuk meningkatkan ikatan baik rasional dan emosional sesama anggota. Sebagai contoh perbedaan prioritas antar anggota dapat ditanggulangi dengan
memformulasikan tujuan yang lebih besar sehingga dapat mengakomodir perbedaan tersebut.

 Hubungan antara pasokan dan permintaan di industri wisata menurut
Middleton dalam buku “Sustainable Tourism: A Marketing Perspective,
Plant a Tree Publisher” (1996)

Sejak batik diputuskan sebagai warisan dunia (world heritage), maka Pekalongan mempersiapkan diri sebagai  World’s City of Batik.  Untuk  menunjang  hal ini maka pemerintah daerah mengajak
para pengrajin batik, hotel, restoran dan cafe, agen perjalanan,  event organizer, media, dan semua pihak yang terlibat ikut berpartisipasi dalam mensukseskan program ini. Perbedaan prioritas diantara mitra yang terlibat melebur menyukseskan program tersebut.

Selanjutnya, fokus pada hasil yang mungkin diperoleh dalam kolaborasi ini. Seberapa jauh  Pekalongan World’s City of Batik berdampak kepada perekonomian wilayah serta kesejahteraan masyarakat Pekalongan. Lebih lanjut, seberapa jauh mitra2 yang terlibat semakin dikenal tidak hanya oleh wisatawan lokal tetapi juga wisatawan dunia. Cerita sukses dari hasil kolaborasi akan meningkatkan ikatan emosional diantara para anggota yang terlibat.

Keunggulan Destinasi Wisata

Parawisata pada dasarnya merupakan jejaring yang kompleks yang melibatkan banyak organisasi bisnis terkait untuk menyediakan akomodasi, makanan, transportasi, atraksi hiburan, komunikasi
dan lain sebagainya kepada para wisatawan. Kolaborasi dalam pengelolaan jejaring akan menghasilkan berbagai kemungkinan produk wisata baru yang dapat meningkatkan pengalaman yang lebih menyenangkan dan memuaskan bagi wisatawan seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Strategi kolaborasi wisata perlu direncanakan dengan baik, agar elemen-elemen organisasi wisata bisa melakukan sienergi untuk menghasilkan produk wisata yang unggul. Peneliti yang ada di kementrian parawisata dan indusri kreatif melakukan pemetaan segmentasi wisatawan. Kemudian dilanjutkan dengan mengkaji prilaku dan kebutuhan setiap

segmen. Contoh kajian dilakukan terhadap segmen wisatawan senior dari Jepang, segmen pembelanja wisatawan Malaysia, segmen orientasi budaya wisatawan Eropa dan sebagainya. Hasil kajian tersebut didesiminasikan ke perusahaan transportasi, organisasi travel, hotel restoran, atraksi hiburan, pengelola pusat pembelajaan dll.

Langkah selanjutnya adalah melakukan kajian bersama perusahaan yang terlibat untuk mengembangkan paket-paket wisata yang sesuai dengan kebutuhan segmen. Selanjutnya adalah merumuskan Intinya, Indonesia harus sadar kalau kontribusi parawisata terhadap pertumbuhan ekonomi negara cukup signifkan  terhadap  GDP. 

 

 Peningkatan keunggulan wisata Indonesia perlu menjadi prioritas ke depan. Jejaring yang kompleks dalam industri wisata memaksa para organisasi yang terdapat dalam satu destinasi harus melakukan kolaborasi agar menghasilkan produk wisata yang unggul. komunikasi yang dapat menjangkau segmen tersebut secara efektif.   Wang dan Pizam dalam bukunya
“Destination Marketing and Management: Theories and Application” (2011) menyatakan, ada empat pilar strategi dalam meningkatkan keunggulan destinasi wisata , yaitu:

Building vision; Pemda,

mitra industri dan tokoh masyarakat duduk bersama menyusun dan menentukan visi daerahnya. Selanjutnya dikaji keunikan yang dimiliki oleh daerah wisata yang menjadi daya tarik wisatawan.  
Sebagai contoh, visi Raja Ampat adalah sebagai destinasi Wisata Bahari Takterlupakan

Building commitment;

merancang destinasi wisata berbeda dengan industri yang lain. Penciptaan nilai dalam destinasi wisata akan melibatkan banyak organisasi yang berbeda. Untuk itu organisasi yang terlibat harusm memiliki komitmen yang kuat. Nilai yang unik sangat tergantung kepada pengalaman yang diterima oleh wisatawan ketika berinteraksi dengan layanan hotel, transportasi, tour operator, pertunjukan seni dan hiburan, komunitas setempat dlsb.

Building identity;

strategi berikutnya adalah membangun identitas merek (brand) yang kuat. Peran dari media dalam mempublikasikan destinasi wisata, komentar positif para pakar wisata, dan komunikasi iklan yang
baik akan membantu dalam pencitraan destinasi wisata. Sebagai contoh, salah satu identitas yang diperkuat di Raja Ampat adalah kepemilikan keanekaragaman hayati yang luar biasa, diantaranya adalah 75  persen total jenis terumbu karang dunia ada di Raja Ampat. Salah satu slogannya adalah Undiscovered Wonder of Raja Ampat.

Building coalition;

focus dari strategi ini lebih kepada aktivasi brand dengan tujuan agar wisatawan melakukan
kunjungan baik melalui program acara, semacam trade shows, conferences, cultural events, dan sebagainya. Salah satu event tahunan Raja Ampat adalah Raja Ampat Festival. Event ini terdiri dari aktiftas eksibisi wisata bahari, atraksi budaya dan seni, festival kuliner, kompetisi foto dlsb.   Event berikutnya adalah Raja Ampat and Triton Bay yang merupakan bagian dari projek  ocean geographic’s ongoing photographic.

Ada empat area yang perlu dikelola secara baik untuk meningkatkan efektiftas kolaborasi yaitu motivasi kolaborasi, faktor yang memfasilitasi kolaborasi, faktor yang menghambat kolaborasi, dan
hasil dari kolaborasi. Selanjutnya adalah menyusun strategi kolaborasi melalui empat pilar yaitu building vision, building commitement, building identity  dan building coaliton.

 

KONSULTASI
Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
[selengkapnya]


 











HEADLINE :


  

 

 

heading

K O B I S

Wani Piro

Point of View

MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
BUKAN SUPERMAN!

Closer With

PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

Finance

Disiplin Administratif:
Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

Talent Behavior

Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

EXPLORE

Merek-Merek Penanda Zaman Baru

Operations 

SEGITIGA EMAS

Marketing

BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

 
KONFLIK KEKUASAAN
 
SEDERHANA ITU...
SEMPURNA!

 
 
TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

BIZPEDIA

KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

BOOK INSIGHT

David and Goliath Malcolm Gladwell
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
Agustus - November 2012
 
Vol. 5 No. 2
 
 
 
 
 
 
April - Juli 2012
 
Vol. 5 No. 1
 
 
 
 
 
 
Desember 2011 - Maret 2012
 
Vol. 4 No. 3
 
 
 
 
 
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
 
Vol.4 No.2
 
 
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
April s/d Juli 2011
 
Vol. 4 No. 1
 
 
 
 
 
 

 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Desember 2010 s/d Maret 2011

VOL. III NO. III
 
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Agustus s/d November 2010
 
VOL. III NO. II
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
April s/d Juli  2010
 
VOL. III NO. I
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
 
VOL. II NO. III
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
 
VOL. II NO. II 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
APRIL S/D JULI 2009
 
VOL.II NO.I 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
 
VOL.I NO.III
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
 
VOL.I NO.II

Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

JURNAL INTEGRITAS

MAI 2008

VOL.I NO.I 

Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
 
 
 
 

buku 



Untuk melihat preview klik Cover ini!

Untuk berlangganan klik Di Sini!
 
//

Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
      Sangat Sesuai
      Cukup Sesuai
      Kurang Sesuai




Unique Visits Today: 361
Hits Today: 1034
Total Unique Visits: 478696
Total Hits: 31045449
Guests Online: 9


   
   

  MENU HOME:




  MENU JOURNAL:




  MENU FORUM:


PMBS Publishing   
www.management-update.org | copyright © 2018