A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 28 May 2018
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME EDITORIAL HEADLINE DEPARTMENT REGULAR SUBSCRIPTION ARCHIVE    
   
 
  • Cyb3r001

    uploads/slide/sd.jpg

    Hacked By Cyb3r001 was here

 
 
Oleh: Fransisca Tharia Hartanto dan Yudo Hartono

Merek-Merek Penanda

Zaman Baru

 

Keberhasilan Apple dan Google barulah sebuah awal!
Besar kemungkinan di masa depan akan bermunculan lebih banyak
lagi merek-merek baru yang tidak sekadar ‘menerobos’ tetapi juga
mendominasi peta bisnis dunia
.

Di akhir tahun 2013 yang lalu, Interbrand, sebuah perusahaan konsultan merek merilis daftar tahunan Best Global Brand yang sudah mereka lakukan sejak tahun 2000. Selama hampir 13 tahun, Coca Cola selalu merajai daftar ini. Namun, tahun ini Apple dan Google berhasil menyalip  Sang Raja Soda dari Paman Sam. Sebenarnya, nilai merek Coca Cola masih naik 2% menjadi $79,213 milyar. Tetapi kenaikannya tidak seberapa bila dibandingkan dengan Apple yang melonjak 28% dan memiliki nilai merek sebesar $98,316 milyar.

Sebetulnya apa yang menjadi dasar penilaian Interbrand dalam melakukan valuasi? Mike Rocha, selaku  Global Director pun berani menjelaskan dengan gamblang.Pengukuran  analisis  fnansial  didasarkan pada kemampuan perusahaan untuk memberikan imbal hasil kepada investor  atau  pada  proft  ekonomis (economic proft) perusahaan. Proft  ekonomis  diperoleh  dari  laba
operasional setelah pajak dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk mengelola mereknya agar dapat menghasilkan keuntungan.

Menjadi Penghubung Ken Martin (2010) mengemukakan bahwa suatu merek harus bisa membuat
dirinya relevan dengan konsumen dan tidak hanya untuk mengisi  gap atau kekosongan serta bukan hanya memberi apa yang disukai oleh konsumen namun merek dapat menjadi penghubung antar aktivitas konsumen, serta membentuk suatu sinergi yang dapat memperpanjang pengalaman mereka dalam menggunakan suatu merek di mana pun mereka berada.

Perusahaan seperti Apple dan Google yang memiliki hal ini jelas memiliki kekuatan kompetitif untuk bersaing dan bertahan hidup. Kedua perusahaan ini berkembang bukan hanya dari
kemampuan mereka menyediakan informasi kepada konsumen, tetapi dengan memberikan jalan pintas bagi konsumen dalam pengambilan keputusan di kehidupan mereka sehari-hari.

Jez Frampton dalam pengantarnya di laporan tahunan Interbrand memberikan opini, bahwa dorongan perkembangan teknologi yang begitu cepat ternyata ikut merubah peta bisnis. Hubungan merek dengan konsumen juga ikut bergeser karena perkembangan teknologi ini. Dengan melek terhadap  internet dan teknologi, konsumen kini memainkan peran yang strategis karena memiliki kemampuan dan kompetensi lebih sehingga merekapun dianggap dapat menentukan kelangsungan hidup suatu bisnis.

Kacamata Investor

Dalam upaya menganalisa nilai suatu perusahaan, sebenarnya masih banyak pendekatan lain yang bisa digunakan selain yang dilakukan oleh Interbrand. Selaras dengan temuan oleh Interbrand, paling tidak apa yang dilakukan Apple dan Google telah mendapatkan pengakuan dari kacamata investor profesional seperti kemampuan top manajemen menguasai lingkungan pasar yang senantiasa berubah. Investor tidak akan mau menginvestasikan uangnya untuk suatu perusahaan seperti Apple dan Google, apabila yang dinilai tidak memiliki keunggulan kompetitif dan pasar yang
menarik.

Kapitalisasi Pasar

Salah satu penilaian investor adalah terhadap  kemampuan  fnansial  suatu perusahaan yang tercermin melalui kapitalisasi pasar (market capitalization). Nilai kapitalisasi pasar suatu perusahaan diperoleh dengan mengalikan harga saham saat ini dengan jumlah saham beredar di pasaran.Nilai suatu perusahaan di mata investor yang digambarkan melalui harga saham saat ini. Inilah kapitalisasi pasar.

 

Semakin besar nilainya, maka semakin besar pula  value perusahaan di mata investor. Senada dengan hal di atas, Soehadi (2012) turut mengemukakan bahwa merek merupakan salah satu aset
tanwujud yang sangat berharga. Salah satu  alasannya  adalah  dampak  fnansial yang dihasilkannya. Hal ini ditunjukkan dengan semakin besarnya selisih antara nilai buku perusahaan dengan nilai saham di pasar atau harga premium yang bersedia dibayar oleh perusahaan ketika
melakukan merger dan akuisisi.

Salah satu hal yang menjadi pertimbangan investor dalam menilai saham suatu perusahaan adalah prospek cash  fow yang bisa dihasilkan oleh perusahaan di masa depan. Dan salah satu
penggerak  cash  fow perusahaan adalah aliran dana yang masuk dari pelanggan (customers equity).Jadi, peningkatan dalam aliran dana masuk dari pelanggan akan mempengaruhi peningkatan harga saham.

 

Apabila harga saham melambung, maka kapitalisasi pasar suatu perusahaan juga akan semakin besar. Kumar (2009) mempelajari bagai-mana investasi dalam  customer-based initiatives dapat meningkatkan aliran dana masuk dari pelanggan. Jadi idealnya, pendekatan eksternal dengan
menggunakan kapitalisasi pasar juga harus didukung oleh pendekatan internal dari sisi investasi perusahaan.

Untuk membuktikan apakah pendekatan kapitalisasi pasar dapat menggambarkan nilai suatu merek, maka sudah seharusnya Apple dan Google memiliki kapitalisasi pasar yang lebih besar dibandingkan dengan Coca Cola. Apple dan Google memang menjadi top two dari 20 perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di bursa saham.

Hal ini menunjukkan adanya keselarasan pandangan antara investor dengan penilaian merek yang dilakukan oleh Interbrand. Faktor apakah yang mempengaruhi investor dalam menilai kapitalisasi
pasar ini? Joy Gendusa dalam artikelnya yang  berjudul  “Mapping  Growth” mengemukakan pentingnya  budget pemasaran. Setiap dollar yang dihabiskan untuk biaya pemasaran merupakan biaya yang ditujukan untuk pertumbuhan perusahaan.

 

Dalam hal perbandingan biaya pemasaran dan penjualan Apple, Google, dan Coca Cola, bila dicermati pertumbuhan biaya pemasaran dan penjualan ternyata berjalan beriringan. Inilah alasannya mengapa Apple dan Google berhasil mengalahkan Coca Cola. Investasi mereka terhadap suatu merek (yang tercermin dalam biaya pemasaran dan penjualan) ternyata membuahkan hasil.

Bagaimanapun, keberhasilan Apple dan Google barulah sebuah awal. Mungkin di masa depan kita akan melihat lebih banyak lagi merek-merek baru yang tidak sekadar menerobos tetapi juga
mendominasi peta dunia. Siapapun yang memahami perubahan perilaku konsumen akan menjadi pemimpin. Kemampuan berkolaborasi dengan berbagai ‘aktor’ dan konsisten menceritakan nilai mereka kepada pasar, akan membuat perusahaan memiliki merek yang disegani. Dan, merek mereka juga bakal dinilai tinggi oleh investor. Jadi.. Selamat datang di dunia baru! Dunia digital yang inovatif dan penuh turbulensi. 

 

 

 

 

 

YUDO HARTONO
Faculty PMBS

 

KONSULTASI
Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
[selengkapnya]


 











HEADLINE :


  

 

 

heading

K O B I S

Wani Piro

Point of View

MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
BUKAN SUPERMAN!

Closer With

PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

Finance

Disiplin Administratif:
Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

Talent Behavior

Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

EXPLORE

Merek-Merek Penanda Zaman Baru

Operations 

SEGITIGA EMAS

Marketing

BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

 
KONFLIK KEKUASAAN
 
SEDERHANA ITU...
SEMPURNA!

 
 
TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

BIZPEDIA

KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

BOOK INSIGHT

David and Goliath Malcolm Gladwell
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
Agustus - November 2012
 
Vol. 5 No. 2
 
 
 
 
 
 
April - Juli 2012
 
Vol. 5 No. 1
 
 
 
 
 
 
Desember 2011 - Maret 2012
 
Vol. 4 No. 3
 
 
 
 
 
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
 
Vol.4 No.2
 
 
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
April s/d Juli 2011
 
Vol. 4 No. 1
 
 
 
 
 
 

 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Desember 2010 s/d Maret 2011

VOL. III NO. III
 
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Agustus s/d November 2010
 
VOL. III NO. II
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
April s/d Juli  2010
 
VOL. III NO. I
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
 
VOL. II NO. III
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
 
VOL. II NO. II 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
APRIL S/D JULI 2009
 
VOL.II NO.I 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
 
VOL.I NO.III
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
 
VOL.I NO.II

Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

JURNAL INTEGRITAS

MAI 2008

VOL.I NO.I 

Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
 
 
 
 

buku 



Untuk melihat preview klik Cover ini!

Untuk berlangganan klik Di Sini!
 
//

Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
      Sangat Sesuai
      Cukup Sesuai
      Kurang Sesuai




Unique Visits Today: 449
Hits Today: 34989
Total Unique Visits: 428599
Total Hits: 27071830
Guests Online: 39


   
   

  MENU HOME:




  MENU JOURNAL:




  MENU FORUM:


PMBS Publishing   
www.management-update.org | copyright © 2018