A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 28 May 2018
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME EDITORIAL HEADLINE DEPARTMENT REGULAR SUBSCRIPTION ARCHIVE    
   
 
  • Cyb3r001

    uploads/slide/sd.jpg

    Hacked By Cyb3r001 was here

 
 
Oleh: Maryono

Bekerja Tanpa Pemimpin

 Utopia atau Kekacauan?

 

Kantor tanpa pimpinan merupakan tendensi baru di masa depan
atau sebuah ide utopis? Padahal, campur tangan orang lain
dalam gerak hidup manusia merupakan sifat alami.

 

Beberapa artikel terbaru di media ekonomi-bisnis mengungkap dengan pujian sejumlah tempat kerja yang tak punya seorang pun pimpinan dan tanpa sebutan jabatan dalam pekerjaannya, di mana para pekerja memutuskan sendiri proyek-proyek yang akan dikerjakan, siapa yang meminta
dan mengontrak mereka. Tak hanya itu, di kantor itu setiap pekerja menentukan sendiri gaji, kenaikan gaji dan waktu-waktu liburnya.

Reaksi-reaksi atas ide seperti itu memang masih beragam. Yang mendukung kantor tanpa pemimpin mencatat bahwa keputusan-keputusan tertentu yang bisa dibuat, akan memakan waktu lebih lama ketika tidak ada hirarki. Selain itu, sifat alami manusia umumnya menunjukkan
bahwa seseorang cenderung akan maju memimpin sebuah kelompok dan, bahkan tanpa jabatan apapun, berperan sebagai pemimpin tidak selalu dalam cara-cara yang positif.

Tapi, pendapat lain yang pro dengan itu mengatakan bahwa organisasi datar semacam itu memungkinkan karyawan bekerja lebih kreatif, lebih produktif, lebih mandiri, dan merasa lebih bertanggungjawab dan memiliki dengan keberhasilan-keberhasilan yang dicapai perusahaan. Sebuah kantor tanpa pemimpin, "Adalah cara pikir yang sangat demokratis dalam pekerjaan," kata akademisi manajemen dari  Wharton Business School, Adam Cobb. "Setiap orang ambil bagian dalam keputusan, sehingga tidak diarahkan dari atas.

Idenya adalah bahwa orang yang melakukan pekerjaan yang sebenarnya kemungkinan memiliki pengertian yang lebih baik tentang bagaimana pekerjaan itu dilakukan daripada apa yang bisa dilakukan oleh pimpinannya. Ini masalah pendistribusian keahlian di tempat yang seharusnya".

TEKANAN REKAN SEKERJA

Di sisi lain, Cobb berpendapat, kantor tanpa bos atau manajer yang mengawasi alur kerja bisa jadi artinya bencana. Dia mengutip sebuah makalah akademis beberapa tahun lalu yang menganalisa nasib sebuah perusahaan kecil, yang pemiliknya memutuskan untuk mencoba dan mencegah
kebangkrutannya dengan membiarkan karyawan menjalankan perusahaan.

Seiring waktu, para pekerja menjadi lebih tertindas daripada  saat  bos ada di sana. Semua orang ingin menjadi pengontrol, terus mengecek sesama

Di era 80an dan 90an, Mattew Bidwell  seorangAkademisi Manajemen Wharton University, memaparkan bahwa pernah dilakukan beberapa eksperimen tentang pendelegasian tanggungjawab di tingkat horizontal melalui kelompok yang mengelola diri mereka sendiri.

“Sebagian merasamenemukan sistem baru yang lebih memaksa, karena alih-alih punya
satu manajer -yang bisa ‘diabaikan’, menjadi ada lebih banyak rekan kerja yang mengawasi. Tekanandari mereka justru terasa lebih berat”.

karyawan, bahkan mengusulkan untuk melacak dengan jeli kapan orang datang bekerja dan saat pergi. Padahal, para pemimpin itu berperan penting, setidaknya, "Pemimpin adalah ‘musuh’
bersama. Ketika karyawan dibiarkan bertanggung jawab bebas atas dirinya sendiri, sulit mengatakan apakah mereka bekerja sama atau menjadi musuh yang melawan bos," lanjutnya.Observasi semacam ini membawa kita menuju pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana peran pemimpin di perusahaan pada abad 21.

 

Sebab, pertumbuhan ekonomi yang meningkat dan pesatnya perkembangan teknologi telah mengubah banyak bentuk dalam hal bagaimana para pekerja melakoni bidangnya. Mereka sekarang bisa berkomunikasi dengan cara yang sangat cepat, dengan kemudahan yang canggih dan tanpa harus hadir di tempat dan bahkan di pulau yang sama.

"Ada banyak cara untuk menjadi pemimpin," ujar Akademisi Wharton lainnya,  Nancy Rothbard, yang baru-baru ini telah meneliti perusahaan dengan pemimpin berusia pada kisaran 26 tahun
dan karyawan-karyawannya dalam usia 25 tahunan. "Saya tidak percaya ada pemimpin yang suka memerintah dan gaya kontrol manajemen yang ketat, karena kebanyakan mereka tidak merasa
punya kredibilitas untuk itu," katanya.

Dalam situasi seperti itu, manajer yang bertindak  sebagai ‘pelatih’, biasanya menjadi model yang  lebih pas daripada seorang manajer diktator.Tantangan besar sebuah perusahaan tanpa pemimpin adalah bagaimana membuat suatu keputusan. "Kecepatan pengambilan keputusan sering lebih
lambat jika Anda memerlukan konsensus," demikian pendapat Nancy. Jika keputusan
merupakan hal yang sudah jelas, berbagi nilai-nilai bersama akan membantu kelompok sampai pada kesimpulan yang tepat. Jika tidak, akhirnya satu orang yang harus turun tangan dan memutuskan.

Para pemimpin memainkan peran lain yang kemungkinan sulit dilakukan oleh sebuah kelompok.  Mereka sering bertanggung jawab menetapkan misi perusahaan, menyajikan wajah perusahaan ke dunia luar, terutama ketika datang ke  Innitial Public Offering (IPO) atau bentuk lain dari peningkatan modal, dan mereka membantu mencegah apa yang disebut ekonom sebagai
"penunggang bebas" -karyawan yang iri dengan tanggung jawab pemimpin dan perlu dipantau.

Tekanan sosial dari rekan sekerja bisa jadi akan mencegah hal ini, tapi peran pemimpin tidak mungkin tergantikan dalam organisasi.Menurut  Adam Grant - Akademisi Wharton lainnya, “Salah satu keuntungan dari hierarki adalah memberi fasilitas koordinasi  yang  efsien.  Ketika  orang
tahu siapa yang bertanggung jawab, jauh lebih mudah menetapkan peran dan tugas yang didelegasikan. Di kantor yang bebas pemimpin, orang sering menghadapi ketidakpastian tentang siapa yang memiliki otoritas, status atau tanggung jawab untuk suatu proyek tertentu, dsb”.

“Sebuah riset menunjukkan bahwa dalam menanggapi ketidakpastian, orang cenderung mengekspresikan sifat-sifat kepribadian alami mereka," tambah Grant. Ini menimbulkan resiko;
orang yang ekstrovert akan tertarik ke arah yang dominan dan tegas, dan yang introvert beralih ke hal yang lebih tenang, serta peran yang lebih pendiam. Kerugiannya, organisasi tanpa pemimpin
yang tidak bisa mengelola norma-norma secara hati-hati, kemungkinan akan kehilangan sumbangan ide-ide berharga dan kontribusi yang bisa diberikan oleh mereka yang introvert.

Kantor tanpa pemimpin juga memunculkan pertanyaan;
Bagaimana dengan mereka yang bersifat introvert, ketika
dinamika kelompok memerlukan seseorang untuk maju dan
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan? 

"Pengaruh orang-orang yang ekstrovert pada mereka yang introvert, tergantung dari bagaimana sebuah keputusan diambil di perusahaan. Kalau subyek tertentu yang bicara lebih tinggi adalah mereka yang dominan, maka sebuah hierarki  de facto akan terbangun secara cepat. Namun bila proses keputusan membutuhkan pemungutan suara, maka tidak akan timbul masalah yang parah,” kata Cobb.

Cobb menyebutkan atribut penting lainnya untuk kantor tanpa pemimpin agar bisa berfungsi baik. “Karyawan yang memiliki motivasi kuat, merupakan sebuah kualitas yang biasanya sulit ditemukan dalam proses perekrutan karyawan. Itu sangat tergantung dari jawaban yang diberikan pada pertanyaan; Apakah Anda termotivasi oleh faktor ekstrinsik atau oleh apa yang Anda lakukan? Dan Apakah Anda bangga dengan sikap rajin Anda dalam pekerjaan, atau pekerjaan itu Anda lakukan hanya karena Anda dibayar?," tutupnya.

 

 

KONSULTASI
Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
[selengkapnya]


 











HEADLINE :


  

 

 

heading

K O B I S

Wani Piro

Point of View

MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
BUKAN SUPERMAN!

Closer With

PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

Finance

Disiplin Administratif:
Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

Talent Behavior

Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

EXPLORE

Merek-Merek Penanda Zaman Baru

Operations 

SEGITIGA EMAS

Marketing

BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

 
KONFLIK KEKUASAAN
 
SEDERHANA ITU...
SEMPURNA!

 
 
TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

BIZPEDIA

KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

BOOK INSIGHT

David and Goliath Malcolm Gladwell
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
Agustus - November 2012
 
Vol. 5 No. 2
 
 
 
 
 
 
April - Juli 2012
 
Vol. 5 No. 1
 
 
 
 
 
 
Desember 2011 - Maret 2012
 
Vol. 4 No. 3
 
 
 
 
 
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
 
Vol.4 No.2
 
 
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
April s/d Juli 2011
 
Vol. 4 No. 1
 
 
 
 
 
 

 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Desember 2010 s/d Maret 2011

VOL. III NO. III
 
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Agustus s/d November 2010
 
VOL. III NO. II
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
April s/d Juli  2010
 
VOL. III NO. I
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
 
VOL. II NO. III
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
 
VOL. II NO. II 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
APRIL S/D JULI 2009
 
VOL.II NO.I 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
 
VOL.I NO.III
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
 
VOL.I NO.II

Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

JURNAL INTEGRITAS

MAI 2008

VOL.I NO.I 

Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
 
 
 
 

buku 



Untuk melihat preview klik Cover ini!

Untuk berlangganan klik Di Sini!
 
//

Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
      Sangat Sesuai
      Cukup Sesuai
      Kurang Sesuai




Unique Visits Today: 446
Hits Today: 34079
Total Unique Visits: 428596
Total Hits: 27070920
Guests Online: 28


   
   

  MENU HOME:




  MENU JOURNAL:




  MENU FORUM:


PMBS Publishing   
www.management-update.org | copyright © 2018