A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 23 November 2017
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME EDITORIAL HEADLINE DEPARTMENT REGULAR SUBSCRIPTION ARCHIVE    
   
 
  • Cyb3r001

    uploads/slide/sd.jpg

    Hacked By Cyb3r001 was here

 
 
Oleh: Charles Beraf

REROROJA

KISAH DESA JARAK PAGAR

 

Nomen est omen. nama, ya, selalu mesti jadi tanda, Masyarakat reroroja, Kabupaten sikka, nusa tenggara timur, sudah membuktikan itu. sejak 2008, masyarakat desa bersama sebuah LsM dari Jepang dan yayasan setempat berupaya mengusir ketandusan hamparan bukit dan kemiskinan yang sekian lama membelit. “ternyata dari tanaman jarak pagar (damar), kami bisa hidup. dari seember buah Jarak pagar saja, sudah umayan hasilnya. Bisa dapat uang 2.500  rupiah per ember,” ungkap Cyrilinus, sang kepala desa.

Langit belum kunjung benderang. Sejak awal Maret 2011, seminggu yang lewat, hujan tak berhenti mengguyur. Di bilangan pesisir utara Maumere, dari Wolomarang hingga Magepanda, genangan air bercampur lumpur masih tampak menyolok serupa kubangan. Tak cuma di halaman rumah. Juga di lubang-lubang Jalan Raya Pantai Utara (Pantura), yang belum sempat tersulami aspal.

Jalur Pantura, di hari itu, Sabtu 12 Maret 2011, memang tak seramai biasanya. Cuaca yang kurang bersahabat sepertinya mengenggankan banyak pengendara untuk keluar rumah. Bisa terhitung jari, kendaraan yang melintas hari itu di jalur Pantura. Berkendaraan di musim hujan seperti itu, apalagi di jalur jalan yang banyak menanjak dan berlubang seperti Pantura, memang tak selalu luput dari resiko: mandi lumpur, tertahan lumpur, masuk lubang, atau tergelincir dari badan jalan. 

Di tengah cuaca sesulit itu pun, pick up Panther bernopol EB 2172 B meluncur dengan entengnya. Meski dengan gigi persneling berkisar dua-tiga, Om Fendy (42), warga Wolomarang yang sudah malang melintang dalam dunia otomotif itu, bisa mengatur lajunya  Panther  menuju desa Reroroja.

Jauh dari Lirikan

Desa di ujung utara Kabupaten Sikka itu, sepintas tak cukup menarik. Selain terapiti oleh bukit yang kering dan tandus, letaknya yang relatif jauh (40 kilometer dari kota Maumere),  membuat Reroroja sepertinya jauh dari lirikan. “Jarang kami dikunjungi pejabat dari kabupaten,” kata Nong  Sil (26), warga Dusun Koro, Desa Reroroja. 

Desa berpenduduk 3652 jiwa itu menyandarkan hidupnya dari hamparan ladang dan laut. Dari 788 kepala keluarga, 30 % penduduk bekerja menjadi nelayan atau penampung ikan hasil tangkapan
untuk dijual kembali. Sementara 70 % lainnya bertaruh dengan jengkalan-jengkalan tanah di bawah kaki bukit berbatu. “Itu pun tak tentu hasilnya. Kadang hanya cukup untuk makan,” ungkap Amina (36), dari perkampungan Bajo, Reroroja.

Dengan nada memelas, Kepala Desa Reroroja, Cyrilinus Badjo mengamini itu. Dia mengaku, petani jagung di daerahnya hanya mampu menghasilkan 2,4 ton/hektare. Kalau pun terjual, sekilo cuma
seharga Rp.1500. Belum lagi dikurangi pupuk, obat-obatan dan tenaga kerja. Tentu bisa dibayangkan, untuk petani jagung saja, berapa pendapatan bisa dikantongi petani?  Urusan ‘kampung tengah’ saja sudah repot. Apalagi yang lain. Kondisi infrastruktur yang memprihatinkan, sanitasi yang jauh dari harapan dan pendidikan yang tak selalu menjanjikan seakan-akan mengusir mimpi akan kecerahan di Reroroja.

Mungkin bagi banyak orang, memilih tinggal di sana seolah memilih untuk pelan-pelan mati di hamparan ladang yang berbatu dan kering.Tapi rupanya itu tidak bagi warga Reroroja dan Kades Cyrilinus yang terkenal militan itu. Cyrilinus berkisah, selain bertaruh dengan hamparan laut dan ladang yang ada, beternak dan ekstensifkasi lahan pertanian menjadi pilihan yang tidak main-main.

Selama bertahun-tahun, pada bulan September hingga Oktober, warga Reroroja secara intensif membersihkan dan menyiapkan lahan-lahan tidur. “Ini pun tak susah urusnya. Cuma dengan tebas
dan bakar, lahan sudah siap dipakai di musim hujan. Cara semacam ini tak butuh banyak tenaga.
Dengan membakar, rumput baru kesukaan ternak bisa tumbuh saat datang hujan,” kata Cyrilinus.

Tapi apakah dari lahan-lahan tidur dan dengan pola tebas bakar tahunan ini cukup bagi warga Reroroja untuk keluar dari belitan “cukup untuk makan?” Kegelisahan malah tak kunjung berujung. Pola tebas-bakar justru berbuah petaka: bukit kian gundul, curah hujan semakin menurun, debit air pun ikutan turun. Di Kabupatan Sikka yang bercurah hujan rata-rata 173 mm di puncak musim penghujan dengan intensitas rata-rata 20an hari, pola tebas-bakar ala Reroroja ini tentu tak bisa mengubah keadaan.

Malah makin memperparah. Makin menggelisahkan warga Reroroja.Kegelisahan itulah sempat tercuat saat Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) tingkat Kecamatan Magepanda pada 2007 lalu. Dan tak satu pun bisa menyangka, bahwa api kesadaran warga pun cepat tersulut saat Musrenbang itu. “Saat itu masyarakat mulai sadar. Menggunduli hutan bisa datangkan masalah baru. Tebas-bakar bukanlah jalan terbaik. Sebaliknya, langkah yang mesti diambil warga adalah menghijaukan,” kisah Cyrilinus.

Tapi dengan apakah daerah perbukitan seluas 150 hektare itu dihijaukan? Apakah cukup dengan menghijaukan, perkara “cukup untuk makan” bisa menguap pergi dari tanah Reroroja?

 

Buah Jarak memiliki potensi yang
besar untuk pengembangan
biofeul.

Jatropha pembawa harapan

Bak ditawari barang bagus, gayung pun bersambut. Selepas Musrenbang, akhir September 2008 Asian People’s Exchange (APEX), sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jepang bekerja
sama dengan Yayasan Dian Desa pun melancarkan proyek “Environmentally Friendly Development by Multiple Use of  Jatropha curcas  in Indonesia“ (Jarak pagar/Damar) di Indonesia) di Reroroja.
Ujung-ujungnya? Tak cuma hijaunya bukit Reroroja, tapi juga keluarnya warga Reroroja dari belitan kemiskinan.

“Proyek yang didukung kementerian luar negeri Jepang ini bertujuan menciptakan model pengembangan ramah lingkungan dengan aneka pemanfaatan jarak pagar,” kata Petrus S.Swarnam, Pimpinan Yayasan Dian Desa Perwakilan NTT.   Awalnya, kisah Petrus, warga ragu-ragu. Menghijaukan areal seluas 150 hektare itu tentu tak jauh berbeda dengan proyek lamtoronisasi untuk pengembangan usaha pertanian tanah kering.

Proyek yang gencar di tahun 1980-an itu memang berbuah hasil. Selain erosi teratasi, Lamtoro pun bisa meningkatkan kesuburan tanah. Tapi perkara Lamtoro mengeluarkan warga dari belitan kemiskinan, rupanya perlu diskusi panjang lagi. “Awalnya kami ragu. Jangan-jangan proyek
Jarak pagar ini pun senasib Lamtoro. Ini mimpi siang bolong,” kisah Cyrilinus.

Tapi siapa bisa sangka, mimpi disiang bolong itu bisa mewujud di Reroroja? Dalam sosialisasi, APEX dan Yayasan Dian Desa selalu meyakinkan warga akan nilai ekonomis Jarak pagar. Tak cuma un-
tuk menghijaukan lahan kritis, tapi juga warga bisa memanfaatkannya untuk kepentingan  ekonomi. Ini luar biasa. Petrus menjelaskan, selain menghijaukan, potensi jarak pagar pun bisa difungsikan sebagai bahan bakar bio-diesel. Biji jarak, yang terdiri dari 60 % berat kernel (daging biji) dan 40 % berat kulit, mengandung minyak yang tidak main-main.

Melalui proses rendering (teknik pengepresan secara mekanis, bisa didapatkan rendemen minyak 25 %-35 %. Selanjutnya melalui proses pemurnian (purifkasi), bisa didapatkan minyak dengan kualitas terbaik. Proses purifkasi ini terdiri dari  de-guming  (pemisahan getah yang masih terkandung dalam minyak jarak),  netralisasi (pemisahan asam lemak bebas), pencucian yang diikuti dengan bleaching dan deodorisasi  (pemurnian minyak untuk menghasilkan zat-zat warna pada minyak dan menghilangkan bau pada minyak).

Minyak yang telah diolah dengan proses pemurnian bisa langsung dipakai sebagai bahan bakar atau bisa juga diolah dengan proses trans-esterifkasi untuk memproduksi bio-diesel. “Inilah nilai tambah Jarak pagar. Tak hanya untuk penghijauan. Tapi juga untuk bahan bakar, pengganti So-
lar 100 persen,” tegas Petrus. Di tengah merosotnya produksi minyak dalam negeri, ditambah naiknya harga minyak dunia, bukan tak mungkin minyak Jarak pagar jadi alternatif.

Kalau tidak ada alternatif semacam ini, krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) bisa berefek fatal.
Harga bahan pokok meningkat. Sejumlah usaha kecil dan menengah (UKM) bisa gulung tikar. Listrik tak bisa nyala maksimal. Pengendara, serupa Om Fendy dengan  Panther-nya, pun “ciut”
untuk keluar rumah.  Dan, pengangguran  pun bakal merajalela.

Menurut hasil penelitian Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E LIPI), akibat krisis BBM 2008, dalam rentang dua bulan saja, di Indonesia bertambah angka
pengangguran sebanyak 7.000 orang dan orang miskin baru bertambah 110.000 jiwa. Bisa dibayangkan, betapa stganannya perekonomian Indonesia kalau krisis terus menyeruak.  

Apa Jarak pagar terus dipandang sebelah mata? Di tengah krisis BBM seperti sekarang, usaha serupa punya warga Reroroja bukanlah hal remeh-temeh. Mereka perlu didukung. Mereka ti-
dak bisa sendiri (disendirikan). Tak bisa juga hanya bergantung pada APEX dan Yayasan Dian Desa.

“Kalau pemerintah Jepang bisa bantu masyarakat, kenapa pemerintah sendiri tidak bisa bantu,” tukas Cyrilinus. Pemerintah mesti juga punya tanggungan. Sekurang-kurangnya bisa mendanai
proyek Jarak pagar ini. Dengan pemerintah, hingga kini memang masyarakat Reroroja masih tetap
berharap-harap cemas. Kalau-kalau di hadapan pemerintahnya sendiri, mereka tak senasib dengan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi). Aprobi, yang mulai berkibar di tahun 2007 bernasib apes, gara-gara kurang didukung pemerintah. Meski sudah lima dari 22 anggota Aprobi memiliki pabrik pengolahan biofuel berkapasitas 1,1 juta ton per tahun, cuma 15% kapasitas dari
itu yang terpakai, karena permintaan dan bahan baku dalam negeri terbatas.

Pemerintah toh masih tetap memilih diam dengan usaha Aprobi.  Apakah ini juga akan terjadi dengan masyarakat Reroroja yang sudah mulai bertaruh dengan Jarak pagar di bukit tandus itu?

Berakhirnya masa gelap

“Ini namanya Desa Jarak Pagar,” kata Om Fendy dengan sedikit berguyon saat Panthernya mulai merangkak pelan-pelan di jalan tengah Desa Reroroja. “Kalau Gubernur Lebu Raya bisa juluki NTT Provinsi Jagung, Provinsi Ternak dan macam-macam, Reroroja pun punya julukan sendiri”, tambahnya.  Tapi di Reroroja bukan sekadar perkara nama atau julukan. Nama, ya, selalu mesti jadi tanda, nomen est omen.

Masyarakat Reroroja sudah membuktikan itu. Sejak 2008, bersama APEX dan Yayasan Dian Desa, mereka mengendus nasib, mengusir ketandusan hamparan bukit dan kemiskinan yang sekian lama membelit. “Ternyata dari Jarak pagar kami bisa hidup. Dari seember buah Jarak pagar saja, sudah lumayan hasilnya. Bisa dapat uang 2.500 rupiah per ember,” kata Kades Cyrilinus.

Dari hasil Riset dan Analisa Komersial Industri Minyak Jarak yang dipublikasikan oleh Majalah Damar dari PUSPHA (Pusat Teknologi Tepat Guna Jatropha) (Vol 1 tahun 2009), ditunjukkan bahwa tanaman Jarak pagar di NTT menghasilkan persentase minyak yang jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan yang ditanam di daerah lain. “Tanaman ini prospeknya luar biasa. Ini hal yang amat menjanjikan bagi peningkatan pendapatan petani di NTT,” kata Alexander F Rego, Project Manager Lokal PUSPHA.

Selain itu, pada 3-5 tahun awal, setiap tanaman Jarak pagar menghasilkan 4 kilogram biji per tahunnya. Di setiap hektare-nya, dengan jarak tanam 2 x 2 meter, dapat ditanam  2500 pohon.
Dengan kandungan minyak pada tiap kilogram Jarak sebesar 35 % maka akan dihasilkan 3500 kg atau 3850 liter crude oil  per hektarenya. Bila satu liter crude oil dihargai Rp.2500, maka omzet per
hektare dari tanaman Jarak pagar bisa mencapai Rp. 9,625 juta. Jumlah ini akan terus meningkat sejajar dengan peningkatan areal tanam Jarak pagar.    

Sungguh luar biasa! Bisa dibayangkan, betapa banyaknya untung yang diraup di Reroroja dengan 150 hektare areal tanam Jarak pagar itu. Betapa terangnya kehidupan masyarakat Reroroja dari bukit yang tak lagi tandus itu. “Kalau ini dari dulu, warga Reroroja bu-kan seperti sekarang,” imbuh Cyrilinus.

Tapi akhirnya ‘masa gelap’ itu pelanpelan terusir dengan Jarak pagar. “Hampir tiap hari warga di sini, termasuk anak-anak selalu cari buah Jarak untuk dijual. Buah Jarak kan masak setelah 5-6 bulan, jadi cepat panen,” imbuh Cyrilinus. Apalagi di Reroroja sudah ada Gather  ing Center (Pusat Pengumpulan Biji dari Pusat Teknologi Tepat Guna Jatropha) yang diresmikan 10 April 2010.

Gedung Gathering Center, yang terletak di kaki bukit Reroroja ini digunakan sebagai pos pengumpulan biji atau buah Jarak pagar. Tidak hanya dari Desa Reroroja, tetapi juga dari desa-desa lain yang ikut mengumpulkan biji, seperti dari Kabupaten Sikka, Kabupaten Ende
dan sekitarnya. Tak hanya itu. Pada tanggal 26 Agustus 2010 lalu, di Wairita, Desa Wairbleler, Kecamatan Waigete, Sikka, oleh Gubernur Lebu Raya diresmikan Jatropha Center yang berfungsi sebagai pusat pengolahan biji dan pemasaran produk minyak Jarak pagar. Jatropha Center ini
terdiri dari Gudang Biji seluas 288 meter persegi, Gudang Produksi dengan fasilitas ekstraksi dan pemurnian minyak seluas 128 meter persegi, tempat penyimpanan minyak seluas 192 meter persegi,tempat pengolahan limbah seluas 96 meter persegi dan laboratorium seluas 57
meter persegi.

Itu berarti petani Jarak pagar di Reroroja tidak susah-susah cari pasar. Tinggal saja petik, kumpul dan jual ke Gathering Center. Semudah menimbang Kemiri dan Kopra kepada para pengusaha lokal,menimbang buah Jarak pagar pun bak perkara membalik tangan. “Tapi menyadarkan warga soal ini memang butuh waktu. Mereka sudah lama terbiasa dengan komoditi lain. Jadi ketika di daerah lain kami menawarkan untuk budidaya Jarak pagar, warga masih susah terima,” kata Alex F Rego. 

Menyulut dian kehidupan

Menyadarkan warga soal serupa budidaya Jarak pagar ini memang gampang-gampang susah. Mentalitas “liat dulu hasilnya, baru buat” sudah lama mengidapi warga.  Padahal, menurut Petrus S.
Swarnam, budidaya Jarak tidak susah.“Memang Yayasan Dian Desa dan APEX memperkenalkan upaya perbanyak bibit melalui cara Kloning Ex Vitro, klon dari pohon unggul dan propagasi akar.

Tapi dengan menanam biji dan stek pun hasilnya lumayan.  Tapi itulah, orang-orang kita selalu mau liat bukti dulu,” kata Petrus.Karena itu, menurut Petrus, selain Proyek Jarak pagar di Reroroja dengan teknik biji dan Kloning Ex Vitro, Memorandum of Understanding (MoU) antara PT. PLN Wilayah NTT dan PUSPHA (APEX dan Yayasan Dian Desa) bisa jadi pemicu kesadaran warga. MoU yang ditandatangani pada 25 Agustus 2010 ini didasarkan atas hasil ujicoba pemakaian minyak Jarak pagar di subranting PLN di Kecamatan Magepanda pada bulan Juli 2010.

Karena hasil uji coba itu terbukti memadai, maka dalam MoU tersebut telah ditetapkan bahwa PLN bersedia membeli minyak Jarak pagar dari PUSPHA. “Ini yang harus warga sadari. Terbukti, PLN
sudah mau pakai minyak Jarak pagar, kenapa warga belum mau gencar dengan budidaya Jarak pagar,” kata Petrus.Menurut Petrus, 20 tahun kemudian krisis BBM akan berpuncak. Pasokan minyak dari hasil endapan fosil akan habis. “Kita membutuhkan sumber minyak alternatif.

Jarak pagar salah satunya”, katanya. Di Reroroja, alternatif itu sudah dimulai warga, APEX dan Yayasan Dian Desa. Mereka telah menyulap bukit tandus menjadi bukit Jarak pagar. Dengan upaya luar biasa itu, mereka tidak hanya menyulut api kesadaran kita, tetapi juga menyulut dian kehidupan. 

Charles Beraf,

Kolumnis di beberapa media nasional,
mantan Pemimpin Perusahaan Harian Flores Pos dan
pengajar di Universitas Flores. Kini tinggal di Boanio,
Mbay, Flores.

 

KONSULTASI
Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
[selengkapnya]


 











HEADLINE :


  

 

 

heading

K O B I S

Wani Piro

Point of View

MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
BUKAN SUPERMAN!

Closer With

PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

Finance

Disiplin Administratif:
Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

Talent Behavior

Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

EXPLORE

Merek-Merek Penanda Zaman Baru

Operations 

SEGITIGA EMAS

Marketing

BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

 
KONFLIK KEKUASAAN
 
SEDERHANA ITU...
SEMPURNA!

 
 
TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

BIZPEDIA

KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

BOOK INSIGHT

David and Goliath Malcolm Gladwell
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
Agustus - November 2012
 
Vol. 5 No. 2
 
 
 
 
 
 
April - Juli 2012
 
Vol. 5 No. 1
 
 
 
 
 
 
Desember 2011 - Maret 2012
 
Vol. 4 No. 3
 
 
 
 
 
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
 
Vol.4 No.2
 
 
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
April s/d Juli 2011
 
Vol. 4 No. 1
 
 
 
 
 
 

 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Desember 2010 s/d Maret 2011

VOL. III NO. III
 
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Agustus s/d November 2010
 
VOL. III NO. II
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
April s/d Juli  2010
 
VOL. III NO. I
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
 
VOL. II NO. III
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
 
VOL. II NO. II 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
APRIL S/D JULI 2009
 
VOL.II NO.I 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
 
VOL.I NO.III
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
 
VOL.I NO.II

Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

JURNAL INTEGRITAS

MAI 2008

VOL.I NO.I 

Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
 
 
 
 

buku 



Untuk melihat preview klik Cover ini!

Untuk berlangganan klik Di Sini!
 
//

Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
      Sangat Sesuai
      Cukup Sesuai
      Kurang Sesuai




Unique Visits Today: 14
Hits Today: 107
Total Unique Visits: 362586
Total Hits: 24361561
Guests Online: 1


   
   

  MENU HOME:




  MENU JOURNAL:




  MENU FORUM:


PMBS Publishing   
www.management-update.org | copyright © 2017