A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 28 May 2018
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME JOURNAL MAGAZINE BOOK EVENTS BLOG ADVERTISING ARCHIVE CONSULTATION DOWNLOAD CONTACT PHOTO    
   
 
  • Cyb3r001

    uploads/slide/sd.jpg

    Hacked By Cyb3r001 was here

 
 
Kumpulan Artikel Archive ( Forum Manajemen )

Community Brightness

LANTAN BENTALA

MEMBANGUN  BISNIS, MELAWAN ARUS

 

Bila majalah ini hadir dengan maksud menggali pengalaman komunitas yang memulai bisnisdengan hobi, maka Lantan Bentala bukanl komunitas yang tepat. sebab kami lahirsebuah kepedulian akan lingkungan.

Kelahiran Lantan Bentala, diawali dari keikutsertaan peneliti PT Insan Hitawasana Sejahtera (IHS), sebuah perusahaan penelitian sosial yang berlokasi di Jakarta, dalam mengikuti kompetisi
internasional Development Marketplace 2007 yang diselenggarakan oleh Bank Dunia.

Para peneliti bertekad bahwa apa pun keputusan Bank Dunia tentang proposal yang mereka kirim, mereka akan tetap melanjutkan idenya. Di bawah tema kompetisi “kemiskinan dan kesehatan”, proposal memuat kegiatan untuk membantu pemerintah DKI Jakarta dalam mengelola sampah melalui pemberdayaaan sebuah RW di kawasan Jakarta Selatan. Caranya adalah masyarakat diajak mengelola sampah mereka dan selanjutnya membuat bank sampah.

Warga yang membutuhkan, dapat menggunakan uang yang disimpan di bank sampah untuk biaya transport guna mendapatkan pelayanan kesehatan sebab dalam paket kartu sehat atau dana
kesehatan yang diberikan bagi orang miskin, tidak ada komponen transportasi ke fasilitas kesehatan padahal komponen itu cukup besar, bahkan terkadang lebih besar daripada biaya berobatnya.

Dan saat itu, ide bank sampah belum banyak dikenal orang. Menyadari akan keterbatasan sumber daya manusia IHS, para peneliti mengundang sejumlah dosen sosiologi UI yang pernah bekerja sama dengan IHS untuk bergabung dalam lembaga ini. Kemudian terbentuklah Yayasan Lantan
Bentala pada tanggal 1 Agustus 2007 yang terdiri dari 11 orang, gabungan antara peneliti di PT Insan Hitawasana Sejahtera dan dosen sosiologi UI. Jumlah ini meliputi pembina, pengawas, dan pengurus.

Setelah hasil kompetisi diumumkan pada bulan Februari 2007, ternyata tidak ada satu pun proposal dari Indonesia yang menang. Tetapi kami bersyukur bahwa saat itu proposal Lantan Bentala tidak diterima. Sebab, bila proposal kami diterima, kemungkinan besar kami tidak menjadi seperti sekarang dan kegiatan kami akan hanya berkutat pada satu RW sasaran saja.

Kami tidak menyangka bahwa proses memilih nama lembaga butuh waktu berbulan-bulan. Kami sepakat untuk memilih nama yang mencerminkan kepedulian kami terhadap lingkungan tetapi tetap terdengar unik. Ada yang mengusulkan nama buah langka, rumput, akar,atau lainnya yang terkait dengan tumbuh-tumbuhan. Semua usul itu dirasakan kurang pas, karena kami tidak hanya peduli kepada tumbuh-tumbuhan melainkan kepada bumi tempat semua mahluk hidup tinggal.

Setelah membuka  Thesaurus  Bahasa Indonesia, ditemukan  lah nama Lantan Bentala. Lantan berasal dari bahasa Minang kuno yang berarti memelihara, sedangkan Bentala berasal dari bahasa Melayu kuno yang berarti bumi. Jadi, keberadaan Lantan Bentala adalah untuk mengajak dan mengingatkan kita semua agar terus memelihara bumi. Ajakan ini jelas tidak membatasi keberadaan mereka yang diajak sehingga Lantan Bentala dapat mengajak siapa saja yang tergerak untuk meresponsnya termasuk mereka yang tinggal di luar negeri.

Kegiatan pertama lembaga ini adalah menerbitkan  newsletter  Lantan Bentala yang saat itu disebut sebagai newsletter gerakan 3R IHS dan Sosio UI. Setelah kami mempunyai nama Lantan
Bentala, nama  newsletter  diubah sesuai dengan nama lembaga. Kegiatan ini menjadi kegiatan utama lembaga kami.Setelah pertama beredar tanggal 19 Maret 2007, newsletter hadir setiap dua minggu di email pembaca dalam format PDF. Newslettermembahas berbagai isu yang terkait dengan lingkungan.

Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman kepada pembaca akan berbagai hal yang terkait dengan lingkungan. Hal yang positif dapat diikuti sedangkan yang negatif dapat dihindari agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Sebagai lembaga yang peduli lingkungan,  newsletter
tidak dicetak melainkan diedarkan secara cuma-cuma melalui milis Lantan Bentala.

Sejak edisi 113,  newsletter juga dimuat di Facebook Lantan Bentala dalam format JPEG. Dengan format elektronik, newsletter dapat diakses oleh mereka yang tinggal jauh dari ibukota bahkan di luar Indonesia.Newsletter Lantan Bentala yang kini memasuki tahun kelima, sudah memberikan inspirasi bagi teman-teman di daerah seperti Abepura (Papua) untuk membuat  newsletter serupa bagi daerah mereka.

Keseriusan kami mengelola  newsletter membuat kami diajak untuk berpartisipasi dalam Appropedia, sebuah situs untuk isu keberlanjutan, pengentasan kemiskinan, dan pembangunan internasional. Dan sejak pertengahan tahun 2011, ini Lantan Bentala sudah berpartisipasi dalam Appropedia.

Setelah tiga tahun  newsletter  beredar, akhirnya kami mengurus dan mendapatkan ISSN (International Standard Serial Number) untuk newsletter Lantan Bentala pada tanggal 9 Maret 2010.ISSN adalah sebuah nomor unik yang digunakan untuk identifkasi publikasi berkala media cetak atau elektronik. Untuk  buku, namanya ISBN.Nomor ini menjadi tanda pengenal untuk setiap terbitan berkala yang berlaku global.

ISSN tidak diberikan kepada sembarang publikasi yang tidak jelas penerbitnya.Awalnya kami tidak pernah berpikir untuk mendapatkan ISSN, tetapi berdasarkan pengalaman banyak pihak yang mengakui sebuah produk yang bukan miliknya, kami menyadari pentingnya ISSN. Setidaknya
dengan ISSN ini, kami ingin menunjukkan bahwa newsletter Lantan Bentala adalah milik kami, kami ada dan akan terus ada untuk tetap menyuarakan kepedulian kami terhadap bumi.

Selain itu kami juga mengikuti kegiatan dan pameran yang diselenggarakan oleh berbagai pihak baik di lingkungan kampus UI, komunitas lingkungan (SYLFF, WWF, Kum-Kum, Garuda Youth Community), maupun pihak lain ICE (Indonesian Consumunity Expo) oleh Prasetya Mulya Business
School dan Jak Japan Matsuri oleh Japan Embassy. Melalui keikutsertaan kami dalam berbagai  event, kami mulai dikenal dan berjejaring dengan sesama komunitas peduli lingkungan.

Saat ini kami sudah berjejaring dengan antara lain komunitas green community, diet kresek, komunitas peduli Ciliwung dan terlibat dalam kegiatan membersihkan sungai Ciliwung. Kami bermimpi bersama untuk menjadikan sungai Ciliwung bersih kembali dari limbah yang mengotorinya. Kami yakin bahwa mimpi ini mungkin terwujud bila dikerjakan bersama secara serius oleh masyarakat di pinggir sungai Ciliwung, komunitas peduli Ciliwung, LSM lingkungan, maupun unsur pemerintah.

Perintisan Usaha

Rupanya teman-teman pembina, pengawas dan pengurus Lantan Bentala tidak bisa tinggal diam ketika melihat lingkungan sekitar semakin kotor, tidak teratur dan rusak. Sampah plastik misalnya,
tidak hanya bertambah di kota besar yang berpenduduk padat, tetapi juga sudah terlihat di daerah perdesaan. Didorong oleh kekhawatiran bahwa kehidupan akan terancam oleh gelombang sampah
dan bencana alam, kami terus berupaya menggugah kesadaran dan perilaku masyarakat agar secara konsisten menerapkan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replant).

Banyaknya kegiatan yang ingin kami lakukan tentunya membutuhkan dukungan dana dan fasilitas. Biasanya kami secara sukarela merogoh kocek sendiri, baik untuk transport maupun membeli berbagai perlengkapan yang diperlukan untuk pelatihan dan sosialisasi. Tentu saja dana kontribusi sukarela tidak cukup besar untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang ingin dilakukan.

Sampai saat ini, kami memang belum menggalang dana dari simpatisan. Mungkin kami agak idealis dengan berupaya mengumpulkan dana melalui penjualan produk dan kegiatan; bukan
melalui iuran anggota atau minta sumbangan kepada anggota komunitas. Awalnya, kami berpikir untuk memproduksi barang agar lebih menyebarluaskan ide 4R dengan lebih menarik.

Dari kenalan sesama anggota dan simpatisan komunitas, dibuatlah berbagai disain gambar dan tulisan yang berisi kampanye tentang pelestarian alam, hemat energi dan kebersihan lingkungan. Ide tersebut diwujudkan dalam produk pin, kaos T-Shirt dan sapu tangan handuk. Produksi dilakukan namun masih dalam jumlah yang sangat terbatas, tidak mengutamakan proft tetapi lebih kepada penyebarluasan ide untuk menggugah kesadaran orang.

Ide cemerlang dan kreativitas memang harus dikembangkan demi keberhasilan kampanye lingkungan dan terwujudnya Indonesia bersih. Tetapi produk tidak dijual dengan strategi pemasaran khusus seperti memanfaatkan jualan online, tetapi hanya dipromosikan dalam setiap pameran yang diikuti Lantan Bentala.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi kelancaran usaha pencarian dana dan kelangsungan kegiatan komunitas Lantan Bentala. Pertama, pertanyaan yang paling penting adalah apakah yakin
bahwa Lantan Bentala akan menjalankan sebuah bisnis? Apakah tidak bertentangan dengan idealisme kepedulian terhadap sesama? Tidak jarang hal ini juga muncul dalam debat seperti “apakah kami layak menempatkan logo atau nama Lantan Bentala dalam produk merchandise yang akan kami jual?

” Pertentangan seperti ini sering terjadi di antara pembina, pengawas, dan pengurus sehingga membuat kami selalu berhati-hati menetapkan langkah dalam mengembangkan ide bisnis yang sejalan dengan nilai yang kami pegang bersama.

Kedua, bila kami memilih bisnis, bisnis yang seperti apa? Ide dan kreativitas yang bagaimana? Pelatihan dengan menarik biaya? Bagaimana agar pelatihan bisa menjadi produk yang bisa dijual?
Siapa pasar kami? Pernah juga terbersit di pikiran salah satu pengurus Lantan Bentala untuk menjual produk  recycle?

Tetapi tampaknya dari segi modal dan teknologi kurang dikuasai oleh teman-teman di komunitas. Lagipula, sudah banyak komunitas yang bergerak di pembuatan dan penjualan produk  recycle
yang baik sehingga agak sulit bagi kami untuk memasuki bidang itu. Sementara itu, kompetensi utama Lantan Bentala adalah di bidang pendidikan dan pengembangan kreativitas ide yang menarik untuk berkampanye.

Bagaimana dengan penjualan  merchandise? Sampai saat ini Lantan Bentala tetap menjaga keseimbangan di antara kedua hal di atas. Setiap kesempatan untuk bekerjasama dengan pihak lain yang memiliki ide sejalan akan dengan cepat disambut. Pelatihan inkubator bisnis yang diberikan oleh Prasetya Mulya menjadi salah satu motivator kami untuk berupaya lebih keras dan semangat lagi.

Pelatihan ini juga telah mendorong kami menghasilkan Papabum sebagai produk pendidikan lingkungan untuk anak-anak yang akan terus kami kembangkan. Produk ini kami pilih sebab menurut pengamatan kami program pendidikan lingkungan seperti ini masih belum banyak ditawarkan pihak lain.

Keikutsertaan Lantan Bentala dalam kegiatan Jak Japan Matsuri 2011 dengan membuka stand Boenthelan, membuat kami memiliki kesempatan untuk melakukan kampanye gaya hidup cinta lingkungan dalam bentuk yang lain. Sehelai kain dengan ukuran bujursangkar untuk membungkus sesuatu kalau sudah jadi bungkusan disebut Boenthelan di Jawa.

Sedangkan di kalangan orang Banjarmasih menyebutnya Poendhoetan dan di Jepang dinamakan Furoshiki. Boenthelan atau Poendhoetan merupakan produk “asimilasi” kalau boleh dikatakan demikian. Mengapa dikatakan asimilasi? Produk ini merupakan gabungan antara budaya tradisional Indonesia dan Jepang yang disebut dengan Furoshiki (seni melipat kain).

Boenthelan dapat digunakan untuk melakukan kampanye sosial tentang gaya hidup yang ramah lingkungan sebab ini adalah sebuah cara untuk mengurangi penggunaan kantong plastik dan sekaligus juga mengurangi sampah kantong plastik yang sulit terurai.

Berbeda dengan produk tas yang dapat digunakan sebagai wadah untuk membawa barang, fungsi boenthelan bisa macam-macam. Banyak yang memanfaatkan sebagai tas, ada juga yang menggunakannya sebagai taplak meja bila dibutuhkan, membungkus badan bila kedinginan atau menjadi kap lampu. Dengan estetika yang tinggi, diharapkan benda ini akan mudah diterima oleh masyarakat. Dalam kehidupan modern saat ini di mana unsur praktis dan efsien lebih diutamakan, individu seringkali melupakan tradisi yang sebetulnya ramah lingkungan.

Dengan contoh kegiatan Papabum dan Boenthelan, kami bisa mengembangkan ide kreatif yang menyenangkan. Papabum menantang kami untuk mengembangkan cerita yang mengubah
kesadaran dan perilaku memelihara lingkungan. Berbagai produk merchandise juga dapat terus dikembangkan sebagai pendukung skenario cerita.

Sedangkan produk boenthelan menantang kami untuk mengekplorasi disain kain dari berbagai daerah agar dijadikan alat membawa barang menggantikan tas plastik/kresek atau sebagai peng-
ganti kertas kado. Dari kegiatan inilah kami akan terus mengembangkan minat terhadap ide kreatif sambil mengkampanyekan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Jatuh Bangun Bisnis Komunitas

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bisnis yang dibangun oleh Lantan Bentala tidak murni berorientasi pada proft dalam bentuk materi. Lebih dalam dari itu defnisi proft bagi komunitas
Lantan Bentala adalah seberapa besar kegiatan-kegiatan bisnis yang dilakukan dapat juga mendorong perubahan perilaku masyarakat.

Contohnya ketika kami menjual T-shirt, selain untuk menggalang dana tetapi juga untuk berkampanye tentang gaya hidup mencintai lingkungan. Papabum sebagai program  edutaiment
untuk anak-anak juga ditujukan untuk membuat anak-anak mengenal dan mencintai lingkungan dengan cara yang berbeda yang selama ini diajarkan di sekolah formal.

Sedangkan penjualan Boenthelan dimaksudkan untuk menciptakan suatu gaya hidup baru yang lebih mencintai lingkungan dengan mengurangi penggunaan plastik atau kresek untuk membungkus atau membawa barang. Boleh disebut bahwa bisnis yang kami bangun bukan mengikuti pasar tapi justru melawan arus pasar yang sudah ada atau mencari celah dalam pasar
sehingga ide-ide yang kami ajukan dapat diterima di pasar. Memang tantangan yang kami hadapi adalah bagaimana produk yang kami jual dapat diminati orang banyak yang juga sedikit banyak
menunjukkan kepedulian atau keberpihakan pembeli terhadap gaya hidup cinta lingkungan yang kami tawarkan.

Pengalaman kami selama ini menunjukkan bahwa orang-orang yang berminat untuk membeli produk yang kami jual sedikit banyak memiliki kepedulian terhadap nilai cinta lingkungan. Masalahnya belum banyak orang Indonesia mengetahui gaya hidup mencintai lingkungan sehingga produk-produk yang kami tawarkan pun masih diminati oleh kelompok tertentu di masyarakat.

Tantangan lain yang dihadapi adalah gaya hidup yang ramah lingkungan masih tergolong mahal di Indonesia. Belum ada komitmen penuh dari seluruh komponen masyarakat termasuk pemerintah untuk memposisikan produk-produk ramah lingkungan agar bisa dijangkau semua kalangan. Hal ini juga berpengaruh pada usaha Lantan Bentala memasarkan ide-ide/produk-produk ramah lingkungan ke masyarakat.

Misalnya saja boenthelan sebagai pengganti kresek masih dianggap lebih “mahal dari sisi uang yang harus dikeluarkan” dibandingkan kresek oleh banyak kalangan. Atau ketika kami mencoba menawarkan pengurangan kantong plastik kepada industri retail seperti toko atau supermarket, alasannya masih berkutat pada belum ada alternatif yang lebih “murah”. Sehingga usaha penyadaran tentang isu lingkungan harus kami utamakan.

Tetapi di pihak lain, produk boenthelan yang dianggap mahal dapat menjadi ekslusif bagi kelompok kelas menengah atas. Dan biasanya sesuatu yang ekslusif justru akan dicari orang. Dan bila semakin banyak kelas menengah atas banyak yang tertarik pada produk boenthelan, gaya hidup ini akan menular ke kelas bawah yang jumlahnya jauh lebih banyak dari kelas menengah atas.

 

Lantan Bentala bermimpi menjadikan sungai Ciliwung
bersih kembali dari limbah yang mengotorinya. 

Kontribusi Pada Masyarakat

Sebenarnya apa yang ingin Lantan Bentala lakukan sesuai dengan visi dan misinya adalah menjadi agen yang dapat mengubah gaya hidup masyarakat menjadi gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Berbeda dengan lembaga lain yang melakukan pendampingan masyarakat, kami
menyadari keterbatasan kami dalam hal tersebut karena latar belakang kami sebagai peneliti dan pengajar. Dengan kemampuan mengajar, kami mengajarkan murid Play Group, TK, dan SD untuk menanam dan memeliharanya.

Sekolah yang dipilih adalah sekolah yang kami kenal secara pribadi dengan pemilik atau kepala sekolahnya. Kami ingin mendidik generasi muda tentang pentingnya pohon bagi kehidupan dan
memelihara adalah sebuah proses. Berdasarkan pengalaman mengajar tersebut, pada tahun 2011 tiga pengajar Sosiologi UI yang menjadi pembina, pengawas, dan pengurus Lantan Bentala mendapatkan hibah pengabdian masyarakat dari UI untuk menyusun modul 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replant) bagi TK dan SD. Selanjutnya modul itu dapat diterapkan di berbagai sekolah yang ingin mengajarkan nilai-nilai 4R kepada murid-muridnya.

Kami juga melakukan sosialisasi gaya hidup cinta lingkunganmelalui pembagian kantong Trash and Carryyang terbuat dari kain sebagai tempat sampah sementara secara cuma-cuma kepada
penumpang kendaraan umum. Program ini dibuat berdasarkan pengamatan seorang pengurus yang menemukan banyak sekali sampah di dalam kendaraan umum seperti angkot, metromini maupun bis ber AC. Tetapi karena belum ada pihak bisnis yang bersedia membantu memproduksi kantong ini, saat ini kami menghentikan memproduksinya.

Setelah kami mengevaluasi, kami memilih untuk menjual produk-produk yang mengkampanyekan gaya hidup ramah lingkungan. Kami berharap masyarakat yang membeli produk kami adalah juga agen perubahan di lingkungannya masing-masing. Mengapa mereka perlu membeli? Jawabannya adalah ketika mereka membeli, akanada komitmen dan ada rasa kepemilikan pada pro-
duk tersebut.

Rasa kepemilikan ini yang ingin kami tumbuhkan, sehingga mereka juga dapat menularkannya kepada orang lain. Alasan lainnya adalah agar ide-ide kami bisa diakses oleh orang banyak mulai
dari mereka yang tidak tahu tentang ide yang mendasari pembuatan produk kami tapi menyukainya sampai mereka yang paham tentang idenya dan menyukainya.Kami percaya bahwa untuk mengubah masyarakat tidak cukup melalui kegiatan volunterisme, philantrophy atau menjadi aktivis, tetapi diperlukan suatu usaha yang lebih dari itu yaitu melalui  social entreprenurship.

Diperlukan strategi-strategi inovatif untuk membuat masyarakat mengenal dan memahami nilai-nilai cinta lingkungan, dan kemudian harapannya masyarakat itu sendiri pula yang menjadi
agen perubahan di lingkungannya masing-masing. Dengan mereka menggunakan atau mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan Lantan-Bentala mereka akan menjadi kader atau Papabum (pasukan pemelihara bumi) dan bisa menceritakan pengalamannya kepada lingkungan sekitar mereka, dan seterusnya.

Kontribusi lainnya ada membangun jaringan kontrol sosial. Salah satu masalah lingkungan yang ada terutama di kota besar adalah tidak adanya kontrol sosial dari masyarakat padahal kontrol
sosial penting untuk menjaga agar perilaku masyarakat sesuai dengan norma yang ada. Sebagai peneliti dan atau dosen sosiologi, kami mengamati bahwa pengamatan kami akan hasil dari sebuah perilaku dapat kami tuangkan dalam bentuk foto yang lebih dapat berbicara.

Untuk itu kami membuat sebuah kegiatan yang kami sebut “Motret Bareng Lantan Bentala”. Salah satu sasarannya adalah lingkungan TransJakarta. Buku berisi foto lingkungan TransJakarta kami
berikan kepada Gubernur DKI sebagai hadiah ulang tahun kota Jakarta pada tahun 2010, kepala dinas kebersihan DKI Jakarta, dan pihak TransJakarta dengan harapan ada perbaikan lingkungan di sekitar bus way.

Contoh control sosial yang sederhana yang sederhana adalah membuang sampah sembarangan. Tidak adanya pihak yang menegur mereka yang sembarangan membuang sampah, maka sampah berserakan di mana-mana termasuk di kendaraan umum seperti mikrolet, bis AC, bahkan di pesawat terbang sering terlihat bungkus permen diselipkan di tempat duduk atau berceceran di lantai pesawat.

Berdasarkan pengamatan terhadap hal tersebut, Lantan Bentala mengajak sejumlah mahasiswa UI yang bermaksud membuat gerakan peduli lingkungan di tingkat UI dan menggandeng berbagai komunitas atau lembaga yang sudah ada dan peduli kepada lingkungan, untuk menumbuhkan kembali kontrol sosial tentang membuang sampah sembarangan.Setiap mahasiswa diminta untuk
menegur anggota keluarga dan teman-teman mereka, bila mereka masih sungkan untuk menegur orang lain yang tidak mereka kenal, bila terlihat mereka membuang sampah sembarangan.

Dengan cara seperti inilah nilai-nilai tentang tidak buang sampah sembarangan akan tumbuh kembali. Mungkin akan memakan waktu panjang, tetapi kami yakin akan tertanam lebih dalam dan berakar. Semoga.Nah, jika Anda memang peduli dengan persoalan lingkungan, mengapa tidak bergabung bersama kami? Jadilah Papabum yakni mereka yang mau dan bersedia “memelihara bumi”. Kalau bukan kita yang men-jaga, siapa lagi?  

 

 

 

 

KONSULTASI
Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
[selengkapnya]


 











HEADLINE :


  

 

 

heading

K O B I S

Wani Piro

Point of View

MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
BUKAN SUPERMAN!

Closer With

PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

Finance

Disiplin Administratif:
Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

Talent Behavior

Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

EXPLORE

Merek-Merek Penanda Zaman Baru

Operations 

SEGITIGA EMAS

Marketing

BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

 
KONFLIK KEKUASAAN
 
SEDERHANA ITU...
SEMPURNA!

 
 
TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

BIZPEDIA

KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

BOOK INSIGHT

David and Goliath Malcolm Gladwell
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
Agustus - November 2012
 
Vol. 5 No. 2
 
 
 
 
 
 
April - Juli 2012
 
Vol. 5 No. 1
 
 
 
 
 
 
Desember 2011 - Maret 2012
 
Vol. 4 No. 3
 
 
 
 
 
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
 
Vol.4 No.2
 
 
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
April s/d Juli 2011
 
Vol. 4 No. 1
 
 
 
 
 
 

 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Desember 2010 s/d Maret 2011

VOL. III NO. III
 
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Agustus s/d November 2010
 
VOL. III NO. II
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
April s/d Juli  2010
 
VOL. III NO. I
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
 
VOL. II NO. III
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
 
VOL. II NO. II 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
APRIL S/D JULI 2009
 
VOL.II NO.I 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
 
VOL.I NO.III
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
 
VOL.I NO.II

Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

JURNAL INTEGRITAS

MAI 2008

VOL.I NO.I 

Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
 
 
 
 

buku 



Untuk melihat preview klik Cover ini!

Untuk berlangganan klik Di Sini!
 
//

Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
      Sangat Sesuai
      Cukup Sesuai
      Kurang Sesuai




Unique Visits Today: 449
Hits Today: 34097
Total Unique Visits: 428599
Total Hits: 27070938
Guests Online: 13


   
   

  MENU HOME:




  MENU JOURNAL:




  MENU FORUM:


PMBS Publishing   
www.management-update.org | copyright © 2018